MANAJAMEN ASUHAN KEBIDANAN - Rohmi Handayani, S.SiT.,M.Keb
A. PENDAHULUAN
Bidan sebagai seorang pemberi Layanan Kesehatan (Health Provider)
khususnya pelayanan kebidanan seringkali menemui masalah klinik yang
mengharuskan bidan dapat mengambil keputusan klinik dengan tepat.
Keputusan klinik yang diambil harus berdasarkan kebutuhan dan masalah
yang dihadapi klien, sehingga semua tindakan yang dilakukan tepat dapat
mengatasi permasalahan yang dihadapi klien yang bersifat antisipasi,
emergensi atau rutin. Salah satu peran bidan adalah sebagai pengelola atau
manajer, yaitu mengelola pelayanan kebidanan yang diberikan kepada klien
agar pelayanan yang diberikan berjalan dengan baik serta dapat mengatasi
permasalahan dengan mengambil kepitusan klinik yang tepat. Dengan
demikian seorang bidan perlu menggunakan teknik manajemen yang baik
untuk dapat mengambil keputusan klinik yang tepat. Seorang bidan dalam
manajemen yang dilakukannya perlu lebih kritis untu mengantisipasi diagnosa
atau masalah potensial. Dengan kemampuan yang lebih kritis dalam
melakukan Analisa, bidan akan menemukan diagnosa dan masalah potensial.
Kadangkala bidan juga harus segera bertindak untuk menyelesaikan masalah
tertentu dan mungkin juga kolaborasi, konsultasi atau bahkan mungkin harus
segera melakukan rujukan. Manajemen dalam pelayanan kebidanan dikenal
sebagai Manajemen Kebidanan.
B. KONSEP DASAR MANAJAMEN ASUHAN KEBIDANAN
Menurut G.R. Terry
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka
kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orangorang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud maksud yang
nyata. Sementara menurut menurut Ricky W. Griffin, manajemen sebagai
sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif
dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan
perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan
secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Prof. Eiji Ogawa
menyebutkan bahwa manajemen adalah perencanaan, pengimplementasian
dan pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk sistem pembuatan barang
yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah
20 | Manajemen Asuhan Kebidanan
menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yangdapat disempurnakan sesuai
dengan kondisi lingkungan yang berubah. Menurut Henry Fayol:
Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang,
mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen
adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama
melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya. Secara umum
manajemen juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan
tentang proses untuk memperoleh tujuan organisasi melalui upaya bersama
dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi.
Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari kelimuan dan
seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan
menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan
menopause., bayi baru lahir dan balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia
serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan
komunitasnya. Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan
dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan
ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.
Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir
yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah
secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa
kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan menurut
Hellen Varney, Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan
dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan
terfokus pada klien.
C. PRINSIP PROSES MANAJEMEN KEBIDANAN
Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standar yang di keluarkan
oleh American College Of Nurse Midwife (ANCM) yang trdiri dari:
1. Mengumpulkan dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan
secara sistematis melalui pengkajian yang komprehensif terhadap
kesehatan setiap klien, termasuk mengkaji riwayat kesehatan dan
Manajemen Asuhan Kebidanan | 21
melakukan pemeriksaan fisik.
2. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosis berdasar interpretasi
data dasar.
3. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam
menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan
bersama klien.
4. Memberi informasi dan dukungan kepada klien sehingga mampu
membuat keputusandan bertanggungjawab terhadap kesehatannya.
5. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
6. Secara pribadi, bertanggungjawab terhadap implementasi rencana
individual.
7. Melakukan konsultasi perencanaan, melaksanakan manajemen
dengan berkolaborasi, dan merujuk klien untuk mendapat asuhan
selanjutnya.
8. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi dalam situasi
darurat jika terdapatpenyimpangan dari keadaan normal.
9. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan
kesehatan danmerevisi rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.
D. PROSES MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
Varney (1997) menjelaskan proses manajemen merupakan proses
pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal tahun
1970. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan mengorganisasikan
pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan
menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga Kesehatan. Proses ini
menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan.
Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja
melainkan juga perilaku pada setiap Langkah agar pelayanan yang
komprehensiv dan aman dapat tercapai. Dengan demikian proses manajemen
harus mengikuti urutan yang logis dan memberikan pengertian yang
menyatukan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah
menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) Langkah yang berurutan. Proses
dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi.
22 | Manajemen Asuhan Kebidanan
Ketujuh Langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat
diaplikasikan dalam situasi apapun. Langkah-langkah manajemen asuhan
kebidanan dapat digambarkan pada bagan berikut:
Langkah I (Pertama):
Pengumpulan Data Dasar
Pada Langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan
semua data yang berkaitan dengan kondisi klien secara lengkap dan akurat
dengan beberapa cara yaitu
1. Anamnesa untuk mengetahui Riwayat Kesehatan klien
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
3. Pemeriksaan Khusus
4. Pemeriksaan Penunjang dengan meninjau data laboratorium
5. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
Pada Langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Bidan
mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien mengalami
komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada Dokter dalam manajemen
koaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Tahap ini merupakan langkah
awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data
Manajemen Asuhan Kebidanan | 23
sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang
benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga kita harus melakukan
pendekatan yang komprehensif meliputi data subyektif dan obyektif.
Langkah II (Kedua):
Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi diagnose atau masalah dan
kebutuhan klien brdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
di kumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik. Kata ‘Masalah” dan “
Diagnosa” keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat
diselesaikan seperti diagnose tetapi tetap membutuhkan penanganan yang
dituangkan ke dalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah sering
berkaitan dengan pengalaman Wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai
hasil pengkajiannya. Masalah ini sering menyertai diagnose, sebagai contoh
diperoleh diagnose seorang perempuan hamil, dan masalah yang
kemungkinan bisa muncul berhubungan dengan diagnose ini adalah
perempuan tersebut tidak menginginkan kehamilannya. Contoh lain dari
masalah adalah seorang perempuan hamil trimester ketiga merasa cemas dan
khawatir terhadap proses persalinannya nanti. Perasaan cemas dan khawatir
tidak termasuk dalam kategori Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan,
tetapi tentu tetap harus dilakukan perencanaan untuk mengurangi rasa cemas
dan khawatirnya ini.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam
lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa
kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan adalah seperti di bawah
ini:
1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2. Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
3. Memiliki ciri khas kebidanan
4. Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan
5. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
Langkah III (Ketiga):
Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengindentifikasi masalah atau diagnosa potensial
lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.
24 | Manajemen Asuhan Kebidanan
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan, sambil mengamati kondisi klien bidan diharapkan dapat
mempersiapkan bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Pada langkah ini bidan harus berusaha melakukan asuhan yang aman.
Misalnya seorang perempuan dengan pembesaran uterus yang berlebihan.
Bidan harus memikirkan kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang
berlebihan tersebut misalnya karena Polihidramnion, bayi besar atau
kehamilan kembar. Dengan demikian bidan harus melakukan antisipasi
melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan mempersiapkan alat dan
obat misalnya set infus atau transfusi dan uterotonika untuk menghadapi
kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan karena
atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan. Selain itu bidan juga
menyiapkan tempat dan set alat resusitasi bayi untuk mengantisipasi
kemungkinan distosia bau karena bayi besar yang dapat menyebabkan bayi
asfiksia.
Langkah IV (Keempat):
Mengidentifikasi dan menetapkan Tindakan
Segera
Pada langkah keempat ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan
segera untuk ditangani segera secara mandiri atau di konsultasikan atau
ditangani Bersama dengan anggota tim Kesehatan lain (kolaborasi) sesuai
dengan kondisi klien dan wewenang bidan.
Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen keidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer
periodic atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama Wanita tersebut
Bersama bidan terus menerus misalnya saat wanita tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja perlu dikumpulkandan dievaluasi. Beberapa data
mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan bertindak segera
untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak misalnya perdarahan
setelah plasenta lahir, distosia bahu atau nilai APGAR yang rendah.
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang
memerlukan tindakan segera. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan
kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
misalnya bila ditemukan tanda-tanda preeklamsi ringan, kelainan panggul,
adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius.
Manajemen Asuhan Kebidanan | 25
Dalam kondisi tertentu bidan juga akan memerlukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter ahli kebidanan dan kandungan atau profesi lain
misalnya ahli gizi, psikolog atau dokter spesialis anak. Dalam hal ini bidan
harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada
siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan
kebidanan.
Berdasarkan dari penjelasan di atas maka disimpulkan pada langkah ini
bidan melakukan Tindakan yang sifatnya mandiri, konsultasi, kolaborasi
maupun rujukan.
Langkah V (Kelima):
Merencanakan asuhan yang menyeluruh
Pada langkah kelima ini Bidan harus merencanakan asuhan secara
menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah
ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa
yang telah teridentifikasi atau diantisipasi pada langkah sebelumnya. Pada
langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana
asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah
teridentifikasi dari kondisi ibu atau bayi atau dari masalah yang berkaitan
tetapi juga menggambarkan petunjuk antisipasi bagi klien tentang apa yang
terjadi selanjutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan konseling dan apakah
perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial
ekonomi, agama, keluarga, budaya atau masalah psikologis.
Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu
oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien
juga akan melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yang
dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar
valid berdasarkan pengetahuan dan teori terkini serta berdasarkan praktikpraktik terbaik yang berdasarkan bukti (evidence based practice) sehingga
menghasilkan asuhan kebidanan yang lengkap efektif, efisien dan aman
bagi klien.
Langkah VI (Keenam):
Melaksanakan Perencanaan/Implementasi
Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang
telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara aman dan efisien.
Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh bidan atau
26 | Manajemen Asuhan Kebidanan
sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatanlainnya. Walaupun
bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung jawab untuk
memastikan bahwa implementasi benar-benar dilakukan. Dalam kondisi
dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan
asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Implementasi yang
efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan
asuhan klien. Komponen implementasi yang sangat penting adalah
pendokumentasian secara berkala, akurat dan menyeluruh.
Langkah VII (Ketujuh):
Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah
benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.
Jika kita menganggap proses penatalaksanaan sebagai sebuah proses
berkesinambungan, maka sangat penting untuk memperbaiki setiap asuhan
yang tidak efektif. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi mengapa hal
tersebut tidak efektif dan kemudian rencana asuhan disesuaikan lagi. Proses
penatalaksanaan sebagai sebuah rangkaian proses yang berkelanjutan
memungkinkan bidan dengan mudah merespon terhadap setiap perubahan
aktual dan potensial pada kondisi klien.
E. IMPLEMENTASI MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
Implementasi manajemen asuhan kebidanan yang mengacu pada
manajemen kebidanan menurut tujuh langkah varney secara spesifik
disesuaikan dengan jenis asuhan kebidanan diantaranya adalah asuhan
kebidanan kehamilan/antenatal, persalinan/intranatal, nifas/postpartum dan
bayi baru lahir/Neonatus. Spesifik yang dimaksud disini adalah dalam
melakukan setiap langkah asuhan disesuaikan dengan data-data fokus setiap
jenis asuhan. Misalnya pada langkah pertama melakukan pengkajian data baik
subyektif maupun obyektif data fokus antara pengkajian asuhan kehamilan,
Manajemen Asuhan Kebidanan | 27
persalinan, nifas atau bayi berbeda satu sama lain.
Berikut ini akan diberikan
contoh implementasi manajemen asuhan kebidanan pada kehamilan yang
terdiri dari tujuh Langkah yang berurutan dimulai dari pengumpulan data
dasar hingga evaluasi.
1. Pengumpulan Data Dasar
a. Anamnesa
1) Biodata dan data Demografi
2) Riwayat Kesehatan termasuk faktor keturunan
3) Riwayat menstruasi
4) Riwayat Obstetri dan Ginekologi meliputi ini kehamilan yang
keberapa, pernah abortus atau tidak, penyulit persalinan yang
lalu, riwayat nifas dan komplikasinya serta Riwayat laktasi.
5) Data Psikologis, psikososial dan spiritual.
6) Data pengetahuan pasien
b. Pemeriksaan fisik (pemeriksaan head to toe sesuai kebutuhan dan
pemeriksaan tanda-tanda vital)
c. Pemeriksaan Khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)
d. Pemeriksaan Penunjang:
1) Laboratorium
2) Diagnostik lain: USG
3) Catatan terbaru atau sebelumnya
2. Interpretasi Data Dasar
Diagnosa yang ditegakkan oleh profesi (Bidan) dalam lingkup praktek
kebidanan dan memenuhi standar Nomenklatur diagnosa Kebidanan.
Contoh: Ny R umur 20 tahun G1P0A0 usia kehamilan 37 minggu.
Masalah:
Sulit tidur, sering berkemih, konstipasi, haemoroid, tidak
menginginkan kehamilan dan lain-lain.
3. Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada langkah ini penting dalam melakukan asuhan yang aman.
Contoh:
Seorang ibu hamil trimester III datang ke poli KIA dengan wajah pucat,
keluar keringat dingin, tampak kesakitan, mengeluh nyeri pada daerah
abdomen dan mengeluarkan darah berwarna kehitaman. Bidan harus
berfikir kearah solusio Plasenta dan diagnosa potensial apa yang mungkin
28 | Manajemen Asuhan Kebidanan
bisa terjadi. Diagnosa potensial yang mungkin bisa terjadi diantaranya
adalah syok pada ibu dan fetal distress sampai kematian janin.
4. Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
Langkah ini juga mengidentifikasi perlunya konsultasi, kolaborasi atau
rujukan.
Contoh: seorang perempuan yang hamil dengan solusio plasenta untuk
mencegah terjadinya syok atau fetal distress atau kematian janin maka
bidan harus melakukan tindakan segera yaitu pasang infus dan berikan
oksigen.
5. Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh
Perencanaan asuhan kebidanan disusun berdasarkan diagnose dan
masalah yang ditegakkan.
a. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
Diharapkan ibu mengerti hasil pemeriksaan meliputi tanda vital
(tekanan darah, suhu, nadi, respirasi), inspeksi, palpasi, dan
auskultasi.
b. Beri konseling gizi ibu hamil TM III
Diharapkan ibu mengerti dan memenuhi gizi ibu hamil yang terdiri
dari kalori, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dll.
c. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup
Diharapkan ibu mengerti mengenai istirahat yang baik bagi ibu hamil
yaitu tidur malam 6-8 jam. Sedangkan untuk tidur siang tidak semua
wanita mempunyai kebiasaan tidur siang.
d. Beri informasi tentang ketidaknyamanan TM III
Diharapkan ibu mengerti mengenai ketidaknyamanan TM III
yaitu sesak nafas, kesulitan tidur, sering berkemih, edema,
konstipasi, nyeri punggung, varises, keputihan, kontraksi
braxton hicks, dan haemoroid.
e. Beri informasi tentang tanda bahaya TM III
Diharapkan ibu mengerti mengenai tanda bahaya TM III yaitu
perdarahan pervaginam, hipertensi kehamilan, sakit kepala
hebat, penglihatan kabur, bengkak pada muka atau tangan,
gerakan janin berkurang, nyeri abdomen yang hebat,
pengeluaran cairan pervaginam.
Manajemen Asuhan Kebidanan | 29
f. Beri informasi tentang body mekanik
Diharapkan ibu mengerti mengenai body mekanik yang baik yaitu
saat mengambil sesuatu di bawah dilakukan dengan berjongkok
bukan menunduk, meletakkan bantal sebagai sandaran pada
punggung saat duduk, menghindari hak tinggi.
g. Ajarkan senam hamil
Diharapkan ibu mengerti dan melakukan senam hamil untuk
mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental, pada
persalinan cepat, aman dan spontan.
h. Informasikan kepada keluarga untuk memberi dukungan
Diharapkan keluarga mengerti untuk memberikan dukungan mental
bagi ibu.
i. Berikan informasi agar ibu melakukan kunjungan ulang TM III tiap 2
minggu atau 1 minggu sesuai arahan bidan atau bila ada keluahan.
Diharapkan ibu dapat melakukan kunjungan ulang sesuai jadwal yang
ditentukan atau bila ada keluhan.
6. Melaksanakan Perencanaan (Implementasi)
Pelaksanaan asuhan secara menyuluruh seperti pada langkah kelima
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan meliputi tanda vital (tekanan
darah, suhu, nadi, respirasi), inspeksi, palpasi, dan auskultasi.
b. Memberi konseling gizi ibu hamil TM III yang terdiri dari kalori,
protein, kalsium, zat besi, vitamin, dll.
c. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu tidur malam 6-
8 jam. Sedangkan untuk tidur siang tidak semua wanita mempunyai
kebiasaan tidur siang.
d. Memberi informasi tentang ketidaknyamanan TM III yaitu sesak
nafas, kesulitan tidur, sering berkemih, edema, konstipasi, nyeri
punggung, varises, keputihan, kontraksi braxton hicks, dan
haemoroid.
e. Memberi informasi tentang tanda bahaya TM III yaitu perdarahan
pervaginam, hipertensi kehamilan, sakit kepala hebat, penglihatan
kabur, bengkak pada muka atau tangan, gerakan janin berkurang,
nyeri abdomen yang hebat, pengeluaran cairan pervaginam.
f. Memberi informasi tentang body mekanik yaitu saat mengambil
30 | Manajemen Asuhan Kebidanan
sesuatu di bawah dilakukan dengan berjongkok bukan menunduk,
meletakkan bantal sebagai sandaran pada punggung saat duduk,
menghindari hak tinggi.
g. Mengajarkan senam hamil untuk mempersiapkan ibu hamil, secara
fisik ataupun mental pada persalinan cepat, aman dan spontan.
h. Memberikan informasi pada keluarga untuk memberi dukungan
pada ibu agar tidak merasa ketakutan dan sendiri.
i. Memberikan informasi agar ibu melakukan kunjungan ulang TM
III tiap 2 minggu atau 1 minggu sesuai arahan bidan atau bila ada
keluhan.
7. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif,
jika memang benar efektif dalam pelaksananya.
a. Ibu mengerti hasil pemeriksaan meliputi tanda-tanda vital, palpasi,
auskultasi, dan inspeksi.
b. Ibu mengetahui kebutuhan gizi yang dibutuhkan selama kehamilan
dan mampu memenuhi asupan gizi yang terdiri kalori, protein,
kalsium, zat besi, vitamin, dll.
c. Ibu telah istirahat cukup yaitu istirahat malam normalnya 6-8 jam,
sedangkan untuk tidur siang ibu biasa tidur 1-2 jam.
d. Ibu telah mengetahui ketidaknyamanan TM III dan mengerti cara
menguranginya.
e. Ibu telah mengetahu tanda bahaya TM III dan segera ke pelayanan
kesehatan bila menemukan tanda tersebut.
f. Ibu telah mengetahui bagaimana posisi tubuh yang dianjurkanselama
hamil.
g. Ibu telah melakukan senam hamil secara mandiri.
h. Keluarga telah mengetahui tentang bentuk dukungan untukibu
selama kehamilan.
i. Ibu melakukan kunjungan kehamilan sesuai anjuran bidandan atau
bila ada keluhan.
No comments:
Post a Comment