Wednesday, March 11, 2026

KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN - BAB 3 KETERAMPILAN PROSEDUR PRAKTIK KEBIDANAN

KETERAMPILAN PROSEDUR PRAKTIK KEBIDANAN - Nurliyani, S.S.T., M.Kes

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam memberikan asuhannya secara aman dan bertanggung jawab. Didasari kompetensi tersebut, bidan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan pasien secara optimal. 

A. PRINSIP DASAR DAN TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK 

Tujuan umum pemeriksaan fisik adalah untuk memperoleh informasi mengenai status kesehatan pasien. Tujuan definitif pemeriksaan fisik adalah, pertama untuk mengidentifikasi status “normal” dan kemudian mengetahui adanya variasi dari keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi keluhan-keluhan dan gejala-gejala pasien, penapisan/skrining keadaan wellbeing pasien, dan pemantauan masalah kesehatan/penyakit pasien saat ini. Informasi ini menjadi bagian dari catatan/rekam medis (medical record) pasien, menjadi dasar data awal dari temuan temuan klinis yang kemudian selalu diperbarui (updated) dan ditambahkan sepanjang waktu. 

Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengumpulkan data tentang kesehatan pasien, menambah informasi atau menyangkut data dari riwayat pasien, mengindetifikasi masalah pasien, menilai perubahan status pasien serta untuk mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan. Dalam melakukan pemeriksaaan fisik terdapat tehnik dasar yang perlu dipahami, diantaranya: inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. 

Teknik-teknik tersebut secara keseluruhan disebut sebagai observasi/pengamatan, dan harus dilakukan sesuai dengan urutan di atas, dan setiap teknik akan menambah data yang telah diperoleh sebelumnya. Dua perkecualian untuk aturan ini, yaitu jika usia pasien atau tingkat keparahan gejala memerlukan pemeriksaan ekstra dan ketika abdomen yang diperiksa. 

1. Inspeksi
melihat dan mengevaluasi pasien secara visual dan merupakan metode tertua yang digunakan untuk mengkaji/menilai pasien. Sebagai individu-individu, kita selalu menilai orang lain setiap hari, membangun kesan pada pikiran kita mengenai orang lain, memutuskan apakah kita menyukai atau tidak menyukai mereka, dan secara umum akan tetap bersama mereka atau sebaliknya menjauhi mereka. Yang tidak kita sadari, sebenarnya kita telah melakukan inspeksi. Inspeksi juga menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk mengetahui Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 35 lebih lanjut, lebih jelas dan memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan dikaitkan dengan suara atau bau yang berasal dari pasien. Pemeriksa kemudian akan mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang diterima oleh semua indera tersebut, baik disadari maupun tidak disadari, dan membentuk opini, subyektif dan obyektif, mengenai pasien, yang akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis dan terapi. Pemeriksa yang telah melakukan observasi selama bertahun-tahun (ahli) melaporkan bahwa mereka seringkali mempunyai persepsi intuitif mengenai sumber/penyebab masalah kesehatan pasien segera setelah melihat pasien. 

Cara efektif melakukan inspeksi adalah sebagai berikut : 
a. Atur posisi sehingga bagian tubuh dapat diamati secara detail 
b. Berikan pencahayaan yang cukup 
c. Lakukan inspeksi pada area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrisan, posisi, dan abnormalitasnya. 
d. Bandingkan area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya. 
e. Jangan melakukan inspeksi secara terburu-buru. 

2. Palpasi 
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan, adalah langkah kedua pada pemeriksaan pasien dan digunakan untuk menambah data yang telah diperoleh melalui inspeksi sebelumnya. 
Palpasi struktur individu,baik pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama pada abdomen, akan memberikan informasi mengenai posisi, ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-komponen anatomi yang normal, dan apakah terdapat abnormalitas misalnya pembesaran organ atau adanya massa yang dapat teraba. 
Palpasi juga efektif untuk menilai menganai keadaan cairan pada ruang tubuh. Palpasi dibutuhkan kelembutan dan sensivitas, untuk itu hendaknya menggunakan permukaan palmar jari, yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tektur, konsistensi, bentuk masa dan pulsasi. 

3. Perkusi 
Perkusi merupakan pemeriksaan dengan melakukan pengetahuan pada bagian tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi, organ-organ tubuh, dan menetukan adanya cairan dalam rongga tubuh. 
Ada dua cara dalam perkusi yaitu cara langsung dan cara tidak langsung. 
Cara langsung dengan mengetuk secara langsung menggunakan satu atau dua jari.
cara tidak langsung dengan menempatkan jari tengah tangan diatas permukaan tubuh dan jari tangan lain dan telapak tidak pada permukaan kulit, setelah kulit setelah mengetuk jari tangan ditarik kebelakang. 

4. Auskultasi 
Auskultasi merupakan cara pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui alat stetoskop. Dalam melakukan auskultasi beberapa hal yang perlu didengarkan diantaranya : 
a. Frekuensi atau siklus gelombang bunyi 
b. Kekerasan atau amplitude bunyi 
c. Kualitas bunyi dan lamanya bunyi. 


B. PENGKAJIAN UMUM DAN PEMERIKSAAN FISIK 

Berikut ini beberapa pengkajian umum pada tingkat kesadaran : Kesadaran Tanda Komposmentis Klien sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaantentang keadaan sekelilingnya Apati Keadaan klien dimana klien enggan untuk berhubungan dengan lingkungan disekitarnya, bersikap acuh tak acuh Latargi Keadaan klien dimana klien tampak lesu dan mengantuk Somnolen Keadaan dimana klien selalu mau tidur saja, dapat dibangunkan dengan rasa nyeri atau untuk makan danminum, namun jatuh teridur kembali. Delirium Keadaan kacau motorik yang sangat, memberontak, rteriak- teriak dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu. Sopor/semikoma Keadaan kesadaran klien yang mirip dengan koma, tidak menunjukkan reaksi ketika dibangunkkan kecuali denganrangsangan nyeri, masih ada reaksi pupil Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 37 Koma Kesadaran klien yang hilang sama sekali walaupun sudahdiberi rangsang apapun, termasuk rangsang batuk atau muntah 


C. PEMERIKSAAN FISIK PADA IBU HAMIL 

Pada ibu hamil pemerikasaan dapat dilakukan dengan pemeriksaan secara umum dan pemeriksaan kebidanan. 

1. Pemeriksaan Umum Pemeriksaan umum pada ibu hamil bertujuan untuk menilai keadaan umum ibu, status gizi, tingkat kesadaran, serta tidak adanya kelainan bentuk badan. 

2. Pemeriksaan Head to toe Pemeriksaan head to toe adalah pemeriksaan yang dilakukan secara sistematis mulai dari : 
a. Kepala 
b. Wajah : mata, hidung, telinga, dan mulut 
c. Leher 
d. Dada (payudara) 
e. Abdomen 
f. Genetalia 
g. Ekstermitas. 

3. Pemeriksaan Kebidanan 

a. Inspeksi 
Inspeksi, menilai keadaan dan tidaknya cloasma gravidarum pada muka/wajah, pucat atau tidakpada selaput mata, ada tidaknya edema. Pemeriksaan selanjutnya adalah leher untuk menilai ada tidaknya pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar limfe. Pemeriksaan dada untuk menilai bentuk buah dada, pigmentasi putting susu. Pemeriksaan perut untuk menilai apakah perut membesar ke depan, atau samping, keadan pusat, pigmentasi linia alba, serta ada tidaknya striae gravidarum. Pemeriksaan pada vulva untuk menilai keadaan perineum, ada tidaknya tanda Chadwick, dan adanya flour. Dan pemeriksaan ekstermitas untuk menilai ada tidaknya varises. 38 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan 

b. Palpasi 
Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim. 
Pemeriksaan secara palpasi dilakukan dengan menggunakan metode Leopold. 

1) Leopold I 
Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksa berdiri sebelah kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu di bengkokkan pada lutut dan lipatan paha, lengkungan jari-jari kedua tangan untuk mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang ada dalam fun- dus. Bila kepala sifatnya keras, bundar dan melenting. Sedangkan bokong akan lunak dan kurang bundar dan kurang melenting. Apabila ingin menentukan usia kehamilan rumusnya. Menurut Mc. Donald 
(a) Cara Leopold I, 
(b) Tinggi Fundus Uteri berdasarkan palpasi Leopold 

2) Leopold II 
Leopold II digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak. Caranya letakkan kedua tangan pada sisi uterus, dan trntukan dimanakah bagian terkecil bayi. 

3) Leopold III 
Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat dibagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah masuk atau belum kepintu atas panggul. Caranya tekan dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah pada salah satu tangan secara lembut dan masuk kedalam abdomen pasien diatas sympisis pubis dan peganglah bagian presentasi bayi, lalu bagian apakah yang menjadi presentasi tersebut. 

4) Leopold IV 
Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah ter- sebut kedalam rongga panggul. Caranya letakkan kedua tangan disisi bawah uterus, Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 39 lalu tekan kedalam dan gerakkan jari-jari kearah rongga panggul, dimanakah tonjolan sefalik dan apakah bagian presentasi telah masuk kedalam rongga panggul. Pada pemeriksaan ini tidak m dilakukan bila kepala dan pemeriksaan Leopold lengkap dapat dilakukan bila janin cukup besar kira-kira umur kehamilan 24 minggu keatas. 

c. Perkusi biasanya dilakukan untuk mengetahui fungsi refleks patella pada ibu hamil dengan menggunakan alat hammer. 

d. Auskultasi dilakukan umumnya dengan stetoskop monoaural untuk mendengarkan bunyi jantung janin, bising tali pusat, gerakan anak, bising rahim, bunyi aorta serta bising usus. Bunyi jantung janin dapat didengar jelas pada akhir bulan ke 5, walaupun dengan ultrasonografi dapat diketahui pada akhir bulan ketiga. Bunyi jantung janin dapat terdengar dikiri dan kanan dibawah pusat bila presentasi kepala bila terdengar setinggi pusat maka presentasi didaerah bokong. Dalam keadaan sehat denyut jantung janin antara 120-140 kali/ menit. Cara menghitung bunyi jantung janin dengan mendengarkan satu menit penuh. Bila kurang dari 120kali/ menit atau lebih dari 160 kali/menit dikhawatirkan janin dalam keadaan hipoksia. 


D. PRINSIP KEBUTUHAN HYGINE PADA IBU DAN BAYI

Konsep personal higiene atau perawatan diri 

1. Pengertian 
Perawatan diri atau personal higiene adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes2000). 

2. Tujuan dari personal hygiene 
Tujuan dari personal hygiene adalah: 
a. Menghilangkan minyak yang menumpuk, keringat , sel-sel kulit yang mati dan bakteri 
b. Menghilangkan bau badan yang berlebihan 
c. Memelihara integritas permukaan kulit 
d. Menstimulasi sirkulasi / peredaran darah 
e. Meningkatkan perasaan nayman bagi klien 
f. Memberikan kesempatan untuk mengkaji kondisi kulit klien. 
g. Meningkatkan percaya diri seseorang 
h. Menciptakan keindahan
i. Memelihara kebesrsihan diri 
j. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang 

3. Dampak yang Timbul pada Masalah Personal Hygiene 
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene (Tarwoto & Wartonah, 2004) meliputi: 
a. Fisik Gangguan kesehatan fisik yang diderita seseorang karena tidak terpelihara kebersihan perorangan adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku. 
b. Psikososiol Masalah psikososial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah dengan gangguan pemenuhan kebutuhan personal higiene, maka yang berkaitan dengan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan interaksi sosial juga terjadi gangguan semisal ada gangguan pada kulit, maka akan menimbulkan individu merasa kurang nyaman, kurang percaya diri dalam hal menyintai dan dicintai, interaksi sosial maupun aktulisasi. 

Tipe personal hygiene 
1. Kesehatan Gigi dan Mulut Mulut beserta lidah dan gigi merupakan sebagian dari alat pencerna makanan. Makanan sebelum masuk ke dalam perut, perlu dihaluskan, maka makanan tersebut dihaluskan oleh gigi dalam rongga mulut. Lidah berperan sebagai pencampur makanan, penempatan makanan agar dapat dikunyah dengan baik dan berperan sebagai indera perasa dan pengecap. Seperti halnya dengan bagian tubuh yang lain, maka mulut dan gigi juga perlu perawatan yang teratur dan seyogyanya sudah dilakukan sejak kecil. Gosok gigi merupakan upaya atau cara yang terbaikuntuk perawatan gigi dan dilakukan paling sedikit dua kali dalamsehari yaitu pagi dan pada waktu akan tidur. Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya, gigi tidak berlubang dan didukung oleh gusi yang Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 41 kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut mengeluarkan bau yang tidak mengganggu interaksi sosial. 

2. Kesehatan Rambut dan Kulit Rambut Rambut berbentuk bulat panjang, makin ke ujung makin kecil dan ujungnya makin kecil. Pada bagian dalam berlubang dan berisi zat warna. Warna rambut setiap orang tidak sama tergantung zat warna yang ada didalamnya. Rambut dapat tumbuh dari pembuluh darah yang ada disekitar rambut. Rambut merupakan pelindung bagi kulit kepala dari sengatan matahari dan hawa dingin. Dalam kehidupan sehari-hari sering nampak pemakaian alat perlindungan lain seperti topi, kain kerudung dan masih banyak lagi yang lain. Penampilan akan lebih rapi dan menarik apabila rambut dalam keadaan bersih dan sehat. Sebaliknya rambut yang dalam keadaan kotor, kusam dan tidak terawat akan terkesan jorok dan penampilan tidak menarik. Rambut adalah bagian tubuh yang paling banyak mengandung minyak. Karena itu kotoran, debu, asap mudah melekat ,maka perawatan rambut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menyisir dan mencuci rambut. Rambut yang sehat yaitu tidak mudah rontok dan patah, tidak terlalu berminyak dan terlalu kering serta tidak berketombe maupun berkutu. 

3. Kesehatan Kulit Kulit terletak diseluruh permukaan luar tubuh. Secara garis besar kulit dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian luar yang disebut kulit ari dan bagian dalam yang disebut kulit jangat. Kulit ari berlapis-lapis dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu lapisan luar yangdisebut lapisan tanduk dan lapisan dalam yang disebut lapisan malpighi. Kulit jangat terletak disebelah bawah atau sebelah dalam dari kulit ari. Kulit merupakan pelindung bagi tubuh dan jaringan dibawahnya. Perlindungan kulit terhadap segala rangsangan dar iluar, dan perlindungan tubuh dari bahaya kuman penyakit. Sebagai pelindung kulitpun sebagai pelindung cairan-cairan tubuh sehingga tubuh tidak kekeringan dari cairan. Melalui kulitlah rasa panas, dingin dan nyeri dapat dirasakan. Guna kulit yang lain sebagai alat pengeluaran sisa metabolisme berupa zat yang tidak terpakai melalui keringat yang keluar lewat pori-pori. Pada masa yang modern sekarang ini tersedia berbagai cara modern berbagai perawatan kulit. Namun cara paling utama dan 42 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan efisien adalah pembersihan badan dengan cara mandi. Perawatan kulit dilakukan dengan cara mandi 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, dengan air yang bersih. Kulit yang sehat yaitu kulit yang selalu bersih, halus, tidak ada bercak-bercak merah, tidak kaku tetapi lentur (fleksibel). 

4. Kesehatan Telinga Telinga dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu bagian paling luar, bagian tengah, dan daun telinga. Telinga merupakan alat pendengaran, sehingga berbagai macam bunyi- bunyi suara dapat didengar. Disamping sebagai alat pendengaran telinga juga dapat berguna sebagai alat keseimbangan tubuh. Menjaga kesehatan telinga dapat dilakukan dengan pembersihan yang berguna untuk mencegah kerusakan dan infeksi telinga. Telinga yang sehat yaitu lubang telinga dan telinga bagian luar selalu bersih serta dapat mendengar dengan jelas. 

5. Kesehatan Mata Pembersihan mata biasanya dilakukan selama mandi untuk membersih kantus mata untuk mencegah sekresi dari pengeluaran ke dalam kantong lakrimal, guna mencegah penyebaran infeksi. Jika Tekanan langsung jangan digunakan diatas bola mata karena dapat meyebabkan cedera serius. Klien yang tidak sadar memerlukan perawatan mata yang lebih sering. Sekresi bisa berkumpul sepanjang margin kelopak mata dan kantus sebelah dalam bila refleks berkedip tidak ada atau ketika mata tidak dapat menutup total. Maka perlu diberi tetes mata untuk mencegah cedera kornea. 

6. Kesehatan Hidung Klien biasanya mengangkat sekresi hidung secara lembut dengan membersihkan ke dalam dengan tisu lembut. Hal ini menjadi hygiene harian yang diperlukan. jangan mengeluarkan kotoran dengan kasar karena mengakibatkan tekanan yang dapat mencenderai gendang telinga, mukosa hidung, dan bahkan struktur mata yang sensitif. Perdarahan hidung adalah tanda kunci dari pengeluaran yang kasar, iritasi mukosa, atau kekeringan. 

7. Kesehatan Kuku Kuku terdapat di ujung jari bagian yang melekat pada kulit yang terdiri dari sel-sel yang masih hidup. Bentuk kuku bermacam-macam tergantung dari kegunaannya ada yang pipih, bulat panjang, tebal dan tumpul Guna kuku adalah sebagai pelindung jari, alatkecantikan, senjata, pengais dan pemegang. Bila untuk keindahan bagi wanita karena kuku Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 43 harus relatif panjang, maka harus dirawat terutama dalam hal kebersihannya. Kuku jari tangan maupun kuku jari kaki harus selalu terjaga kebersihannya karena kuku yang kotor dapat menjadi sarang kuman penyakit dan menunjukkan kebersihan individu. yang selanjutnya akan ditularkan kebagian tubuh yang lain. 

Praktik Personal Hygine dalam Kebidanan 

a. Memandikan Ibu Tindakan memandikan ibu dilakukan pada pasien dengan kondisi tidak dapat mandi sendiri, pada ibu post-SC yang belum bisa mobilisasi sendiri. 
Persiapan alat dan bahan 
1) Basakom mandi 2 buah berisi air hangat dan air dingin 
2) Pakaian pengganti 
3) Kain penutup 
4) Handuk 
5) Waslap 
6) Tempat untuk pakaian kotor 
7) Sampiran 
8) Sabun 

Prosedur pelaksanaan 
1) Menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan 
2) Cuci tangan dengan sabun dan mengalir 
3) Atur posisi 
4) Lakukan tidakan diawali dengan membentangkan handuk dibawah kepala. Kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan waslap. Keringkan dengan handuk. 
5) Kain penutup diturunkan, kedua tanganpasien dinaikkan ke atas, handuk diats dada apasien dipindahkan dan dibentangkan. Kemudian kembalikan kedua tangan ke posisi awal di atas handuk, lalu basahi kedua tangan air bersih. Keringkan dengan handuk. 
6) Kedua tangan dinaikkan ke atas, handuk dipindahkan di sisi pasien lalu bersihkan daerah dada perut. Keringkan dengan handuk. 
7) Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan di bawah punggung sampai glutea dan basahi punggung hingga glutea, lalu dikeringkan 44 | Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan dengan handuk. Selanjutnya miringkan pasien ke posisi telentang dan pasangkan pakaian dengan rapi 
8) Letakan handuk di bawah lutut, lalu bersihkan kaki. Kaki yang paling jauh didahulukan dan dikeringkan dengan handuk. 
9) Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan genitalia. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi. 
10) Cuci tangan 

b. Memandikan bayi 

Pada saat memandikan jangan sampai air masuk kemulut bayi, perhatikan adanya kelainan kulit dan jangan terjadi hipotermia. Persiapan alat dan bahan : 
1) Bak mandi 
2) Perlengkapan bayi 
3) Air hangat 
4) Handuk 
5) Sabun bayi
6) Sampo 
7) Kapas DTT 
8) Waslap 

Prosedur pelaksanaan 
1) Memberikan kepada keluarga prosedur yang akan dilakukan 
2) Mencuci tangan dengan sabun, dan air mengalir 
3) Memasatikan ruangan dalam keadaan hangat dan bersih 
4) Menyiapkan air hangat di bak mandi dan cek kehangatan dengan menggunkan punggung tangan atau siku 
5) Melepaskan pakaian bayi 
6) Bersihkan yinja didaerah pantan sebelu memandikan dengan kapas DTT 
7) Meletakan bayi di handuk 
8) Sanggah bayi sambil mengusap air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi 
9) Sabuni seluruh badan bayi dan tali pusat kecuali muka, usap muka dengan waslap yang sudah dibasahi air DTT sampai bersih. Keterampilan Prosedur Praktik Kebidanan | 45 
10) Jika bayi laki laki tarik kulup (prepusium) kebelakang dan cuci 
11) Celupkan bayi dalam bak mandi disanggah 
12) Bilas sabun dengan cepat, sambil menyangga kepala dan terutama punggung bayi. 
13) Dengan handuk kering dan bersih. 
14) Tempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering 
15) Kenakan popok dengan pas, tidak terlalu ketat 
16) Yakinkan bahwa ujung atas popok berada di bawah sisa tali pusat 
17) Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja segera cuci. 
18) Kenakan pakaian yang berish dan kering 
19) Memberikan bayi ke ibu untuk di susui 
20) Membersihkan alat 
21) Cuci tanga.

Vulva hygine 
Merupakan kegiatan yang rutin bidan lakukan pada ibu post partum atau ibu dalam keadaan lainnya. Vulva hygine merupakan suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan oragn eksternal genetalia perempuan. Tindakan vulva hygine merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan dalam prosedur asuhaan kebidanan

No comments:

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi 1. Pengertian Sediaan oral khusus → obat yang diberikan melalui mulut dengan formula khus...