GIZI - Astriana, S.ST.M.Kes
A. PENGERTIAN ZAT GIZI
Istilah gizi berasal dari bahasa Arab giza yang berarti zat makanan, dalam
bahasa Inggris dikenal dengan istilah nutrition yang berarti bahan makanan
atau zat gizi atau sering diartikan sebagai ilmu gizi. Pengertian lebih luas
bahwa gizi diartikan sebagai proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, penyerapan,
transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat gizi untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ tubuh
serta untuk menghasilkan tenaga. (Almatsier, 2010)
Zat gizi adalah senyawa dari makanan yang digunakan tubuh untuk
fungsi fisiologis normal. Definisi yang luas ini mencakup senyawa yang
digunakan langsung untuk produksi energi yang membantu dalam
metabolisme (koenzim), untuk membangun struktur tubuh atau untuk
membantu dalam sel tertentu. Suatu zat gizi sangat penting untuk organisme
dalam kelangsungan siklus hidup dan terlibat dalam fungsi organisme
(Husain, Z, 2021). Menurut, Husain, Z tahun 2021, Dalam pengelompokannya, zat gizi
dibagi berdasarkan fungsi dan jumlah yang dibutuhkan.
Berdasarkan
fungsinya zat gizi digolongkan kedalam “Triguna Makanan” yaitu sebagai
berikut:
1. Sumber zat tenaga, yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta tepungtepungan, seperti beras, jagung, ubi-ubian, kentang, sagu, roti, dan
makanan yang mengandung sumber zat tenaga menunjang aktivitas
sehari-hari.
2. Sumber zat pengatur, yaitu sayuran dan buah-buahan. Zat pengatur
mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berperan untuk
melancarkan bekerjanya fungsi organ tubuh.
3. Sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani, dan
hasil olahannya. Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari
nabati adalah kacang-kacangan, tahu dan tempe. Sedangkan makanan
sumber zat pembangun yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam,
daging, susu, serta hasil olahannya. Zat pembangun berperan sangat
penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
68 | Gizi
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, zat gizi terbagi ke dalam dua
golongan, yaitu sebagai berikut:
1. Zat Gizi Makro adalah makanan utama yang membina tubuh dan
memberi energi. Zat gizi makro dibutuhkan dalam jumlah besar dengan
satuan gram (g). Zat gizi makro terdiri atas karbohidrat, lemak, dan
protein
2. Zat Gizi Mikro adalah komponen yang diperlukan agar zat gizi makro
dapat berfungsi dengan baik. Zat gizi mikro dibutuhkan dalam jumlah
kecil atau sedikit, tetapi ada di dalam makanan. Zat gizi mikro terdiri atas
mineral dan vitamin. Zat gizi mikro menggunakan satuan miligram (mg)
untuk sebagian besar mineral dan vitamin.
B. KLASIFIKASI ZAT GIZI
Dalam ilmu gizi dikenal lima macam zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak,
protein, mineral dan vitamin.
1. Karbohidrat
Karbobidrat merupakan zat gizi makro yang meliputi gula, pati dan
serat. Gula dan pati memasok energi berupa glukosa, yaitu sumber energi
utama untuk sel-sel darah merah, otak, sistem saraf pusat, plasenta dan
janin. Glukosa dapat pula disimpan dalam bentuk glikogen dalam hati
dan otot, atau diubah menjadi lemak tubuh ketika energi dalam tubuh
berlebih. Gula tergolong jenis karbohidrat yang cepat dicerna dan
diserap dalam aliran darah sehingga dapat langsung digunakan tubuh
sebagai energi. Pati termasuk jenis karbohidrat yang lama dicerna dan
diserap darah, karena perlu dipecah dulu oleh enzim pencernaan menjadi
gula, sebelum dapat digunakan tubuh sebagai energi, tetapi ada beberapa
jenis pati yang tahan terhadap enzim pencernaan.
Sementara serat adalah jenis karbobidrat yang tidak dapat dicerna,
sebab tidak dapat dipecah oleh enzim pencernaan, sehingga relatif utuh
ketika melewati usus besar. Serat membantu memberikan perasaan
kenyang, penting untuk mendorong buang air besar yang sehat, dan
menurunkan risiko penyakit jantung koroner.
Gula dapat ditemukan secara alami pada buah, susu dan hasil
olahnya, serta dapat dijumpai dalam bentuk ditambahkan pada makanan.
Gizi | 69
Pati secara alami terdapat pada beras dan hasil olahannya (bihun, tepung
beras), jagung, gandum dan hasil olahannya (terigu, roti, mie), pasta,
sagu, umbi-umbian (ubi, singkong, kentang), sayuran, kacang kering.
Sementara serat secara alami banyak terdapat pada sereal utuh, umbiumbian, kacang-kacangan, sayuran, buah (Yudianti,2021).
2. Protein
Protein merupakan komponen struktur utama seluruh sel tubuh
dan berfungsi sebagai enzim, hormon, dan molekul-molekul penting lain.
Protein dikenal sebagai zat gizi yang unik sebab menyediakan asamasam amino esensial untuk membangun sel-sel tubuh maupun sumber
energi. Karena menyediakan "bahan baku" untuk membangun tubuh,
protein disebut zat pembangun. Protein terbentuk dari asam-asam amino
dan bila asam- asam amino tersebut tidak berada dalam keseimbangan
yang tepat, kemampuan tubuh untuk menggunakan protein akan
terpengaruh. Jika asam-asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis
protein terbatas, tubuh dapat memecah protein tubuh untuk memperoleh
asam-asam amino yang dibutuhkan. Kekurangan protein memengaruhi
seluruh organ dan terutama selama tumbuh kembang sehingga asupan
protein kualitas tinggi yang memadai untuk kesehatan.
Kualitas protein sangat bervariasi dan tergantung pada komposisi
asam amino protein dan daya cerna (digestibility). Protein hewani yang
diperoleh dari telur, ikan, daging, daging unggas dan susu, pada
umumnya adalah protein berkualitas tinggi. Adapun protein nabati yang
diperoleh dari biji-bijian dan kacang-kacangan, pada umumnya
merupakan protein berkualitas lebih rendah, kecuali kedelai dan hasil
olahnya (tempe, tahu). Makanan yang tinggi daya cerna proteinnya
(>95%) ialah telur, daging sapi (98%), susu sapi dan kedelai (95%).
Narnun, bila kacang-kacangan dan padi- padian dikonsumsi secara
kombinasi, protein nabati dapat membentuk protein lebih lengkap.
3. Lemak
Lemak merupakan zat gizi makro, yang mencakup asam lemak dan
trigliserida. Lemak adalah zat gizi yang padat energi (9 kkal per gram)
sehingga lemak penting untuk menjaga keseimbangan energi dan berat
badan. Lemak menyediakan medium untuk penyerapan vitamin-vitamin
larut lemak (vitamin A, D, E, K). Di dalam makanan, lemak berfungsi
70 | Gizi
sebagai pelezat makanan sehingga oran g cenderung lebih menyukai
makanan berlemak. Tubuh manusia tidak dapat membuat asam lemak
omega-6 dan omega-3 sehingga asam lemak ini adalah zat yang esensial.
4. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik yang tersusun dari karbon,
hidrogen, oksigen dan terkadang nitrogen atau elemen lain yang
dibutuhkan dalam jumlah kecil agar metabolisme, pertumbuhan dan
perkembangan berjalan normal. Jenis nutrien ini merupakan zat-zat
organik yang dalam kecil ditemukan pada berbagai m acam
m ak an an . Vit ami n t id ak d ap at di gu n ak an u nt uk
rnenghasilkan energi. Vitamin dapat dipilah menjadi 2 kelompok yaitu
kelompok yang larut dalam lemak dan yang larut dalam air. Vitamin yang
larut dalam lemak terdiri dari vitamin A, D, E dan K. Sedangkan vitamin
yang larut dalam air terdiri dari vitamin B kompleks yang dibedakan
menjadi 8 jenis vitamin yaitu vitamin B1 (Tiamin), vitamin B2
(Riboflavin), vitamin B3 (Niasin), vitamin B5 (Pantothenic Acid),
vitamin B6 (Piridolasin), vitamin B7 (Biotin), vitamin B9 (Folat),
vitamin B12 (Kobalamin) dan vitamin C.
5. Mineral
Mineral merupakan komponen anorganik yang terdapat dalam tubuh
manusia. Sumber paling baik mineral adalah makanan hewani, kecuali
magnesium yang lebih banyak terdapat dalam makanan nabati. Hewan
memperoleh mineral dari tumbuh tumbuhan dan menumpuknya di
jaringan tubuhnya. Disamping itu mineral berasal dari makanan
hewani mempunyai ketersediaan biologik lebih tinggi daripada yang
berasal dari makanan nabati, m ak an an m en gan du n g lebih sedikit
bahan pengikat mineral daripada makanan nabati.
Menurut jenisnya.
mineral dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Mineral organik, yaitu mineral yang dibutuhkan serta berguna bagi
tubuh kita, yang dapat kita peroleh melalui makanan yang kita
konsumsi setiap hari seperti nasi, ayam, ikan, telur, sayur-sayuran
serta buah-buahan, atau vitamin tambahan.
b. Mineral anorganik, yaitu mineral yang tidak dibutuhkan serta tidak
berguna bagi tubuh kita. Contohnya: timbal hitam (Pb), iron oxide
Gizi | 71
(besi teroksidasi), mercuri, arsenik, magnesium, aluminium atau
bahan-bahan kimia hasil dari resapan tanah dan lain.
Berdasarkan kebutuhan tubuh mineral dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Mineral makro, yaitu mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah
lebih dari 100 mg sehari.
b. Mineral mikro, yaitu kehutuhannya kurang dari 100 mg sehari.
C. PRINSIP GIZI SEIMBANG
Empat Pilar Gizi Seimbang Pedoman Gizi Seimbang yang telah
diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 1955 merupakan realisasi dari
rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di Roma tahun 1992. Pedoman
tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah diperkenalkan
sejak tahun 1952 namun sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan
tantangan yang dihadapi. Diyakini dengan mengimplementasikan Pedoman
Gizi Seimbang secara benar, semua masalah gizi dapat diatasi. Prinsip Gizi
Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya merupakan
rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat
gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur. Visualisasi
mengenai gizi seimbang dapat terlihat dari tumpeng gizi dibawah ini.
Gambar 1. Tumpeng Gizi Seimbang (Kemenkes RI, 2019)
72 | Gizi
Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat
gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gizi
Seimbang mengandung komponen-komponen yang lebih kurang sama,
yaitu: cukup secara kuantitas, cukup secara kualitas, mengandung berbagai
zat gizi (energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral) yang
diperlukan tubuh untuk tumbuh (pada anak-anak), untuk menjaga kesehatan
dan untuk melakukan aktivitas dan fungsi kehidupan sehari-hari (bagi semua
kelompok umur dan fisiologis), serta menyimpan zat gizi untuk mencukupi
kebutuhan tubuh saat konsumsi makanan tidak mengandung zat gizi yang
dibutuhkan. Prinsip gizi seimbang terdiri dari 4 (empat) pilar yang pada
dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat
gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan
secara teratur.
Empat pilar tersebut adalah:
1. Mengonsumsi Makanan Beragam
Beranekaragam dalam prinsip ini selain keanekaragaman jenis pangan
juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah yang
cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur. Anjuran pola makan
dalam beberapa dekade terakhir telah memperhitungkan proporsi setiap
kelompok pangan sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya. Contohnya,
saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan
dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah
makanan yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat
meningkatkan resiko beberapa PTM, dianjurkan untuk dikurangi. Akhirakhir ini minum air dalam jumlah yang cukup telah dimasukkan dalam
komponen gizi seimbang oleh karena pentingnya air dalam proses
metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi.
2. Membiasakan Perilaku Hidup Sehat
Dengan membiasakan perilaku hidup bersih akan menghindarkan
seseorang dari keterpaparan terhadap sumber infeksi. Contoh:
a) selalu
mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum makan,
sebelum memberikan ASI, sebelum menyiapkan makanan dan minuman,
dan setelah buang air besar dan kecil, akan menghindarkan
terkontaminasinya tangan dan makanan dari kuman penyakit antara lain
kuman penyakit typus dan disentri;
b) menutup makanan yang disajikan
akan menghindarkan makanan dihinggapi lalat dan binatang lainnya serta
Gizi | 73
debu yang membawa berbagai kuman penyakit;
c) selalu menutup mulut
dan hidung bila bersin, agar tidak menyebarkan kuman penyakit; dan
d)
selalu menggunakan alas kaki agar terhindar dari penyakit kecacingan.
3. Melakukan Aktivitas
Fisik
Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk
olahraga merupakan salah satu upaya untuk menyeimbangkan antara
pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanya sumber energi dalam
tubuh. Aktivitas fisik memerlukan energi. Selain itu, aktivitas fisik juga
memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme
zat gizi. Oleh karenanya, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan
zat gizi yang keluar dan yang masuk ke dalam tubuh.
4. Mempertahankan dan Memantau Berat Badan Normal
Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah terjadi keseimbangan
zat gizi di dalam tubuh adalah tercapainya berat badan yang normal, yaitu
berat badan yang sesuai untuk Tinggi Badannya. Indikator tersebut
dikenal dengan IndeksMasa Tubuh (IMT). Oleh karena itu, pemantauan
bb normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari ‘Pola Hidup’
dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB
dari BB normal, dan apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan
langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.
D. MASALAH GIZI DI INDONESIA
Asupan zat gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya
tingkat kesehatan atau yang sering disebut dengan status gizi. Apabila
konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan
tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (Qurahman, 2010).
Empat
masalah gizi kurang yang mendominasi di Indonesia, yaitu:
1. Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang Energi Protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan makan sumber
energi secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-anak,
KEP dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan.
Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya
KEP, namun selain kemiskinan faktor lain yang berpengaruh adalah
74 | Gizi
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan pendamping serta
tentang pemeliharaan lingkungan yang sehat.
2. Anemia Gizi Besi (AGB)
Masalah anemia gizi di Indonesia terutama yang berkaitan dengan
kekurangan zat besi (AGB). Penyebab masalah AGB adalah kurangnya
daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi,
terutama dengan ketersediaan biologik tinggi (asal hewan), dan pada
perempuan ditambah dengan kehilangan darah melalui haid atau
persalinan. AGB menyebabkan penurunan kemampuan fisik, penurunan
kemampuan berpikir dan penurunan antibodi sehingga mudah terserang
infeksi. Penanggulangannya dilakukan melalui pemberian tablet atau
sirup besi kepada kelompok sasaran.
3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
Kekurangan iodium umumnya banyak ditemukan di daerah pegunungan
dimana tanah kurang mengandung iodium. GAKI menyebabkan
pembesaran kelenjar gondok (tiroid). Pada anak-anak menyebabkan
hambatan dalam pertumbuhan jasmani, maupun mental. Ini
menampakkan diri berupa keadaan tubuh yang cebol, dungu, terbelakang
atau bodoh. Penanggulangan masalah GAKI secara khusus dilakukan
melalui pemberian kapsul minyak beriodium kepada semua wanita usia
subur dan anak sekolah di daerah endemik. Secara umum pencegahan
GAKI dilakukan melalui iodisasi garam dapur.
4. Kurang Vitarnin A (KVA)
KVA merupakan suatu gangguan yang disebabkan karena kurangnya
asupan vitamin A dalam tubuh. K V A dapat mengakibatkan kebutaan,
mengurangi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi, yang
sering menyebabkan kematian khususnya pada anak-anak. Selain itu
kekurangan Vitamin A dapat menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Faktor
yang menyebabkan timbulnya Kekurangan Vitamin A adalah kemiskinan
dan minim pengetahuan akan gizi. (Haeriyah,dkk. 2021)
Gizi | 75
E. GIZI SEIMBANG UNTUK BERBAGAI KELOMPOK
1. Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui mengindikasikan
bahwa konsumsi makanan ibu hamil dan ibu menyusui harus memenuhi
kebutuhan untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan
janin/bayinya. Oleh karena itu ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan
zat gizi yang lebih banyak dibandingkan dengan keadaan tidak hamil atau
tidak menyusui, tetapi konsumsi pangannya tetap beranekaragam dan
seimbang dalam jumlah dan proporsinya.
Janin tumbuh dengan mengambil zat-zat gizi dari makanan yang
dikonsumsi oleh ibunya dan dari simpanan zat gizi yang berada di dalam
tubuh ibunya. Selama hamil atau menyusui seorang ibu harus menambah
jumlah dan jenis makanan yang dimakan untuk mencukupi kebutuhan
pertumbuhan bayi dan kebutuhan ibu yang sedang mengandung bayinya
serta untuk memproduksi ASI. Bila makanan ibu sehari-hari tidak cukup
mengandung zat gizi yang dibutuhkan, maka janin atau bayi akan
mengambil persediaan yang ada didalam tubuh ibunya, seperti sel lemak
ibu sebagai sumber kalori; zat besi dari simpanan di dalam tubuh ibu
sebagai sumber zat besi janin/bayi. Demikian juga beberapa zat gizi
tertentu tidak disimpan di dalam tubuh seperti vitamin C dan vitamin B
yang banyak terdapat di dalam sayuran dan buahbuahan. Sehubungan
dengan hal itu, ibu harus mempunyai status gizi yang baik sebelum hamil
dan mengonsumsi makanan yang beranekaragam baik proporsi maupun
jumlahnya.
Kenyataannya di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang saat hamil
mempunyai status gizi kurang, misalnya kurus dan menderita Anemia.
Hal ini dapat disebabkan karena asupan makanannya selama kehamilan
tidak mencukupi untuk kebutuhan dirinya sendiri dan bayinya. Selain itu
kondisi ini dapat diperburuk oleh beban kerja ibu hamil yang biasanya
sama atau lebih berat dibandingakan dengan saat sebelum hamil.
Akibatnya, bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan, sehingga
mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya. Demikian pula
dengan konsumsi pangan ibu menyusui harus bergizi seimbang agar
memenuhi kebutuhan zat gizi bayi maupun untuk mengganti zat gizi ibu
yang dikeluarkan melalui ASI. Tidak semua zat gizi yang diperlukan bayi
76 | Gizi
dapat dipenuhi dari simpanan zat gizi ibu, seperti vitamin C dan vitamin
B, oleh karena itu harus didapat dari konsumsi pangan ibu setiap hari.
2. Gizi Seimbang untuk Bayi 0-6 bulan
Gizi seimbang untuk bayi 0-6 bulan cukup hanya dari ASI. ASI
merupakan makanan yang terbaik untuk bayi oleh karena dapat
memenuhi 9 semua zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai usia 6 bulan,
sesuai dengan perkembangan sistem pencernaannya, murah dan bersih.
Oleh karena itu setiap bayi harus memperoleh ASI Eksklusif yang berarti
sampai usia 6 bulan hanya diberi ASI saja.
3. Gizi Seimbang untuk Anak 6-24 bulan Pada anak usia 6-24 bulan,
kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi
dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini anak berada pada
periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap
infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi
harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan
keadaan infeksi. Agar mencapai gizi seimbang maka perlu ditambah
dengan Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI, sementara ASI tetap
diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai
diperkenalkan kepada makanan lain, mula-mula dalam bentuk lumat,
makanan lembik dan selanjutnya beralih ke makanan keluarga saat bayi
berusia 1 tahun. Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian
makanan secara seimbang pada usia dini akan berpengaruh terhadap
selera makan anak selanjutnya, sehingga pengenalan kepada makanan
yang beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting. Secara
bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24bulan semakin
ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buah-buahan, lauk pauk
sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai sumber
kalori. Demikian pula jumlahnya ditambahkan secara bertahap dalam
jumlah yang tidak berlebihan dan dalam proporsi yang juga seimbang.
4. Gizi Seimbang untuk Anak usia 2-5 tahun
Kebutuhan zat gizi anak pada usia 2-5 tahun meningkat karena
masih berada pada masa pertumbuhan cepat dan aktivitasnya tinggi.
Demikian juga anak sudah mempunyai pilihan terhadap makanan yang
disukai termasuk makanan jajanan. Oleh karena itu jumlah dan variasi
makanan harus mendapatkan perhatian secara khusus dari ibu atau
Gizi | 77
pengasuh anak, terutama dalam “memenangkan” pilihan anak agar
memilih makanan yang bergizi seimbang. Disamping itu anak pada usia
ini sering keluar rumah sehingga mudah terkena penyakit infeksi dan
kecacingan, sehingga perilaku hidup bersih perlu dibiasakan untuk
mencegahnya.
5. Gizi Seimbang untuk Anak 6-9 tahun Anak pada kelompok usia ini
merupakan anak yang sudah memasuki masa sekolah dan banyak bermain
diluar, sehingga pengaruh kawan, tawaran makanan jajanan, aktivitas yang
tinggi dan keterpaparan terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi.
Sebagian anak usia 6-9 tahun sudah mulai 10 memasuki masa
pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi
mulai meningkat secara bermakna. Oleh karenanya, pemberian makanan
dengan gizi seimbang untuk anak pada kelompok usia ini harus
memperhitungkan kondisi-kondisi tersebut diatas.
6. Gizi Seimbang untuk Remaja (10-19 tahun) Kelompok ini adalah
kelompok usia peralihan dari anak-anak menjadi remaja muda sampai
dewasa. Kondisi penting yang berpengaruh terhadap kebutuhan zat gizi
kelompok ini adalah pertumbuhan cepat memasuki usia pubertas,
kebiasaan jajan, menstruasi dan perhatian terhadap penampilan fisik “Body
image” pada remaja puteri. Dengan demikian perhitungan terhadap
kebutuhan zat gizi pada kelompok ini harus memperhatikan kondisikondisi tersebut. Khusus pada remaja puteri, perhatian harus lebih
ditekankan terhadap persiapan mereka sebelum menikah.
7. Gizi Seimbang untuk Dewasa Perilaku konsumsi pangan bergizi seimbang
dapat terganggu oleh pola kegiatan kelompok usia dewasa saat iniyaitu
persaingan tenaga kerja yang ketat, ibu bekerja diluar rumah, tersedianya
berbagai makanan siap saji dan siap olah, dan ketidak-tahuan tentang gizi
menyebabkan keluarga dihadapkan pada pola kegiatan yang cenderung
pasif atau “sedentary life”, waktu di rumah yang pendek terutama untuk
ibu, dan konsumsi pangan yang tidak seimbang dan tidak higienis. Oleh
karena itu, perhatian terhadap perilaku konsumsi pangan dengan gizi
seimbang, termasuk kegiatan fisik yang memadai dan memonitor BB
normal, perlu diperhatikan untuk mencapai pola hidup sehat, aktif dan
produktif.
78 | Gizi
8. Gizi Seimbang untuk Usia Lanjut Dengan bertambahnya usia, khususnya
usia di atas 60 tahun, terjadi berbagai perubahan dalam tubuh yaitu mulai
menurunnya fungsi berbagai organ dan jaringan tubuh, oleh karenanya
berbagai permasalahan gizi dan kesehatan lebih sering muncul pada
kelompok usia ini. Perubahan tersebut meliputi antara lain organ pengindra
termasuk fungsi penciuman sehingga dapat menurunkan nafsu makan;
melemahnya sistem organ pencernaan sehingga saluran pencernaan
menjadi lebih sensitif terhadap makanan tertentu dan mengalami sembelit;
gangguan pada gigi sehingga mengganggu fungsi mengunyah;
melemahnya kerja otot jantung; pada wanita memasuki masa menopause
dengan berbagai akibatnya; dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan
kelompok usia lanjut lebih rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk
terlalu gemuk, terlalu kurus, penyakit hipertensi, penyakit jantung,
diabetes mellitus, osteoporosis, osteoartritisdll. Oleh karena itu kebutuhan
zat gizi pada kelompok usia lanjut agak berbeda pada kelompok dewasa,
sehingga pola konsumsi agak berbeda, misalnya membatasi konsumsi
gula, garam dan 11 minyak, makanan berlemak dan tinggi purin.
Mengonsumsi sayuran dan buahbuahan dalam jumlah yang cukup.
(Kemenkes RI, 2019).
No comments:
Post a Comment