A. PRINSIP PEMBERIAN OBAT
Masalah kesehatan seseorang dapat terselesaikan dengan berbagai upaya
yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan seperti berolah raga secara
teratur, makan makanan yang bergizi, melakukan perlindungan khusus
maupun berperilaku hidup bersih dan sehat. tetapi dalam keadaan tertentu
masih diperlukan upaya-upaya dengan cara pemberian obat.
Untuk mengetahui efek pengobatan bidan harus mengerti tentang prinsip
pemberian obat pada ibu dan bayi. Pemberian obat harus diberikan dalam
dosis, cara dan indikasi yang benar. Obat adalah suatu bahan yang digunakan
untuk menentukan diagnosa, pengobatan, penyembuhan, perbaikan kondisi
pasien, pengurangan rasa sakit dan pencegahan terhadap suatu penyakit
kepada manusia maupun hewan. (Claire Banister. (2006, 2006).
1. Tujuan pemberian obat
a. Membantu mengurangi rasa sakit
b. Membantu menegakkan diagnose
c. Mencegah dan mengobati penyakit
d. Memberikan ketenangan dan rasa puas pada klien
2. Mekanisme kerja obat
Obat yang masuk ke dalam tubuh mengalami 4 proses yaitu:
a. Absorbsi yaitu proses obat memasuki sirkulasi cairan obat
b. Distribusi yaitu proses obat diangkut ke area dimana obat diharapkan
bereaksi
c. Metabolisme atau biotransformasi yaitu proses dimana obat diubah
menjadi bentuk kurang aktif. Misalnya pada bayi dengan BBLR
dimana fungsi hati dan ginjal kurang sempurna
d. Ekskresi yaitu proses dimana obat dikeluarkan dari tubuh.
3. Berbagai faktor yang mempengaruhi kerja dan reaksi obat respon obat
bersifat kompleks, Bidan hendaknya mengerti berbagai faktor yang
mempengaruhi reaksi obat pada ibu dan bayi.
Faktor-faktor yang
berpengaruh adalah:
a. Absorbsi adalah proses obat yang memasuki sirkulasi cairan obat,
absorbsi obat oral terjadi pada saat partikel-partikel obat ke luar dari
saluran gastrointestinal
b. Distribusi adalah proses obat diangkut ke area dimana obat diharapkan
bereaksi atau disimpan di dalam tubuh
Farmakologi | 83
c. Metabolisme atau biotransformasi adalah proses dimana obat diubah
menjadi kurang aktif, dimana usia bayi dan usia lanjut sensitif terhadap
obat-obatan jenis barbiturate dan penekanan susunan saraf pusat. Semua
bayi, neonatus dengan BBLR, yang mempunyai fungsi ginjal yang belum
matang mempengaruhi proses metabolisme ekskresi obat melalui ginjal,
empedu, feses, paru-paru, saliva dan keringat (A. C, 2008).
d. Berat badan, dosis pemberian obat dihitung berdasarkan berat badan,
sehingga pada klien obesitas dosis lebih tinggi dari pada klien yang kurus.
e. Seks atau Jenis kelamin, respon obat berbeda pada jenis kelamin karena
perbedaan distribusi lemak tubuh dan cairan.
Wanita mempunyai lemak tubuh lebih banyak, dan obat lebih mudah
larut dalam lemak. Genetik daya sensitifitas obat terjadi karena faktor genetik,
sehingga reaksi obat pada klien berbeda-beda (Ganong W. F., 2005).
Toksisitas adalah gejala yang merugikan dan terkait dengan dosis. Hal
ini sering terjadi pada klien yang mempunyai gangguan hati atau ginjal
terutama pada pasien usia muda maupun lansia. Farmakoginetik adalah reaksi
obat karena faktor keturunan, misalnya bila ayah atau ibu mempunyai reaksi
yang merugikan, maka kemungkinan besar anaknya juga demikian
mempunyai reaksi yang merugikan. Rute pemberian Obat yang diberikan
secara intravena bekerja lebih cepat dari pada obat yang diberikan secara
peroral. Saat pemberian beberapa obat kerjanya dipengaruhi oleh ada atau
tidaknya makanan dalam lambung.
Faktor emosional sugesti klien dapat mempengaruhi kerja obat penyakit
pada ginjal, jantung dan hati, sirkulasi dan pencernaan yang mempengaruhi
respon terhadap obat. Contoh: klien penyakit hati tidak boleh diberikan terlalu
banyak obat. Lingkungan dapat merubah obat (cahaya, suhu ruangan),
lingkungan dengan suhu tinggi menimbulkan vasodilator pada kulit sehingga
bila mendapatkan obat kulit akan bereaksi lebih cepat. Riwayat Obat, dalam
penggunaan obat yang sama atau berbeda dapat menurunkan atau menambah
efek obat.
Toleransi kemampuan klien merespon obat pada dosis tertentu akan
hilang pada beberapa hari setelah pemberian obat. Efek penumpukan ini
terjadi bila obat diekskresi lebih lambat. Interaksi obat dapat memberikan efek
lebih besar, sama atau bahkan melemah dari pada obat tunggal (Tambayong
Jan, 2022).
84 | Farmakologi
Bentuk obat dan jenis obat menurut khasiat terdiri dari :
1. Kapsul: obat dalam bentuk bubuk, cair atau minyak yang dibungkus
dengan gelatin.
2. Pil: bentuk obat lonjong atau bulat terdiri dari satu atau lebih obst ysng
dicampur dengan bahan kohestif .
3. Tablet: obat bubuk yang yang dikompresi dalam cakram, mengandung
obat utama, zat pengikat. Zat pemisah, lubrikan dan pengisi.
4. Kaplet: obat bubuk yang dipadatkan berbentuk lonjong, berdalut dan
mudah ditelan.
5. Sirup: larutan obat cair yang mengandung gula.
6. Puyer: obat yang ditumbuk halus.
7. Elixir: larutan manis berbau harum dari alkohol yang dopakai untuk
campuran obat.
8. Suspensi: beberapa macam obat yang dilarutkan dengan air.
9. Salep: sediaan obat dalam bentuk semi padat.
10. Krim: bentuk obat semi padat dipaki di kulit dengan dioleskan.
11. Lotion: sediaan obat berupa emoli yang jernih dipakai di kulit.
12. Larutan: zat berkhasiat dalam aqua atau pelarut.
13. Gel/Jelly: obat semi padat, jernih dan tembus cahaya, mencair sewaktu
dioleskan.
14. Inhaler: sediaan berupa gas atau uap.
15. Supositoria: obat yang dibungkus gelatin dan berbentuk peluru agar
mudah dimasukkan dalam tubuh, segera meleleh pada suhu tubuh
sehingga dapat diabsorbsi.
Reaksi Obat yang diinginkan dengan efek terapi adalah :
1. Paliatif: mengurangi gejala penyakit, tetapi tidak ada pengaruh terhadap
penyakitnya, misalnya paracetamol untuk menurunkan panas
2. Kuratif: efek obat untuk mengobati penyakit. Misalnya penicillin untuk
mematikan metabolisme kuman.
3. Suportif: meningkatkan respon tubuh sehingga dapat menerima obat lain.
Misalnya: aspirin untuk menurunkan panas dan diberi lagi obat antibiotik
4. Substitutif: berefek mengganti cairan dan substansi dalam tubuh. Mis:
insulin
5. Kemoterapi: obat yang berefek mematikan dan menghambat sel ganas
Farmakologi | 85
6. Restoratif; meningkatkan fungsi organ tubuh yang sehat. Misalnya:
vitamin dan mineral tambahan.
Efek samping obat yang biasanya menimbulkan perubahan dalam tubuh.
Efek toksis (efek meracuni tubuh) terjadi karena dosis yang berlebihan dan
tidak dapat diterima tubuh, hal ini terjadi beberapa jam, beberapa hari atau
bulan setelah pemberian obat. Alergi obat (reaksi hipersensitif terhadap obat)
terjadi pada orang yang daya sensitivitasnya tinggi. Orang yang hipersensitif
terhadap obat akan menimbulkan berbagai gejala seperti: reaksi cepat yaitu
anafilaksis shock: sesak nafas, hipotensi dan tachicardi sampai kematian,
sedang reaksi lambat timbul gejala;
- kemerahan pada kulit,
- gatal-gatal pada
kulit,
- angioderma,
- rinitis atau pilek,
- mata berair,
- mual, muntah ataupun
diare.
- sesak nafas dan wheezing.
B. RESPON OBAT
Beberapa respon obat adalah :
1. Toleransi obat: adalah resistensi akibat pemakaian yang lama, sehingga
dosis semakin lama semakin meningkat untuk mendapatkan hasil yang
sama.
2. Habituasi atau kebiasaan adalah pemakaian obat waktu lama dan ada
gangguan emosional bila dihentikan, mis.nicotin dan kafein.
3. Adiksi (ketagihan) adalah pemberian obat yang menyebabkan toleransi,
bila dihentikan menimbulkan gejala putus obat serta penyalahgunaan
obat yang menimbulkan efek euphoria mis: obat narkotik, morfin.
Prinsip-prinsip pemberian obat ada 7 yaitu:
Hak-hak klien dalam
pemberian obat,
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi respon
obat,
Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat,
Menggambarkan rute pemberian obat,
Mengidentifikasi berbagai tempat
untuk pemberian parenteral,
Menjelaskan perlengkapan dan tehnik
pemberian,
Metode untuk pemetaan obat.
Enam benar dalam pemberian obat:
Benar pasien, cocokkan nama
dengan gelang identitas,
Benar obat, minimal dibaca 3 kali:
- pertama: saat
membaca permintaan obat dan botolnya/labelnya dalam rak lemari obat,
-
kedua: label obat dengan obat yang diminta,
- ketiga: saat dikembalikan ke
rak, bila label rusak atau meragukan sebaiknya dikembalikan ke farmasi,
86 | Farmakologi
Benar dosis, bandingkan dengan buku terapi,
Benar waktu dan frekuensi
kapan diberikan obat dan kapan terakhir kali diberikan,
Benar rute
pemberian obat yang tepat dan memadai, sehingga ada berbagai cara
pemberian obat seperti: topikal dan parenteral,
Benar pendokumentasian
obat (Gunawan, 2009).
C. PEMBERIAN OBAT TOPIKAL
Pemberian Obat topikal meliputi: pemberian secara Per Oral, melalui
Kulit, melalui Hidung, melalui Mata, melalui Telinga, dan melalui
Suppositoria.
1. Pemberian obat per-oral
Cara pemberian obat yang paling disukai adalah melalui oral atau mulut.
a. Pengertian menyiapkan dan memberikan obat melalui mulut dan
selanjutnya ditelan.
b. Tujuan memberikan obat kepada klien melalui mulut secara tepat dan
benar, sesuai dengan program pengobatan.
Bentuk obat dan macam
obat per oral yang tersedia adalah bentuk cair dan padat, dengan
masing-masing tipe membutuhkan pertimbangan khusus saat diberikan
pada klien. Misalnya saja, tablet enterik-bersolut seharusnya jangan
dihancurkan, pemberian sirup obat batuk jangan pernah diikuti dengan
pemberian cairan, dan obat-obat sublingual harus diletakkan di bawah
lidah klien.
Gambar pemberian obat per oral
2. Pemberian Obat pada kulit
a. Pengertian pemberian obat pada kulit berarti memberikan obat kepada
klien melalui kulit. berbagai sediaan farmakologi dapat diberikan untuk
beberapa tujuan yaitu: mempertahankan hidrasi lapisan kulit,
Farmakologi | 87
melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit lokal,
menciptakan anestesi lokal, atau mengatasi infeksi, abrasi. Setiap
sediaan pada pemberian ini dapat menciptakan efek baik sistemik
maupun lokal. Sediaan ini diberikan dengan sarung tangan maupun
aplikator. Bila pada kulit ada luka terbuka penting untuk melakukan
teknik steril dalam pemberiannya. Pemberian sediaan ini penting untuk
melakukan pengkajian pada kulit klien secara keseluruhan dan
mencatat setiap perubahan integritas kulit klien. Bentuk obat berupa
krim, lotion, aerosol, sprai, bubuk.
b. Hal yang perlu diperhatikan jika memberikan pasta nitrogliserin, harus
menghindari bagian berambut yang dapat mengganggu absorpsi obat.
Kaji klien terhadap alergi pada obat topikal. Hindari pengolesan atau
penggosokkan kulit saat memberikan krim, salep atau lotion. Ini dapat
menyebabkan iritasi kulit.
c. Penyuluhan pada keluarga dan klien, kaji pengetahuan klien tentang
kerja dan tujuan pengobatan. Tentukan apakah klien secara fisik
mampu mengoleskan obat. Ingatkan klien terhadap penggunaan obat
yang terlalu banyak, karena dapat mengganggu absorpsi obat. Pastikan
klien tahu tanda-tanda reaksi lokal dari obat-obat topikal.
d. Pemberian obat topikal pada anak-anak, bila mengoleskan obat topikal
pada kulit anak kecil, sebaiknya menutup area yang sakit dengan
balutan kering, karena ia sering mencoba menggosok obat.
Gambar pemberian obat melalui kulit
3. Pemberian Obat Mata
a. Pemberian Obat Mata adalah memberikan obat melalui mata. Mata
adalah organ yang sangat sensitif. Kornea, bagian anterior bola mata,
88 | Farmakologi
sangat banyak mengandung serabut nyeri yang sensitif. Bila
memberikan obat melalui mata hendaknya menghindari memberikan
tetes mata langsung pada permukaan kornea sehingga
ketidaknyamanan klien dapat diminimalkan. Juga penting waspada
dalam memberikan obat mata sehingga aplikator tidak membuat
sentuhan yang mencederai permukaan mata.
b. Tujuan Obat mata diberikan untuk :
a. Mendilatasikan pupil
b. Pemeriksaan struktur internal mata
c. Melemahkan otot lensa mata
d. Pengukuran refraksi lensa
e. Menghilangkan iritasi local
f. Mengobati gangguan mata
g. Meminyaki kornea dan konjungtiva.
c. Kewaspadaan Bidan
Untuk menghindari efek samping sistemik obat tertentu, pastikan untuk
menghambat duktus nasolakrimalis (pada bagian dalam kantus) setelah
memberikan obat.
d. Penyuluhan Klien
Dengan memberikan penyuluhan tentang cara pemberian obat pada
mata diharapkan klien mengetahui tehnik pemberian obat yang tepat
dan benar. Klien juga harus mengetahui bahwa persiapan dilakukan
dengan teknik steril dan jangan pernah menggunakan obat mata yang
diresepkan untuk anggota keluarga yang lain.
e. Hal yang perlu dipertimbangkan pada pediatric
Anak mudah merasa takut bila menerima obat mata. Bicaralah dengan
perlahan pada bayi atau anak kecil dan pastikan untuk menahan kepala
anak untuk mencegah gerakan selama melakukan tetesan pada mata.
Perputaran posisi kepala anak yang mendadak menimbulkan aplikator
menusuk mata secara tidak sengaja. Hal ini akan membantu bila tangan
yang memegang penetes berada di atas dahi anak sehingga tangan
bergerak secara sinkron dengan gerakan kepala.
Farmakologi | 89
Gambar pemberian obat mata
4. Menggunakan inhaler
Dosis terukur pernafasan atau inhaler tujuannya untuk memberikan
obat kepada klien melalui saluran lendir hidung dan saluran pernafasan.
Dilakukan pada klien dengan: Sesak nafas, Rhenitis dan sinusitis; Asthma
bronchiale; Pasca Trackeostomi; Penyakit ISPA yang ada sumbatan lendir.
Obat yang diberikan melalui inhaler yang disemprotkan melalui sprai
aerosol, uap, atau bubuk halus untuk menembus jalan napas. Meskipun
obat ini dirancang untuk menghasilkan efek local (mis, bronkodilator atau
secret cair), obat diabsorpsi dengan cepat melalui sirkulasi pulmonary dan
dapat menciptakan efek sistemik. Sebagai contoh, isoproterenol adalah
bronkodilator, tetapi ini dapat juga menyebabkan aritmia jantung.
a. Hal yang perlu diwaspadai
Klien dapat tersedak atau menelan obat bila tidak dapat menghirup saat
semprotan diberikan. Kebutuhan klien terhadap bronkodilator lebih
sering dari setiap 4 jam dapat menandakan memburuknya kondisi
respiratori. Klien yang menggunakan inhaler steroid beresiko terhadap
infeksi topical Candida pada mulut dan faring posterior. Bidan harus
mengobservasi adanya area putih luas pada mulut klien.
b. Penyuluhan Klien
Ajarkan klien tentang penggunaan inhaler yang tepat dan efek samping
umum yang harus diketahui. Jelaskan tanda-tanda dan gejala –gejala
umum kelebihan penggunaan seperti adanya; takikardia, palpitasi,
sakit kepala, gelisah, dan insomnia. Instruksikan klien untuk
membersihkan inhaler dengan tepat untuk menghindari transmisi
mikroorganisme. Instruksikan klien untuk melihat mulut tiap hari
terhadap tanda infeksi Candida; berupa lesi putih pada mulut.
90 | Farmakologi
c. Pertimbangan Pediatri
Anak-anak mungkin tidak mampu untuk belajar cara penggunaan
inhaler, perlu untuk menutup hidung mereka selama inhalasi untuk
mendapatkan efek obat.
Gambar pemberian obat inhaler
5. Tetes Hidung
Adalah memberikan obat tertentu dengan cara meneteskannya ke dalam
hidung. Tujuannya untuk untuk mengurangi rasa sakit dan menghilangkan
sumbatan pada hidung.
Gambar pemberian obat tetes hidun
6. Memasukkan Obat vaginal
a. Pengertian
Pemberian obat vagina adalah memberikan obat pada klien melalui
vagina. Bertujuan untuk pengobatan pada infeksi local pada vagina.
Obat vaginal tersedia dalam bentuk krim dan supositoria dan
digunakan untuk mengobati infeksi local atau inflamasi. Penting untuk
menghindari rasa malu klien bila memberikan sediaan ini. Sering kali
klien lebih memilih untuk belajar cara memberikan obat ini sendiri.
Karena keluhan yang merupakan gejala infeksi vagina berbau sangat
tidak sedap. Obat yang diberikan melalui vagina dalam bentuk kapsul,
Farmakologi | 91
tablet atau krim. Prosedur pemberiannya sama dengan saat menggunakan
alat untuk memasukkan suppositoria.
b. Yang perlu diperhatikan
Bila supositoria tidak berhasil larut dan keluar dalam bentuk padat, periksa
tanggal kadaluarsa pada bungkusnya.
c. Penyuluhan Klien
Klien sering lebih memilih untuk belajar cara pemberian preparat vaginal
sendiri. Dengan menggunakan pendekatan tahap demi tahap,
memungkinkan klien memperagakan teknik tersebut. Penting agar klien
memasukkan supositoria atau krim dengan benar ke dalam lubang vagina.
Supositoria aman diberikan. Bidan harus memperhatikan terutama pada
penempatan supositoria dengan benar pada dinding mukosa rektal,
melewati sfingterani interna, sehingga supositoria tidak akan dikeluarkan.
Klien yang mengalami pembedahan rektal atau mengalami perdarahan
rektal jangan pernah diberikan supositoria (Tambayong Jan, 2022).
Gambar pemberian obat Vagina
D. PEMBERIAN OBAT PARENTERAL ATAU INJEKSI
Ada berbagai teknik untuk memberikan obat secara parenteral yaitu
dengan cara intracutan, subkutan, intramuskuler dan intravena. Pengertian
tentang prinsip pemberian obat parental bidan harus mengetahui efek
pengobatan dengan pemberian jumlah dosis obat yang akan diberikan, cara
dan indikasi yang benar.
Obat adalah suatu bahan yang digunakan untuk menentukan diagnose,
Pengobatan, penyembuhan, perbaikan kondisi, pengurangan rasa sakit dan
92 | Farmakologi
pencegahan terhadap suatu penyakit kepada manusia maupun hewan
(Katzung, n.d.)
Pemberian obat secara parenteral
a. Pengertian
Adalah: Memberikan obat melalui parenteral yaitu memasukkan obat ke
dalam jaringan tubuh dengan mengggunakan spuit atau semprit dan jarum
suntik steril
b. Tujuan :
1) Mencegah penyakit yaitu dengan memberikan imunisasi: DPT, ATS,
BCG.
2) Mempercepat reaksi obat dalam tubuh untuk mempercepat proses
penyembuhan
3) Melaksanakan uji coba (manthoux test, skin test)
4) Melaksanakan tindakan diagnostik mis; kontras
c. Dilakukan pada:
a. Klien memerlukan obat dengan reaksi cepat
b. Klien yang tidak dapat diberi obat melalui mulut ( per-oral)
c. Klien dengan penyakit tertentu yang harus mendapat pengobatan
dengan cara suntikan mis: streptomycine, insulin.
Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial
Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit.
Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. Bidan harus
mematahkan leher ampul untuk dapat mendapatkan obat. Saat menghisap
obat, Bidan menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak
menyentuh permukaan luar ampul). Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke
dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit.
Menyentil bagian atas ampul
Farmakologi | 93
Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet
di atasnya. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan.
Vial berisi medikusi dalam bentuk cairan dan/atau kering. Vial merupakan
sistem tertutup, dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan
mengambil cairan di dalamnya. Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum
mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil
obat di dalam vial tersebut menjadi sulit (Eny Retno A, 2011)
Mengambil obat dari Vial
Yang perlu diwaspadai:
Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari
barrel spuit. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. Berhati-hatilah saat
mematahkan leher ampul, pecahan kaca dapat melukai tangan dan jari anda.
1. Pemberian obat dengan cara intrakutan
a. Pengertian
Adalah cara memberikan obat dengan dengan memasukkan obat
kedalam kulit
b. Tujuan
1) Kerjanya efeknya lokal
2) Jumlah yang diinjeksikan kecil sehingga volume tidak terganggu
dengan pembengkakan atau reaksi sistemik
3) Dipakai untuk tes terhadap alergi obat: tuberkulin, antibiotik
c. Lokasi injeksi intrakutan
Lokasi dipilih pada daerah yang mudah diamati seperti; yang tidak
banyak mengandung pigmen, berkeratin tipis, tidak berambut. Daerah
yang sesuai kriteria adalah:
94 | Farmakologi
- ventral lengan bawah
- daerah klavikula
- permukaan media paha
Posisi jarum saat memberikan injeksi secara intrakutan
2. Pemberian Obat dengan cara Subkutan
Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan
obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh.
Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi
mana kala jarum suntik menusuk kulit. Karakteristik jaringan
mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. Oleh
karenanya sebelum menyuntikan obat, Bidan harus mengetahui volume
obat yang akan diberikan, karakteristik obat, dan letak struktur anatomi di
bawah tempat yang akan disuntik.
a. Pengertian
Injeksi atau untikan subkutan
Memasukkan obat ke dalam
jaringan di bawah dermis. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai
banyak pembuluh darah, absorpsi obat agak sedikit lambat Jaringan
subkutan mengandung reseptor nyeri, jadi hanya obat dalam dosis
kecil yang larut dalam air, dan tidak mengiritasi yang dapat diberikan
melalui rute ini.
b. Lokasi penyuntikan
Lokasi penyuntikan subkutan pada bagian tubuh yang ada bantalan
lemak dengan ukuran memadai seperti pada: abdomen, paha atas sisi
Farmakologi | 95
lateral, punggung bagian atas, dan lengan atas sisi lateral. Posisi jarum
saat di injeksikan yaitu 450 dari permukaan kulit (Eny Retno A, 2011)
Lokasi injeksi pada lengan
Apabila klien terus menerus mendapatkan obat yang diinjeksikan secara
intrakutan maka lokasi injeksi subkutan secara bergantian sesuai gambar
di bawah ini.
Gambar injeksi subkutan
c. Kewaspadaan Bidan
Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Jika tampak darah
di dalam jarum spuit selama aspirasi, cepat cabut jarum dan mulai dari
awal lagi. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa
terbakar di tempat suntikan.
96 | Farmakologi
d. Penyuluhan Klien
Klien yang tergantung pada insulin mungkin harus belajar cara
penyuntikan insulin sendiri, atau keluarganya, bila tidak ada anggota
keluarga ada baiknya untuk mengajarkan klien tentang teknik aseptic
dari dasar insulin, pemilihan dan rotasi tempat penyuntikan dan
teknik penyuntikan insulin.
e. Pertimbangan Pediatri
Meminta keluarga untuk membantu menahan anak mereka selama
penyuntikan. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan
membuat anaknya tidak nyaman. Ada baiknya untuk tidak
memperlihatkan spuit pada anak untuk meminimalkal ansietas.
Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Pastikan bahwa anak
mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Vastus lateralis
adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anak. Setelah
penyuntikan tenangkan anak (Eny Retno A, 2011)
3. Pemberian obat dengan cara intramuskular
a. Pengertian
Injeksi atau suntikan intramuskuler adalah :
Memasukkan obat ke
dalam jaringan di otot. Karena jaringan otot tidak mempunyai banyak
pembuluh darah, absorpsi obat agak sedikit lambat. Otot juga kurang
sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. Namun, ada
risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah,
jika tidak cermat.
b. Lokasi penyuntikan
Lokasi penyuntikan intramuskuler pada bagian tubuh yang ada
bantalan lemak dengan ukuran memadai seperti pada: paha 1/3 tengah
pada sisi lateral, dan Gluteus maksimus. Posisi jarum saat di
injeksikan kedalam otot adalah dengan sudut 900 dari permukaan
kulit.
Farmakologi | 97
Gambar lokasi pemberian injeksi intramuscular
c. Yang dipertimbangkan pada ibu
Ingatlah juga bahwa Ibu yang sudah lansia mungkin tidak mampu
mentoleransi lebih dari 2 ml suntikan intramuskular. Rute
intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat karena
vakularitas otot. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika
obat diberikan jauh ke dalam otot. Otot juga kurang sensitif terhadap
obat-obat yang kental dan mengiritas. Namun, ada risiko yang
merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah, jika tidak
cermat.
4. Pemberian obat dengan cara intra vena
a. Pengertian
Pemberian larutan obat langsung ke dalam vena dengan teknik bolus
adalah metoda paling berbahaya dalam pemberian obat. Obat ini
bekerja dengan cepat karena langsung masuk ke dalam sirkulasi klien.
Efek samping yang serius dapat terjadi dalam beberapa detik. Jadi,
sangat penting bahwa perawat menetap-kan waktu pemberian dengan
hati-hati untuk mencegah penginfusan terlalu cepat. Obat mungkin
diberikan per intravena melalui heparin lock atau infus IV yang sudah
ada. Obat IV sering diberikan dengan bolus pada situasi kedaruratan
ketika diperlukan kerja obat yang cepat. Teknik ini juga digunakan
untuk menghindari pencampuran obat yang tidak cocok.
b. Tujuan tindakan pengobatan
Tindakan pengobatan :
1) Obat langsung masuk pembuluh darah
2) Memberikan obat dalam jumlah yang banyak
3) Memberikan obat khusus lewat intra vena
98 | Farmakologi
4) Gangguan pemberian obat melalui oral
c. Keunggulan
1. Reaksi lebih cepat
2. Baik untuk keadaan darurat
3. Baik untuk obat yang jumlahnya banyak
d. Kelemahan
4. Bila salah akibatnya fatal
5. Bila klien alergi reaksinya cepat
6. Tidak semua obat dapat diberikan secara intravena (IV)
e. Lokasi Pemberian Obat dengan Bolus Intravena :
1) Tangan bagian depan :
a) Vena dorsal metacarpal
b) Vena cephalika
c) Vena basilika
2) Tangan bagian belakang :
a) Vena radial, medial antebrachial
b) Vena median cubiti, vana cephalika Kaki
c) Vena dorsal plexus, vena dorsal arcus, vena saphena magna
Gambar pemberian injeksi intra vena
f. Kewaspadaan Bidan
Ketahui efek samping potensial dari obat. Obat dapat bekerja dengan
cepat.
g. Penyuluhan Klien
Jelaskan tujuan dan kerja obat pada klien.
Farmakologi | 99
h. Pertimbangan Pediatri
Dosis pediatri adalah kecil. Pastikan bahwa anak menerima obat yang ada
di dalam Volutrol juga obat yang ada di dalam selang (Eny Retno A, 2011)
No comments:
Post a Comment