Wednesday, March 11, 2026

KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN - BAB 6 FARMAKOLOGI

FARMAKOLOGI - Naomi Isabella Hutabarat

A. PRINSIP PEMBERIAN OBAT 

Masalah kesehatan seseorang dapat terselesaikan dengan berbagai upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan seperti berolah raga secara teratur, makan makanan yang bergizi, melakukan perlindungan khusus maupun berperilaku hidup bersih dan sehat. tetapi dalam keadaan tertentu masih diperlukan upaya-upaya dengan cara pemberian obat. Untuk mengetahui efek pengobatan bidan harus mengerti tentang prinsip pemberian obat pada ibu dan bayi. Pemberian obat harus diberikan dalam dosis, cara dan indikasi yang benar. Obat adalah suatu bahan yang digunakan untuk menentukan diagnosa, pengobatan, penyembuhan, perbaikan kondisi pasien, pengurangan rasa sakit dan pencegahan terhadap suatu penyakit kepada manusia maupun hewan. (Claire Banister. (2006, 2006). 

1. Tujuan pemberian obat 
a. Membantu mengurangi rasa sakit 
b. Membantu menegakkan diagnose 
c. Mencegah dan mengobati penyakit 
d. Memberikan ketenangan dan rasa puas pada klien 

2. Mekanisme kerja obat Obat yang masuk ke dalam tubuh mengalami 4 proses yaitu: 
a. Absorbsi yaitu proses obat memasuki sirkulasi cairan obat 
b. Distribusi yaitu proses obat diangkut ke area dimana obat diharapkan bereaksi 
c. Metabolisme atau biotransformasi yaitu proses dimana obat diubah menjadi bentuk kurang aktif. Misalnya pada bayi dengan BBLR dimana fungsi hati dan ginjal kurang sempurna 
d. Ekskresi yaitu proses dimana obat dikeluarkan dari tubuh. 

3. Berbagai faktor yang mempengaruhi kerja dan reaksi obat respon obat bersifat kompleks, Bidan hendaknya mengerti berbagai faktor yang mempengaruhi reaksi obat pada ibu dan bayi. 
Faktor-faktor yang berpengaruh adalah: 
a. Absorbsi adalah proses obat yang memasuki sirkulasi cairan obat, absorbsi obat oral terjadi pada saat partikel-partikel obat ke luar dari saluran gastrointestinal 
b. Distribusi adalah proses obat diangkut ke area dimana obat diharapkan bereaksi atau disimpan di dalam tubuh Farmakologi | 83 
c. Metabolisme atau biotransformasi adalah proses dimana obat diubah menjadi kurang aktif, dimana usia bayi dan usia lanjut sensitif terhadap obat-obatan jenis barbiturate dan penekanan susunan saraf pusat. Semua bayi, neonatus dengan BBLR, yang mempunyai fungsi ginjal yang belum matang mempengaruhi proses metabolisme ekskresi obat melalui ginjal, empedu, feses, paru-paru, saliva dan keringat (A. C, 2008). 
d. Berat badan, dosis pemberian obat dihitung berdasarkan berat badan, sehingga pada klien obesitas dosis lebih tinggi dari pada klien yang kurus. 
e. Seks atau Jenis kelamin, respon obat berbeda pada jenis kelamin karena perbedaan distribusi lemak tubuh dan cairan. Wanita mempunyai lemak tubuh lebih banyak, dan obat lebih mudah larut dalam lemak. Genetik daya sensitifitas obat terjadi karena faktor genetik, sehingga reaksi obat pada klien berbeda-beda (Ganong W. F., 2005). 

Toksisitas adalah gejala yang merugikan dan terkait dengan dosis. Hal ini sering terjadi pada klien yang mempunyai gangguan hati atau ginjal terutama pada pasien usia muda maupun lansia. Farmakoginetik adalah reaksi obat karena faktor keturunan, misalnya bila ayah atau ibu mempunyai reaksi yang merugikan, maka kemungkinan besar anaknya juga demikian mempunyai reaksi yang merugikan. Rute pemberian Obat yang diberikan secara intravena bekerja lebih cepat dari pada obat yang diberikan secara peroral. Saat pemberian beberapa obat kerjanya dipengaruhi oleh ada atau tidaknya makanan dalam lambung. Faktor emosional sugesti klien dapat mempengaruhi kerja obat penyakit pada ginjal, jantung dan hati, sirkulasi dan pencernaan yang mempengaruhi respon terhadap obat. Contoh: klien penyakit hati tidak boleh diberikan terlalu banyak obat. Lingkungan dapat merubah obat (cahaya, suhu ruangan), lingkungan dengan suhu tinggi menimbulkan vasodilator pada kulit sehingga bila mendapatkan obat kulit akan bereaksi lebih cepat. Riwayat Obat, dalam penggunaan obat yang sama atau berbeda dapat menurunkan atau menambah efek obat. Toleransi kemampuan klien merespon obat pada dosis tertentu akan hilang pada beberapa hari setelah pemberian obat. Efek penumpukan ini terjadi bila obat diekskresi lebih lambat. Interaksi obat dapat memberikan efek lebih besar, sama atau bahkan melemah dari pada obat tunggal (Tambayong Jan, 2022). 84 | Farmakologi 

Bentuk obat dan jenis obat menurut khasiat terdiri dari : 
1. Kapsul: obat dalam bentuk bubuk, cair atau minyak yang dibungkus dengan gelatin. 
2. Pil: bentuk obat lonjong atau bulat terdiri dari satu atau lebih obst ysng dicampur dengan bahan kohestif . 
3. Tablet: obat bubuk yang yang dikompresi dalam cakram, mengandung obat utama, zat pengikat. Zat pemisah, lubrikan dan pengisi. 
4. Kaplet: obat bubuk yang dipadatkan berbentuk lonjong, berdalut dan mudah ditelan. 
5. Sirup: larutan obat cair yang mengandung gula. 
6. Puyer: obat yang ditumbuk halus. 
7. Elixir: larutan manis berbau harum dari alkohol yang dopakai untuk campuran obat. 
8. Suspensi: beberapa macam obat yang dilarutkan dengan air. 
9. Salep: sediaan obat dalam bentuk semi padat. 
10. Krim: bentuk obat semi padat dipaki di kulit dengan dioleskan. 
11. Lotion: sediaan obat berupa emoli yang jernih dipakai di kulit. 
12. Larutan: zat berkhasiat dalam aqua atau pelarut. 
13. Gel/Jelly: obat semi padat, jernih dan tembus cahaya, mencair sewaktu dioleskan. 
14. Inhaler: sediaan berupa gas atau uap. 
15. Supositoria: obat yang dibungkus gelatin dan berbentuk peluru agar mudah dimasukkan dalam tubuh, segera meleleh pada suhu tubuh sehingga dapat diabsorbsi. 

Reaksi Obat yang diinginkan dengan efek terapi adalah : 
1. Paliatif: mengurangi gejala penyakit, tetapi tidak ada pengaruh terhadap penyakitnya, misalnya paracetamol untuk menurunkan panas 
2. Kuratif: efek obat untuk mengobati penyakit. Misalnya penicillin untuk mematikan metabolisme kuman. 
3. Suportif: meningkatkan respon tubuh sehingga dapat menerima obat lain. Misalnya: aspirin untuk menurunkan panas dan diberi lagi obat antibiotik 
4. Substitutif: berefek mengganti cairan dan substansi dalam tubuh. Mis: insulin 
5. Kemoterapi: obat yang berefek mematikan dan menghambat sel ganas Farmakologi | 85 
6. Restoratif; meningkatkan fungsi organ tubuh yang sehat. Misalnya: vitamin dan mineral tambahan. 

Efek samping obat yang biasanya menimbulkan perubahan dalam tubuh. Efek toksis (efek meracuni tubuh) terjadi karena dosis yang berlebihan dan tidak dapat diterima tubuh, hal ini terjadi beberapa jam, beberapa hari atau bulan setelah pemberian obat. Alergi obat (reaksi hipersensitif terhadap obat) terjadi pada orang yang daya sensitivitasnya tinggi. Orang yang hipersensitif terhadap obat akan menimbulkan berbagai gejala seperti: reaksi cepat yaitu 
anafilaksis shock: sesak nafas, hipotensi dan tachicardi sampai kematian, 

sedang reaksi lambat timbul gejala; 
- kemerahan pada kulit, 
- gatal-gatal pada kulit, 
- angioderma, 
- rinitis atau pilek, 
- mata berair, 
- mual, muntah ataupun diare. 
- sesak nafas dan wheezing. 


B. RESPON OBAT 

Beberapa respon obat adalah : 
1. Toleransi obat: adalah resistensi akibat pemakaian yang lama, sehingga dosis semakin lama semakin meningkat untuk mendapatkan hasil yang sama. 
2. Habituasi atau kebiasaan adalah pemakaian obat waktu lama dan ada gangguan emosional bila dihentikan, mis.nicotin dan kafein. 
3. Adiksi (ketagihan) adalah pemberian obat yang menyebabkan toleransi, bila dihentikan menimbulkan gejala putus obat serta penyalahgunaan obat yang menimbulkan efek euphoria mis: obat narkotik, morfin. 

Prinsip-prinsip pemberian obat ada 7 yaitu: 
Hak-hak klien dalam pemberian obat, 
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi respon obat, 
Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat, 
Menggambarkan rute pemberian obat, 
Mengidentifikasi berbagai tempat untuk pemberian parenteral, 
Menjelaskan perlengkapan dan tehnik pemberian, 
Metode untuk pemetaan obat. 


Enam benar dalam pemberian obat: 

Benar pasien, cocokkan nama dengan gelang identitas, 

Benar obat, minimal dibaca 3 kali: 
- pertama: saat membaca permintaan obat dan botolnya/labelnya dalam rak lemari obat,
- kedua: label obat dengan obat yang diminta, 
- ketiga: saat dikembalikan ke rak, bila label rusak atau meragukan sebaiknya dikembalikan ke farmasi, 86 | Farmakologi 

Benar dosis, bandingkan dengan buku terapi, 

Benar waktu dan frekuensi kapan diberikan obat dan kapan terakhir kali diberikan, 

Benar rute pemberian obat yang tepat dan memadai, sehingga ada berbagai cara pemberian obat seperti: topikal dan parenteral, 

Benar pendokumentasian obat (Gunawan, 2009). 


C. PEMBERIAN OBAT TOPIKAL 

Pemberian Obat topikal meliputi: pemberian secara Per Oral, melalui Kulit, melalui Hidung, melalui Mata, melalui Telinga, dan melalui Suppositoria. 

1. Pemberian obat per-oral 
Cara pemberian obat yang paling disukai adalah melalui oral atau mulut. 
a. Pengertian menyiapkan dan memberikan obat melalui mulut dan selanjutnya ditelan. 
b. Tujuan memberikan obat kepada klien melalui mulut secara tepat dan benar, sesuai dengan program pengobatan. 

Bentuk obat dan macam obat per oral yang tersedia adalah bentuk cair dan padat, dengan masing-masing tipe membutuhkan pertimbangan khusus saat diberikan pada klien. Misalnya saja, tablet enterik-bersolut seharusnya jangan dihancurkan, pemberian sirup obat batuk jangan pernah diikuti dengan pemberian cairan, dan obat-obat sublingual harus diletakkan di bawah lidah klien. Gambar pemberian obat per oral 

2. Pemberian Obat pada kulit 
a. Pengertian pemberian obat pada kulit berarti memberikan obat kepada klien melalui kulit. berbagai sediaan farmakologi dapat diberikan untuk beberapa tujuan yaitu: mempertahankan hidrasi lapisan kulit, Farmakologi | 87 melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit lokal, menciptakan anestesi lokal, atau mengatasi infeksi, abrasi. Setiap sediaan pada pemberian ini dapat menciptakan efek baik sistemik maupun lokal. Sediaan ini diberikan dengan sarung tangan maupun aplikator. Bila pada kulit ada luka terbuka penting untuk melakukan teknik steril dalam pemberiannya. Pemberian sediaan ini penting untuk melakukan pengkajian pada kulit klien secara keseluruhan dan mencatat setiap perubahan integritas kulit klien. Bentuk obat berupa krim, lotion, aerosol, sprai, bubuk. 
b. Hal yang perlu diperhatikan jika memberikan pasta nitrogliserin, harus menghindari bagian berambut yang dapat mengganggu absorpsi obat. Kaji klien terhadap alergi pada obat topikal. Hindari pengolesan atau penggosokkan kulit saat memberikan krim, salep atau lotion. Ini dapat menyebabkan iritasi kulit.
c. Penyuluhan pada keluarga dan klien, kaji pengetahuan klien tentang kerja dan tujuan pengobatan. Tentukan apakah klien secara fisik mampu mengoleskan obat. Ingatkan klien terhadap penggunaan obat yang terlalu banyak, karena dapat mengganggu absorpsi obat. Pastikan klien tahu tanda-tanda reaksi lokal dari obat-obat topikal. 
d. Pemberian obat topikal pada anak-anak, bila mengoleskan obat topikal pada kulit anak kecil, sebaiknya menutup area yang sakit dengan balutan kering, karena ia sering mencoba menggosok obat. Gambar pemberian obat melalui kulit 

3. Pemberian Obat Mata 
a. Pemberian Obat Mata adalah memberikan obat melalui mata. Mata adalah organ yang sangat sensitif. Kornea, bagian anterior bola mata, 88 | Farmakologi sangat banyak mengandung serabut nyeri yang sensitif. Bila memberikan obat melalui mata hendaknya menghindari memberikan tetes mata langsung pada permukaan kornea sehingga ketidaknyamanan klien dapat diminimalkan. Juga penting waspada dalam memberikan obat mata sehingga aplikator tidak membuat sentuhan yang mencederai permukaan mata. 

b. Tujuan Obat mata diberikan untuk : 
a. Mendilatasikan pupil 
b. Pemeriksaan struktur internal mata 
c. Melemahkan otot lensa mata 
d. Pengukuran refraksi lensa 
e. Menghilangkan iritasi local 
f. Mengobati gangguan mata 
g. Meminyaki kornea dan konjungtiva. 

c. Kewaspadaan Bidan Untuk menghindari efek samping sistemik obat tertentu, pastikan untuk menghambat duktus nasolakrimalis (pada bagian dalam kantus) setelah memberikan obat. 

d. Penyuluhan Klien Dengan memberikan penyuluhan tentang cara pemberian obat pada mata diharapkan klien mengetahui tehnik pemberian obat yang tepat dan benar. Klien juga harus mengetahui bahwa persiapan dilakukan dengan teknik steril dan jangan pernah menggunakan obat mata yang diresepkan untuk anggota keluarga yang lain. 

e. Hal yang perlu dipertimbangkan pada pediatric Anak mudah merasa takut bila menerima obat mata. Bicaralah dengan perlahan pada bayi atau anak kecil dan pastikan untuk menahan kepala anak untuk mencegah gerakan selama melakukan tetesan pada mata. Perputaran posisi kepala anak yang mendadak menimbulkan aplikator menusuk mata secara tidak sengaja. Hal ini akan membantu bila tangan yang memegang penetes berada di atas dahi anak sehingga tangan bergerak secara sinkron dengan gerakan kepala. Farmakologi | 89 Gambar pemberian obat mata 

4. Menggunakan inhaler 
Dosis terukur pernafasan atau inhaler tujuannya untuk memberikan obat kepada klien melalui saluran lendir hidung dan saluran pernafasan. Dilakukan pada klien dengan: Sesak nafas, Rhenitis dan sinusitis; Asthma bronchiale; Pasca Trackeostomi; Penyakit ISPA yang ada sumbatan lendir. Obat yang diberikan melalui inhaler yang disemprotkan melalui sprai aerosol, uap, atau bubuk halus untuk menembus jalan napas. Meskipun obat ini dirancang untuk menghasilkan efek local (mis, bronkodilator atau secret cair), obat diabsorpsi dengan cepat melalui sirkulasi pulmonary dan dapat menciptakan efek sistemik. Sebagai contoh, isoproterenol adalah bronkodilator, tetapi ini dapat juga menyebabkan aritmia jantung. 

a. Hal yang perlu diwaspadai Klien dapat tersedak atau menelan obat bila tidak dapat menghirup saat semprotan diberikan. Kebutuhan klien terhadap bronkodilator lebih sering dari setiap 4 jam dapat menandakan memburuknya kondisi respiratori. Klien yang menggunakan inhaler steroid beresiko terhadap infeksi topical Candida pada mulut dan faring posterior. Bidan harus mengobservasi adanya area putih luas pada mulut klien. 
b. Penyuluhan Klien Ajarkan klien tentang penggunaan inhaler yang tepat dan efek samping umum yang harus diketahui. Jelaskan tanda-tanda dan gejala –gejala umum kelebihan penggunaan seperti adanya; takikardia, palpitasi, sakit kepala, gelisah, dan insomnia. Instruksikan klien untuk membersihkan inhaler dengan tepat untuk menghindari transmisi mikroorganisme. Instruksikan klien untuk melihat mulut tiap hari terhadap tanda infeksi Candida; berupa lesi putih pada mulut. 90 | Farmakologi 
c. Pertimbangan Pediatri Anak-anak mungkin tidak mampu untuk belajar cara penggunaan inhaler, perlu untuk menutup hidung mereka selama inhalasi untuk mendapatkan efek obat. Gambar pemberian obat inhaler 

5. Tetes Hidung 
Adalah memberikan obat tertentu dengan cara meneteskannya ke dalam hidung. Tujuannya untuk untuk mengurangi rasa sakit dan menghilangkan sumbatan pada hidung. Gambar pemberian obat tetes hidun 

6. Memasukkan Obat vaginal 
a. Pengertian Pemberian obat vagina adalah memberikan obat pada klien melalui vagina. Bertujuan untuk pengobatan pada infeksi local pada vagina. Obat vaginal tersedia dalam bentuk krim dan supositoria dan digunakan untuk mengobati infeksi local atau inflamasi. Penting untuk menghindari rasa malu klien bila memberikan sediaan ini. Sering kali klien lebih memilih untuk belajar cara memberikan obat ini sendiri. Karena keluhan yang merupakan gejala infeksi vagina berbau sangat tidak sedap. Obat yang diberikan melalui vagina dalam bentuk kapsul, Farmakologi | 91 tablet atau krim. Prosedur pemberiannya sama dengan saat menggunakan alat untuk memasukkan suppositoria. 
b. Yang perlu diperhatikan Bila supositoria tidak berhasil larut dan keluar dalam bentuk padat, periksa tanggal kadaluarsa pada bungkusnya. 
c. Penyuluhan Klien Klien sering lebih memilih untuk belajar cara pemberian preparat vaginal sendiri. Dengan menggunakan pendekatan tahap demi tahap, memungkinkan klien memperagakan teknik tersebut. Penting agar klien memasukkan supositoria atau krim dengan benar ke dalam lubang vagina. Supositoria aman diberikan. Bidan harus memperhatikan terutama pada penempatan supositoria dengan benar pada dinding mukosa rektal, melewati sfingterani interna, sehingga supositoria tidak akan dikeluarkan. Klien yang mengalami pembedahan rektal atau mengalami perdarahan rektal jangan pernah diberikan supositoria (Tambayong Jan, 2022). Gambar pemberian obat Vagina 


D. PEMBERIAN OBAT PARENTERAL ATAU INJEKSI 

Ada berbagai teknik untuk memberikan obat secara parenteral yaitu dengan cara intracutan, subkutan, intramuskuler dan intravena. Pengertian tentang prinsip pemberian obat parental bidan harus mengetahui efek pengobatan dengan pemberian jumlah dosis obat yang akan diberikan, cara dan indikasi yang benar. Obat adalah suatu bahan yang digunakan untuk menentukan diagnose, Pengobatan, penyembuhan, perbaikan kondisi, pengurangan rasa sakit dan 92 | Farmakologi pencegahan terhadap suatu penyakit kepada manusia maupun hewan (Katzung, n.d.) 

Pemberian obat secara parenteral 

a. Pengertian Adalah: Memberikan obat melalui parenteral yaitu memasukkan obat ke dalam jaringan tubuh dengan mengggunakan spuit atau semprit dan jarum suntik steril 

b. Tujuan : 
1) Mencegah penyakit yaitu dengan memberikan imunisasi: DPT, ATS, BCG. 
2) Mempercepat reaksi obat dalam tubuh untuk mempercepat proses penyembuhan 
3) Melaksanakan uji coba (manthoux test, skin test) 
4) Melaksanakan tindakan diagnostik mis; kontras 

c. Dilakukan pada: 
a. Klien memerlukan obat dengan reaksi cepat 
b. Klien yang tidak dapat diberi obat melalui mulut ( per-oral) 
c. Klien dengan penyakit tertentu yang harus mendapat pengobatan dengan cara suntikan mis: streptomycine, insulin. 

Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. Bidan harus mematahkan leher ampul untuk dapat mendapatkan obat. Saat menghisap obat, Bidan menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. Menyentil bagian atas ampul Farmakologi | 93 Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Vial berisi medikusi dalam bentuk cairan dan/atau kering. Vial merupakan sistem tertutup, dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit (Eny Retno A, 2011) Mengambil obat dari Vial Yang perlu diwaspadai: Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. Berhati-hatilah saat mematahkan leher ampul, pecahan kaca dapat melukai tangan dan jari anda. 
1. Pemberian obat dengan cara intrakutan 

a. Pengertian Adalah cara memberikan obat dengan dengan memasukkan obat kedalam kulit 

b. Tujuan 
1) Kerjanya efeknya lokal 
2) Jumlah yang diinjeksikan kecil sehingga volume tidak terganggu dengan pembengkakan atau reaksi sistemik 
3) Dipakai untuk tes terhadap alergi obat: tuberkulin, antibiotik 

c. Lokasi injeksi intrakutan 
Lokasi dipilih pada daerah yang mudah diamati seperti; yang tidak banyak mengandung pigmen, berkeratin tipis, tidak berambut. Daerah yang sesuai kriteria adalah: 94 | Farmakologi 
- ventral lengan bawah 
- daerah klavikula 
- permukaan media paha Posisi jarum saat memberikan injeksi secara intrakutan 

2. Pemberian Obat dengan cara Subkutan 

Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat, Bidan harus mengetahui volume obat yang akan diberikan, karakteristik obat, dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik. 
a. Pengertian Injeksi atau untikan subkutan 
Memasukkan obat ke dalam jaringan di bawah dermis. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah, absorpsi obat agak sedikit lambat Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri, jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air, dan tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. 
b. Lokasi penyuntikan 
Lokasi penyuntikan subkutan pada bagian tubuh yang ada bantalan lemak dengan ukuran memadai seperti pada: abdomen, paha atas sisi Farmakologi | 95 lateral, punggung bagian atas, dan lengan atas sisi lateral. Posisi jarum saat di injeksikan yaitu 450 dari permukaan kulit (Eny Retno A, 2011) Lokasi injeksi pada lengan Apabila klien terus menerus mendapatkan obat yang diinjeksikan secara intrakutan maka lokasi injeksi subkutan secara bergantian sesuai gambar di bawah ini. Gambar injeksi subkutan 
c. Kewaspadaan Bidan 
Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi, cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. 96 | Farmakologi 
d. Penyuluhan Klien 
Klien yang tergantung pada insulin mungkin harus belajar cara penyuntikan insulin sendiri, atau keluarganya, bila tidak ada anggota keluarga ada baiknya untuk mengajarkan klien tentang teknik aseptic dari dasar insulin, pemilihan dan rotasi tempat penyuntikan dan teknik penyuntikan insulin. 
e. Pertimbangan Pediatri 
Meminta keluarga untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. Ada baiknya untuk tidak memperlihatkan spuit pada anak untuk meminimalkal ansietas. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anak. Setelah penyuntikan tenangkan anak (Eny Retno A, 2011) 

3. Pemberian obat dengan cara intramuskular 
a. Pengertian Injeksi atau suntikan intramuskuler adalah : 
Memasukkan obat ke dalam jaringan di otot. Karena jaringan otot tidak mempunyai banyak pembuluh darah, absorpsi obat agak sedikit lambat. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. Namun, ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah, jika tidak cermat. 
b. Lokasi penyuntikan Lokasi penyuntikan intramuskuler pada bagian tubuh yang ada bantalan lemak dengan ukuran memadai seperti pada: paha 1/3 tengah pada sisi lateral, dan Gluteus maksimus. Posisi jarum saat di injeksikan kedalam otot adalah dengan sudut 900 dari permukaan kulit. Farmakologi | 97 Gambar lokasi pemberian injeksi intramuscular 
c. Yang dipertimbangkan pada ibu Ingatlah juga bahwa Ibu yang sudah lansia mungkin tidak mampu mentoleransi lebih dari 2 ml suntikan intramuskular. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat karena vakularitas otot. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritas. Namun, ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah, jika tidak cermat. 

4. Pemberian obat dengan cara intra vena 
a. Pengertian Pemberian larutan obat langsung ke dalam vena dengan teknik bolus adalah metoda paling berbahaya dalam pemberian obat. Obat ini bekerja dengan cepat karena langsung masuk ke dalam sirkulasi klien. Efek samping yang serius dapat terjadi dalam beberapa detik. Jadi, sangat penting bahwa perawat menetap-kan waktu pemberian dengan hati-hati untuk mencegah penginfusan terlalu cepat. Obat mungkin diberikan per intravena melalui heparin lock atau infus IV yang sudah ada. Obat IV sering diberikan dengan bolus pada situasi kedaruratan ketika diperlukan kerja obat yang cepat. Teknik ini juga digunakan untuk menghindari pencampuran obat yang tidak cocok. 
b. Tujuan tindakan pengobatan 

Tindakan pengobatan : 
1) Obat langsung masuk pembuluh darah 
2) Memberikan obat dalam jumlah yang banyak
3) Memberikan obat khusus lewat intra vena 98 | Farmakologi 
4) Gangguan pemberian obat melalui oral 

c. Keunggulan 
1. Reaksi lebih cepat 
2. Baik untuk keadaan darurat 
3. Baik untuk obat yang jumlahnya banyak 

d. Kelemahan 
4. Bila salah akibatnya fatal 
5. Bila klien alergi reaksinya cepat 
6. Tidak semua obat dapat diberikan secara intravena (IV) 

e. Lokasi Pemberian Obat dengan Bolus Intravena : 

1) Tangan bagian depan : 
a) Vena dorsal metacarpal 
b) Vena cephalika 
c) Vena basilika 

2) Tangan bagian belakang : 
a) Vena radial, medial antebrachial 
b) Vena median cubiti, vana cephalika Kaki 
c) Vena dorsal plexus, vena dorsal arcus, vena saphena magna 

Gambar pemberian injeksi intra vena 
f. Kewaspadaan Bidan Ketahui efek samping potensial dari obat. Obat dapat bekerja dengan cepat. 
g. Penyuluhan Klien Jelaskan tujuan dan kerja obat pada klien. Farmakologi | 99 
h. Pertimbangan Pediatri Dosis pediatri adalah kecil. Pastikan bahwa anak menerima obat yang ada di dalam Volutrol juga obat yang ada di dalam selang (Eny Retno A, 2011)

No comments:

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi 1. Pengertian Sediaan oral khusus → obat yang diberikan melalui mulut dengan formula khus...