Persalinan Kala II (Tahap Kelahiran Bayi)
1. Pengertian Kala II
Kala II adalah fase persalinan mulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir.
Ciri utama:
-
Pembukaan serviks sudah lengkap 10 cm
-
Ibu merasakan dorongan kuat untuk mengejan
-
Kepala bayi sudah turun ke jalan lahir
Dalam ilmu kebidanan, ini disebut fase ekspulsi janin.
2. Tanda Persalinan Kala II
Tanda subjektif (dirasakan ibu)
-
Ibu merasa ingin BAB / mengejan
-
Tekanan kuat pada anus
-
Rasa ingin mendorong bayi keluar
-
Kontraksi semakin kuat dan sering
Tanda objektif (dilihat bidan)
-
Vulva membuka
-
Perineum menonjol
-
Anus membuka
-
Kepala bayi tampak di vulva (crowning)
Crowning = kepala bayi terlihat dan tidak masuk kembali saat kontraksi berhenti.
3. Durasi Kala II
Normalnya:
Ibu pertama (primigravida)
➡️ 1 – 2 jam
Ibu yang pernah melahirkan (multigravida)
➡️ 30 menit – 1 jam
Jika terlalu lama bisa terjadi persalinan lama (prolonged labor).
4. Mekanisme Persalinan Normal
Bayi tidak keluar langsung lurus, tetapi melakukan serangkaian gerakan adaptasi.
Ini disebut mekanisme persalinan.
Ada 7 tahap utama:
1️⃣ Engagement
Kepala bayi masuk ke panggul.
Biasanya terjadi pada:
-
usia kehamilan 36 minggu
-
atau saat persalinan
2️⃣ Descent (penurunan)
Kepala bayi turun semakin ke bawah karena:
-
kontraksi rahim
-
tekanan cairan ketuban
-
dorongan mengejan ibu
3️⃣ Flexion
Kepala bayi menunduk ke dada.
Tujuannya:
Supaya diameter kepala yang keluar lebih kecil.
Diameter kepala bayi:
Occipitobregmatic = sekitar 9,5 cm
4️⃣ Internal Rotation
Kepala bayi berputar supaya menyesuaikan bentuk panggul ibu.
Biasanya kepala menghadap:
➡️ belakang ibu (oksiput anterior)
Ini posisi paling aman.
5️⃣ Extension
Saat mencapai vulva:
Kepala bayi mendongak ke atas.
Yang keluar bertahap:
-
Dahi
-
Hidung
-
Mulut
-
Dagu
6️⃣ External Rotation (Restitusi)
Setelah kepala keluar:
Kepala bayi berputar kembali mengikuti posisi bahu.
7️⃣ Expulsion
Bahu dan seluruh tubuh bayi keluar.
Urutan:
-
Bahu depan
-
Bahu belakang
-
Badan
-
Kaki
Bayi lahir.
5. Tugas Bidan Saat Kala II
Bidan harus:
1. Memantau kondisi ibu
-
tekanan darah
-
nadi
-
kontraksi
-
kelelahan
2. Memantau kondisi bayi
Dengan mendengar DJJ (denyut jantung janin).
Normal:
120 – 160 kali per menit.
Jika:
<120 atau >160
➡️ tanda gawat janin
3. Membimbing ibu mengejan
Teknik mengejan benar:
-
tarik napas dalam
-
tahan napas
-
dorong seperti BAB
Dilakukan saat kontraksi.
4. Melindungi perineum
Agar tidak robek.
Teknik:
Hands on technique
-
satu tangan menahan kepala bayi
-
satu tangan melindungi perineum
5. Menolong kelahiran bayi
Urutannya:
1️⃣ Kepala lahir
2️⃣ Cek lilitan tali pusat
Jika ada:
➡️ dilepas atau dijepit
3️⃣ Lahirkan bahu
4️⃣ Lahirkan tubuh bayi
6. Penanganan Bayi Setelah Lahir
Setelah bayi lahir, bidan harus:
1. Mengeringkan bayi
Untuk mencegah hipotermia.
2. Menilai kondisi bayi
Dengan APGAR score.
Dinilai pada menit 1 dan 5.
Parameter:
-
warna kulit
-
denyut jantung
-
refleks
-
tonus otot
-
pernapasan
Skor maksimal = 10
3. Kontak kulit ibu dan bayi
Disebut:
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Manfaat:
-
meningkatkan bonding
-
merangsang ASI
-
menjaga suhu bayi
7. Komplikasi Kala II
Bidan harus waspada terhadap:
1️⃣ Distosia bahu
Bahu bayi tersangkut.
Ini kegawatdaruratan obstetri.
2️⃣ Perineum robek
Derajat robekan:
Derajat 1
kulit
Derajat 2
otot
Derajat 3
sampai sfingter anus
Derajat 4
sampai rektum
3️⃣ Gawat janin
Tanda:
-
DJJ <120
-
DJJ >160
-
mekonium pada air ketuban
8. Tanda Bayi Segera Lahir
Biasanya terlihat:
-
kepala sudah terlihat
-
perineum sangat menonjol
-
ibu tidak bisa menahan mengejan
Ini disebut fase crowning.
9. Posisi Melahirkan
Bidan bisa membantu ibu melahirkan dengan berbagai posisi:
-
Lithotomy (terlentang)
-
Setengah duduk
-
Squatting (jongkok)
-
Berbaring miring
-
Knee chest
Posisi jongkok sering mempercepat kelahiran.
No comments:
Post a Comment