KETERAMPILAN PROSEDUR PRAKTIK KEBIDANAN - Nurliyani, S.S.T., M.Kes
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam memberikan
asuhannya secara aman dan bertanggung jawab. Didasari kompetensi tersebut,
bidan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam
memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan pasien secara optimal.
A. PRINSIP DASAR DAN TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK
Tujuan umum pemeriksaan fisik adalah untuk memperoleh informasi
mengenai status kesehatan pasien. Tujuan definitif pemeriksaan fisik adalah,
pertama untuk mengidentifikasi status “normal” dan kemudian mengetahui
adanya variasi dari keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi
keluhan-keluhan dan gejala-gejala pasien, penapisan/skrining keadaan
wellbeing pasien, dan pemantauan masalah kesehatan/penyakit pasien saat ini.
Informasi ini menjadi bagian dari catatan/rekam medis (medical record)
pasien, menjadi dasar data awal dari temuan temuan klinis yang kemudian
selalu diperbarui (updated) dan ditambahkan sepanjang waktu.
Pemeriksaan
fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah
kesehatan yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk
mengumpulkan data tentang kesehatan pasien, menambah informasi atau
menyangkut data dari riwayat pasien, mengindetifikasi masalah pasien,
menilai perubahan status pasien serta untuk mengevaluasi pelaksanaan
tindakan yang telah diberikan. Dalam melakukan pemeriksaaan fisik terdapat
tehnik dasar yang perlu dipahami, diantaranya: inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi.
Teknik-teknik tersebut secara keseluruhan disebut sebagai
observasi/pengamatan, dan harus dilakukan sesuai dengan urutan di atas, dan
setiap teknik akan menambah data yang telah diperoleh sebelumnya. Dua
perkecualian untuk aturan ini, yaitu jika usia pasien atau tingkat keparahan
gejala memerlukan pemeriksaan ekstra dan ketika abdomen yang diperiksa.
1. Inspeksi
melihat dan mengevaluasi pasien secara visual dan
merupakan metode tertua yang digunakan untuk mengkaji/menilai pasien.
Sebagai individu-individu, kita selalu menilai orang lain setiap hari,
membangun kesan pada pikiran kita mengenai orang lain, memutuskan
apakah kita menyukai atau tidak menyukai mereka, dan secara umum
akan tetap bersama mereka atau sebaliknya menjauhi mereka. Yang tidak
kita sadari, sebenarnya kita telah melakukan inspeksi. Inspeksi juga
menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk mengetahui
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 35
lebih lanjut, lebih jelas dan memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan
dikaitkan dengan suara atau bau yang berasal dari pasien. Pemeriksa
kemudian akan mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang
diterima oleh semua indera tersebut, baik disadari maupun tidak disadari,
dan membentuk opini, subyektif dan obyektif, mengenai pasien, yang
akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis dan terapi.
Pemeriksa yang telah melakukan observasi selama bertahun-tahun (ahli)
melaporkan bahwa mereka seringkali mempunyai persepsi intuitif
mengenai sumber/penyebab masalah kesehatan pasien segera setelah
melihat pasien.
Cara efektif melakukan inspeksi adalah sebagai berikut :
a. Atur posisi sehingga bagian tubuh dapat diamati secara detail
b. Berikan pencahayaan yang cukup
c. Lakukan inspeksi pada area untuk ukuran, bentuk, warna,
kesimetrisan, posisi, dan abnormalitasnya.
d. Bandingkan area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya.
e. Jangan melakukan inspeksi secara terburu-buru.
2. Palpasi
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan, adalah langkah
kedua pada pemeriksaan pasien dan digunakan untuk menambah data
yang telah diperoleh melalui inspeksi sebelumnya.
Palpasi struktur
individu,baik pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama
pada abdomen, akan memberikan informasi mengenai posisi, ukuran,
bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-komponen anatomi
yang normal, dan apakah terdapat abnormalitas misalnya pembesaran
organ atau adanya massa yang dapat teraba.
Palpasi juga efektif untuk
menilai menganai keadaan cairan pada ruang tubuh. Palpasi dibutuhkan
kelembutan dan sensivitas, untuk itu hendaknya menggunakan permukaan
palmar jari, yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tektur,
konsistensi, bentuk masa dan pulsasi.
3. Perkusi
Perkusi merupakan pemeriksaan dengan melakukan pengetahuan pada
bagian tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengetahui ukuran, batasan,
konsistensi, organ-organ tubuh, dan menetukan adanya cairan dalam
rongga tubuh.
Ada dua cara dalam perkusi yaitu cara langsung dan cara tidak langsung.
Cara langsung dengan mengetuk secara langsung
menggunakan satu atau dua jari.
cara tidak langsung dengan
menempatkan jari tengah tangan diatas permukaan tubuh dan jari tangan
lain dan telapak tidak pada permukaan kulit, setelah kulit setelah
mengetuk jari tangan ditarik kebelakang.
4. Auskultasi
Auskultasi merupakan cara pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi
yang dihasilkan oleh tubuh melalui alat stetoskop. Dalam melakukan
auskultasi beberapa hal yang perlu didengarkan diantaranya :
a. Frekuensi atau siklus gelombang bunyi
b. Kekerasan atau amplitude bunyi
c. Kualitas bunyi dan lamanya bunyi.
B. PENGKAJIAN UMUM DAN PEMERIKSAAN FISIK
Berikut ini beberapa pengkajian umum pada tingkat kesadaran :
Kesadaran Tanda
Komposmentis
Klien sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua
pertanyaantentang keadaan sekelilingnya
Apati
Keadaan klien dimana klien enggan untuk
berhubungan dengan lingkungan disekitarnya,
bersikap acuh tak acuh
Latargi Keadaan klien dimana klien tampak lesu dan
mengantuk
Somnolen
Keadaan dimana klien selalu mau tidur saja,
dapat dibangunkan dengan rasa nyeri atau
untuk makan danminum, namun jatuh teridur
kembali.
Delirium Keadaan kacau motorik yang sangat, memberontak,
rteriak- teriak dan tidak sadar terhadap orang lain,
tempat dan waktu.
Sopor/semikoma
Keadaan kesadaran klien yang mirip dengan
koma, tidak menunjukkan reaksi ketika
dibangunkkan kecuali denganrangsangan nyeri,
masih ada reaksi pupil
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 37
Koma
Kesadaran klien yang hilang sama sekali
walaupun sudahdiberi rangsang apapun, termasuk
rangsang batuk atau muntah
C. PEMERIKSAAN FISIK PADA IBU HAMIL
Pada ibu hamil pemerikasaan dapat dilakukan dengan pemeriksaan
secara umum dan pemeriksaan kebidanan.
1. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum pada ibu hamil bertujuan untuk menilai keadaan
umum ibu, status gizi, tingkat kesadaran, serta tidak adanya kelainan
bentuk badan.
2. Pemeriksaan Head to toe
Pemeriksaan head to toe adalah pemeriksaan yang dilakukan secara
sistematis mulai dari :
a. Kepala
b. Wajah : mata, hidung, telinga, dan mulut
c. Leher
d. Dada (payudara)
e. Abdomen
f. Genetalia
g. Ekstermitas.
3. Pemeriksaan Kebidanan
a. Inspeksi
Inspeksi, menilai keadaan dan tidaknya cloasma gravidarum pada
muka/wajah, pucat atau tidakpada selaput mata, ada tidaknya edema.
Pemeriksaan selanjutnya adalah leher untuk menilai ada tidaknya
pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar limfe. Pemeriksaan dada
untuk menilai bentuk buah dada, pigmentasi putting susu.
Pemeriksaan perut untuk menilai apakah perut membesar ke depan,
atau samping, keadan pusat, pigmentasi linia alba, serta ada tidaknya
striae gravidarum. Pemeriksaan pada vulva untuk menilai keadaan
perineum, ada tidaknya tanda Chadwick, dan adanya flour. Dan
pemeriksaan ekstermitas untuk menilai ada tidaknya varises.
38 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan
b. Palpasi
Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan menentukan
usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim.
Pemeriksaan
secara palpasi dilakukan dengan menggunakan metode Leopold.
1) Leopold I
Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian
apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksa berdiri sebelah
kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu di bengkokkan
pada lutut dan lipatan paha, lengkungan jari-jari kedua tangan untuk
mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang ada dalam
fun- dus. Bila kepala sifatnya keras, bundar dan melenting. Sedangkan
bokong akan lunak dan kurang bundar dan kurang melenting. Apabila
ingin menentukan usia kehamilan rumusnya.
Menurut Mc. Donald
(a) Cara Leopold I,
(b) Tinggi Fundus Uteri berdasarkan palpasi Leopold
2) Leopold II
Leopold II digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan
letak bagian kecil pada anak. Caranya letakkan kedua tangan pada sisi
uterus, dan trntukan dimanakah bagian terkecil bayi.
3) Leopold III
Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat
dibagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah masuk atau
belum kepintu atas panggul. Caranya tekan dengan menggunakan ibu
jari dan jari tengah pada salah satu tangan secara lembut dan masuk
kedalam abdomen pasien diatas sympisis pubis dan peganglah bagian
presentasi bayi, lalu bagian apakah yang menjadi presentasi tersebut.
4) Leopold IV
Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian
bawah dan seberapa masuknya bagian bawah ter- sebut kedalam
rongga panggul. Caranya letakkan kedua tangan disisi bawah uterus,
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 39
lalu tekan kedalam dan gerakkan jari-jari kearah rongga panggul,
dimanakah tonjolan sefalik dan apakah bagian presentasi telah masuk
kedalam rongga panggul. Pada pemeriksaan ini tidak m dilakukan
bila kepala dan pemeriksaan Leopold lengkap dapat dilakukan bila
janin cukup besar kira-kira umur kehamilan 24 minggu keatas.
c. Perkusi biasanya dilakukan untuk mengetahui fungsi refleks patella
pada ibu hamil dengan menggunakan alat hammer.
d. Auskultasi dilakukan umumnya dengan stetoskop monoaural untuk
mendengarkan bunyi jantung janin, bising tali pusat, gerakan anak,
bising rahim, bunyi aorta serta bising usus. Bunyi jantung janin dapat
didengar jelas pada akhir bulan ke 5, walaupun dengan ultrasonografi
dapat diketahui pada akhir bulan ketiga. Bunyi jantung janin dapat
terdengar dikiri dan kanan dibawah pusat bila presentasi kepala bila
terdengar setinggi pusat maka presentasi didaerah bokong.
Dalam keadaan sehat denyut jantung janin antara 120-140 kali/ menit.
Cara menghitung bunyi jantung janin dengan mendengarkan satu
menit penuh. Bila kurang dari 120kali/ menit atau lebih dari 160
kali/menit dikhawatirkan janin dalam keadaan hipoksia.
D. PRINSIP KEBUTUHAN HYGINE PADA IBU DAN BAYI
Konsep personal higiene atau perawatan diri
1. Pengertian
Perawatan diri atau personal higiene adalah salah satu
kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna
memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai
dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan
dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes2000).
2. Tujuan dari personal hygiene
Tujuan dari personal hygiene adalah:
a. Menghilangkan minyak yang menumpuk, keringat , sel-sel kulit yang
mati dan bakteri
b. Menghilangkan bau badan yang berlebihan
c. Memelihara integritas permukaan kulit
d. Menstimulasi sirkulasi / peredaran darah
e. Meningkatkan perasaan nayman bagi klien
f. Memberikan kesempatan untuk mengkaji kondisi kulit klien.
g. Meningkatkan percaya diri seseorang
h. Menciptakan keindahan
i. Memelihara kebesrsihan diri
j. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
3. Dampak yang Timbul pada Masalah Personal Hygiene
Dampak yang
sering timbul pada masalah personal hygiene (Tarwoto & Wartonah,
2004) meliputi:
a. Fisik
Gangguan kesehatan fisik yang diderita seseorang karena tidak
terpelihara kebersihan perorangan adalah gangguan integritas kulit,
gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan
gangguan fisik pada kuku.
b. Psikososiol
Masalah psikososial yang berhubungan dengan personal hygiene
adalah dengan gangguan pemenuhan kebutuhan personal higiene,
maka yang berkaitan dengan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan
dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan
interaksi sosial juga terjadi gangguan semisal ada gangguan pada
kulit, maka akan menimbulkan individu merasa kurang nyaman,
kurang percaya diri dalam hal menyintai dan dicintai, interaksi sosial
maupun aktulisasi.
Tipe personal hygiene
1. Kesehatan Gigi dan Mulut
Mulut beserta lidah dan gigi merupakan sebagian dari alat pencerna
makanan. Makanan sebelum masuk ke dalam perut, perlu dihaluskan,
maka makanan tersebut dihaluskan oleh gigi dalam rongga mulut. Lidah
berperan sebagai pencampur makanan, penempatan makanan agar dapat
dikunyah dengan baik dan berperan sebagai indera perasa dan pengecap.
Seperti halnya dengan bagian tubuh yang lain, maka mulut dan gigi juga
perlu perawatan yang teratur dan seyogyanya sudah dilakukan sejak
kecil. Gosok gigi merupakan upaya atau cara yang terbaikuntuk
perawatan gigi dan dilakukan paling sedikit dua kali dalamsehari yaitu
pagi dan pada waktu akan tidur. Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi,
bersih, bercahaya, gigi tidak berlubang dan didukung oleh gusi yang
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 41
kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan
mulut mengeluarkan bau yang tidak mengganggu interaksi sosial.
2. Kesehatan Rambut dan Kulit Rambut
Rambut berbentuk bulat panjang, makin ke ujung makin kecil dan
ujungnya makin kecil. Pada bagian dalam berlubang dan berisi zat warna.
Warna rambut setiap orang tidak sama tergantung zat warna yang ada
didalamnya. Rambut dapat tumbuh dari pembuluh darah yang ada
disekitar rambut. Rambut merupakan pelindung bagi kulit kepala dari
sengatan matahari dan hawa dingin. Dalam kehidupan sehari-hari sering
nampak pemakaian alat perlindungan lain seperti topi, kain kerudung dan
masih banyak lagi yang lain. Penampilan akan lebih rapi dan menarik
apabila rambut dalam keadaan bersih dan sehat. Sebaliknya rambut yang
dalam keadaan kotor, kusam dan tidak terawat akan terkesan jorok dan
penampilan tidak menarik. Rambut adalah bagian tubuh yang paling
banyak mengandung minyak. Karena itu kotoran, debu, asap mudah
melekat ,maka perawatan rambut dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti menyisir dan mencuci rambut. Rambut yang sehat yaitu tidak
mudah rontok dan patah, tidak terlalu berminyak dan terlalu kering serta
tidak berketombe maupun berkutu.
3. Kesehatan Kulit
Kulit terletak diseluruh permukaan luar tubuh. Secara garis besar kulit
dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian luar yang disebut kulit ari dan
bagian dalam yang disebut kulit jangat. Kulit ari berlapis-lapis dan secara
garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu lapisan luar
yangdisebut lapisan tanduk dan lapisan dalam yang disebut lapisan
malpighi. Kulit jangat terletak disebelah bawah atau sebelah dalam dari
kulit ari. Kulit merupakan pelindung bagi tubuh dan jaringan
dibawahnya. Perlindungan kulit terhadap segala rangsangan dar iluar,
dan perlindungan tubuh dari bahaya kuman penyakit. Sebagai pelindung
kulitpun sebagai pelindung cairan-cairan tubuh sehingga tubuh tidak
kekeringan dari cairan. Melalui kulitlah rasa panas, dingin dan nyeri
dapat dirasakan. Guna kulit yang lain sebagai alat pengeluaran sisa
metabolisme berupa zat yang tidak terpakai melalui keringat yang keluar
lewat pori-pori. Pada masa yang modern sekarang ini tersedia berbagai
cara modern berbagai perawatan kulit. Namun cara paling utama dan
42 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan
efisien adalah pembersihan badan dengan cara mandi. Perawatan kulit
dilakukan dengan cara mandi 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, dengan air
yang bersih. Kulit yang sehat yaitu kulit yang selalu bersih, halus, tidak
ada bercak-bercak merah, tidak kaku tetapi lentur (fleksibel).
4. Kesehatan Telinga Telinga dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu bagian
paling luar, bagian tengah, dan daun telinga. Telinga merupakan alat
pendengaran, sehingga berbagai macam bunyi- bunyi suara dapat
didengar. Disamping sebagai alat pendengaran telinga juga dapat
berguna sebagai alat keseimbangan tubuh. Menjaga kesehatan telinga
dapat dilakukan dengan pembersihan yang berguna untuk mencegah
kerusakan dan infeksi telinga. Telinga yang sehat yaitu lubang telinga
dan telinga bagian luar selalu bersih serta dapat mendengar dengan jelas.
5. Kesehatan Mata
Pembersihan mata biasanya dilakukan selama mandi untuk membersih
kantus mata untuk mencegah sekresi dari pengeluaran ke dalam kantong
lakrimal, guna mencegah penyebaran infeksi. Jika Tekanan langsung
jangan digunakan diatas bola mata karena dapat meyebabkan cedera
serius. Klien yang tidak sadar memerlukan perawatan mata yang lebih
sering. Sekresi bisa berkumpul sepanjang margin kelopak mata dan
kantus sebelah dalam bila refleks berkedip tidak ada atau ketika mata
tidak dapat menutup total. Maka perlu diberi tetes mata untuk mencegah
cedera kornea.
6. Kesehatan Hidung Klien biasanya mengangkat sekresi hidung secara
lembut dengan membersihkan ke dalam dengan tisu lembut. Hal ini
menjadi hygiene harian yang diperlukan. jangan mengeluarkan kotoran
dengan kasar karena mengakibatkan tekanan yang dapat mencenderai
gendang telinga, mukosa hidung, dan bahkan struktur mata yang sensitif.
Perdarahan hidung adalah tanda kunci dari pengeluaran yang kasar, iritasi
mukosa, atau kekeringan.
7. Kesehatan Kuku
Kuku terdapat di ujung jari bagian yang melekat pada kulit yang terdiri
dari sel-sel yang masih hidup. Bentuk kuku bermacam-macam
tergantung dari kegunaannya ada yang pipih, bulat panjang, tebal dan
tumpul Guna kuku adalah sebagai pelindung jari, alatkecantikan, senjata,
pengais dan pemegang. Bila untuk keindahan bagi wanita karena kuku
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 43
harus relatif panjang, maka harus dirawat terutama dalam hal kebersihannya.
Kuku jari tangan maupun kuku jari kaki harus selalu terjaga kebersihannya
karena kuku yang kotor dapat menjadi sarang kuman penyakit dan
menunjukkan kebersihan individu. yang selanjutnya akan ditularkan kebagian
tubuh yang lain.
Praktik Personal Hygine dalam Kebidanan
a. Memandikan Ibu
Tindakan memandikan ibu dilakukan pada pasien dengan kondisi tidak
dapat mandi sendiri, pada ibu post-SC yang belum bisa mobilisasi
sendiri.
Persiapan alat dan bahan
1) Basakom mandi 2 buah berisi air hangat dan air dingin
2) Pakaian pengganti
3) Kain penutup
4) Handuk
5) Waslap
6) Tempat untuk pakaian kotor
7) Sampiran
8) Sabun
Prosedur pelaksanaan
1) Menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan
2) Cuci tangan dengan sabun dan mengalir
3) Atur posisi
4) Lakukan tidakan diawali dengan membentangkan handuk dibawah
kepala. Kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan waslap.
Keringkan dengan handuk.
5) Kain penutup diturunkan, kedua tanganpasien dinaikkan ke atas,
handuk diats dada apasien dipindahkan dan dibentangkan. Kemudian
kembalikan kedua tangan ke posisi awal di atas handuk, lalu basahi
kedua tangan air bersih. Keringkan dengan handuk.
6) Kedua tangan dinaikkan ke atas, handuk dipindahkan di sisi pasien
lalu bersihkan daerah dada perut. Keringkan dengan handuk.
7) Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan di bawah punggung
sampai glutea dan basahi punggung hingga glutea, lalu dikeringkan
44 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan
dengan handuk. Selanjutnya miringkan pasien ke posisi telentang dan
pasangkan pakaian dengan rapi
8) Letakan handuk di bawah lutut, lalu bersihkan kaki. Kaki yang paling
jauh didahulukan dan dikeringkan dengan handuk.
9) Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut
dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan genitalia. Setelah
selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi.
10) Cuci tangan
b. Memandikan bayi
Pada saat memandikan jangan sampai air masuk kemulut bayi, perhatikan
adanya kelainan kulit dan jangan terjadi hipotermia. Persiapan alat dan
bahan :
1) Bak mandi
2) Perlengkapan bayi
3) Air hangat
4) Handuk
5) Sabun bayi
6) Sampo
7) Kapas DTT
8) Waslap
Prosedur pelaksanaan
1) Memberikan kepada keluarga prosedur yang akan dilakukan
2) Mencuci tangan dengan sabun, dan air mengalir
3) Memasatikan ruangan dalam keadaan hangat dan bersih
4) Menyiapkan air hangat di bak mandi dan cek kehangatan dengan
menggunkan punggung tangan atau siku
5) Melepaskan pakaian bayi
6) Bersihkan yinja didaerah pantan sebelu memandikan dengan kapas
DTT
7) Meletakan bayi di handuk
8) Sanggah bayi sambil mengusap air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi
9) Sabuni seluruh badan bayi dan tali pusat kecuali muka, usap muka
dengan waslap yang sudah dibasahi air DTT sampai bersih.
Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 45
10) Jika bayi laki laki tarik kulup (prepusium) kebelakang dan cuci
11) Celupkan bayi dalam bak mandi disanggah
12) Bilas sabun dengan cepat, sambil menyangga kepala dan terutama
punggung bayi.
13) Dengan handuk kering dan bersih.
14) Tempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering
15) Kenakan popok dengan pas, tidak terlalu ketat
16) Yakinkan bahwa ujung atas popok berada di bawah sisa tali pusat
17) Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja segera cuci.
18) Kenakan pakaian yang berish dan kering
19) Memberikan bayi ke ibu untuk di susui
20) Membersihkan alat
21) Cuci tanga.
Vulva hygine
Merupakan kegiatan yang rutin bidan lakukan pada ibu post partum atau ibu
dalam keadaan lainnya. Vulva hygine merupakan suatu tindakan memelihara
kebersihan dan kesehatan oragn eksternal genetalia perempuan. Tindakan
vulva hygine merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan dalam
prosedur asuhaan kebidanan
No comments:
Post a Comment