Wednesday, March 11, 2026

KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN - BAB 2 MANAJAMEN ASUHAN KEBIDANAN

MANAJAMEN ASUHAN KEBIDANAN - Rohmi Handayani, S.SiT.,M.Keb

A. PENDAHULUAN 

Bidan sebagai seorang pemberi Layanan Kesehatan (Health Provider) khususnya pelayanan kebidanan seringkali menemui masalah klinik yang mengharuskan bidan dapat mengambil keputusan klinik dengan tepat. Keputusan klinik yang diambil harus berdasarkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi klien, sehingga semua tindakan yang dilakukan tepat dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi klien yang bersifat antisipasi, emergensi atau rutin. Salah satu peran bidan adalah sebagai pengelola atau manajer, yaitu mengelola pelayanan kebidanan yang diberikan kepada klien agar pelayanan yang diberikan berjalan dengan baik serta dapat mengatasi permasalahan dengan mengambil kepitusan klinik yang tepat. Dengan demikian seorang bidan perlu menggunakan teknik manajemen yang baik untuk dapat mengambil keputusan klinik yang tepat. Seorang bidan dalam manajemen yang dilakukannya perlu lebih kritis untu mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial. Dengan kemampuan yang lebih kritis dalam melakukan Analisa, bidan akan menemukan diagnosa dan masalah potensial. Kadangkala bidan juga harus segera bertindak untuk menyelesaikan masalah tertentu dan mungkin juga kolaborasi, konsultasi atau bahkan mungkin harus segera melakukan rujukan. Manajemen dalam pelayanan kebidanan dikenal sebagai Manajemen Kebidanan. 

B. KONSEP DASAR MANAJAMEN ASUHAN KEBIDANAN Menurut G.R. Terry 

Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orangorang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud maksud yang nyata. Sementara menurut menurut Ricky W. Griffin, manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Prof. Eiji Ogawa menyebutkan bahwa manajemen adalah perencanaan, pengimplementasian dan pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk sistem pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah 20 | Manajemen Asuhan Kebidanan menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yangdapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah. Menurut Henry Fayol: Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya. Secara umum manajemen juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan tentang proses untuk memperoleh tujuan organisasi melalui upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi. Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari kelimuan dan seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause., bayi baru lahir dan balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya. Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan menurut Hellen Varney, Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan terfokus pada klien. 

C. PRINSIP PROSES MANAJEMEN KEBIDANAN 

Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standar yang di keluarkan oleh American College Of Nurse Midwife (ANCM) yang trdiri dari: 
1. Mengumpulkan dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan secara sistematis melalui pengkajian yang komprehensif terhadap kesehatan setiap klien, termasuk mengkaji riwayat kesehatan dan Manajemen Asuhan Kebidanan | 21 melakukan pemeriksaan fisik.
2. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosis berdasar interpretasi data dasar. 
3. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan bersama klien. 
4. Memberi informasi dan dukungan kepada klien sehingga mampu membuat keputusandan bertanggungjawab terhadap kesehatannya. 
5. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien. 
6. Secara pribadi, bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual.
7. Melakukan konsultasi perencanaan, melaksanakan manajemen dengan berkolaborasi, dan merujuk klien untuk mendapat asuhan selanjutnya. 
8. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi dalam situasi darurat jika terdapatpenyimpangan dari keadaan normal. 
9. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan danmerevisi rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan. 

D. PROSES MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 

Varney (1997) menjelaskan proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal tahun 1970. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan mengorganisasikan pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga Kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga perilaku pada setiap Langkah agar pelayanan yang komprehensiv dan aman dapat tercapai. Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatukan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien. Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) Langkah yang berurutan. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. 22 | Manajemen Asuhan Kebidanan Ketujuh Langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Langkah-langkah manajemen asuhan kebidanan dapat digambarkan pada bagan berikut: 

Langkah I (Pertama): 
Pengumpulan Data Dasar Pada Langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan kondisi klien secara lengkap dan akurat dengan beberapa cara yaitu 
1. Anamnesa untuk mengetahui Riwayat Kesehatan klien 
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan 
3. Pemeriksaan Khusus 
4. Pemeriksaan Penunjang dengan meninjau data laboratorium 
5. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya 

Pada Langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada Dokter dalam manajemen koaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data Manajemen Asuhan Kebidanan | 23 sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga kita harus melakukan pendekatan yang komprehensif meliputi data subyektif dan obyektif. 

Langkah II (Kedua): 
Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi diagnose atau masalah dan kebutuhan klien brdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah di kumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik. Kata ‘Masalah” dan “ Diagnosa” keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnose tetapi tetap membutuhkan penanganan yang dituangkan ke dalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah sering berkaitan dengan pengalaman Wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai hasil pengkajiannya. Masalah ini sering menyertai diagnose, sebagai contoh diperoleh diagnose seorang perempuan hamil, dan masalah yang kemungkinan bisa muncul berhubungan dengan diagnose ini adalah perempuan tersebut tidak menginginkan kehamilannya. Contoh lain dari masalah adalah seorang perempuan hamil trimester ketiga merasa cemas dan khawatir terhadap proses persalinannya nanti. Perasaan cemas dan khawatir tidak termasuk dalam kategori Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan, tetapi tentu tetap harus dilakukan perencanaan untuk mengurangi rasa cemas dan khawatirnya ini. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan adalah seperti di bawah ini: 
1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi 
2. Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan 
3. Memiliki ciri khas kebidanan 
4. Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan 
5. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan 

Langkah III (Ketiga): 
Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Pada langkah ini kita mengindentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. 24 | Manajemen Asuhan Kebidanan Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati kondisi klien bidan diharapkan dapat mempersiapkan bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini bidan harus berusaha melakukan asuhan yang aman. Misalnya seorang perempuan dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus memikirkan kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebihan tersebut misalnya karena Polihidramnion, bayi besar atau kehamilan kembar. Dengan demikian bidan harus melakukan antisipasi melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan mempersiapkan alat dan obat misalnya set infus atau transfusi dan uterotonika untuk menghadapi kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan karena atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan. Selain itu bidan juga menyiapkan tempat dan set alat resusitasi bayi untuk mengantisipasi kemungkinan distosia bau karena bayi besar yang dapat menyebabkan bayi asfiksia. 

Langkah IV (Keempat): 
Mengidentifikasi dan menetapkan Tindakan Segera Pada langkah keempat ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera untuk ditangani segera secara mandiri atau di konsultasikan atau ditangani Bersama dengan anggota tim Kesehatan lain (kolaborasi) sesuai dengan kondisi klien dan wewenang bidan. Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen keidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama Wanita tersebut Bersama bidan terus menerus misalnya saat wanita tersebut dalam persalinan. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkandan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak misalnya perdarahan setelah plasenta lahir, distosia bahu atau nilai APGAR yang rendah. Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter misalnya bila ditemukan tanda-tanda preeklamsi ringan, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius. Manajemen Asuhan Kebidanan | 25 Dalam kondisi tertentu bidan juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter ahli kebidanan dan kandungan atau profesi lain misalnya ahli gizi, psikolog atau dokter spesialis anak. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan kebidanan. Berdasarkan dari penjelasan di atas maka disimpulkan pada langkah ini bidan melakukan Tindakan yang sifatnya mandiri, konsultasi, kolaborasi maupun rujukan. 

Langkah V (Kelima): 
Merencanakan asuhan yang menyeluruh Pada langkah kelima ini Bidan harus merencanakan asuhan secara menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah teridentifikasi atau diantisipasi pada langkah sebelumnya. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi ibu atau bayi atau dari masalah yang berkaitan tetapi juga menggambarkan petunjuk antisipasi bagi klien tentang apa yang terjadi selanjutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi, agama, keluarga, budaya atau masalah psikologis. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori terkini serta berdasarkan praktikpraktik terbaik yang berdasarkan bukti (evidence based practice) sehingga menghasilkan asuhan kebidanan yang lengkap efektif, efisien dan aman bagi klien. 

Langkah VI (Keenam): 
Melaksanakan Perencanaan/Implementasi Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara aman dan efisien. Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh bidan atau 26 | Manajemen Asuhan Kebidanan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatanlainnya. Walaupun bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung jawab untuk memastikan bahwa implementasi benar-benar dilakukan. Dalam kondisi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Implementasi yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien. Komponen implementasi yang sangat penting adalah pendokumentasian secara berkala, akurat dan menyeluruh. 

Langkah VII (Ketujuh): 
Evaluasi Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya. Jika kita menganggap proses penatalaksanaan sebagai sebuah proses berkesinambungan, maka sangat penting untuk memperbaiki setiap asuhan yang tidak efektif. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi mengapa hal tersebut tidak efektif dan kemudian rencana asuhan disesuaikan lagi. Proses penatalaksanaan sebagai sebuah rangkaian proses yang berkelanjutan memungkinkan bidan dengan mudah merespon terhadap setiap perubahan aktual dan potensial pada kondisi klien. 

E. IMPLEMENTASI MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 

Implementasi manajemen asuhan kebidanan yang mengacu pada manajemen kebidanan menurut tujuh langkah varney secara spesifik disesuaikan dengan jenis asuhan kebidanan diantaranya adalah asuhan kebidanan kehamilan/antenatal, persalinan/intranatal, nifas/postpartum dan bayi baru lahir/Neonatus. Spesifik yang dimaksud disini adalah dalam melakukan setiap langkah asuhan disesuaikan dengan data-data fokus setiap jenis asuhan. Misalnya pada langkah pertama melakukan pengkajian data baik subyektif maupun obyektif data fokus antara pengkajian asuhan kehamilan, Manajemen Asuhan Kebidanan | 27 persalinan, nifas atau bayi berbeda satu sama lain. 
Berikut ini akan diberikan contoh implementasi manajemen asuhan kebidanan pada kehamilan yang terdiri dari tujuh Langkah yang berurutan dimulai dari pengumpulan data dasar hingga evaluasi. 

1. Pengumpulan Data Dasar

 a. Anamnesa 
1) Biodata dan data Demografi 
2) Riwayat Kesehatan termasuk faktor keturunan 
3) Riwayat menstruasi 
4) Riwayat Obstetri dan Ginekologi meliputi ini kehamilan yang keberapa, pernah abortus atau tidak, penyulit persalinan yang lalu, riwayat nifas dan komplikasinya serta Riwayat laktasi. 
5) Data Psikologis, psikososial dan spiritual. 
6) Data pengetahuan pasien 

b. Pemeriksaan fisik (pemeriksaan head to toe sesuai kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital) 

c. Pemeriksaan Khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi) 

d. Pemeriksaan Penunjang: 
1) Laboratorium 
2) Diagnostik lain: USG 
3) Catatan terbaru atau sebelumnya 

2. Interpretasi Data Dasar 

Diagnosa yang ditegakkan oleh profesi (Bidan) dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar Nomenklatur diagnosa Kebidanan. 
Contoh: Ny R umur 20 tahun G1P0A0 usia kehamilan 37 minggu. Masalah: Sulit tidur, sering berkemih, konstipasi, haemoroid, tidak menginginkan kehamilan dan lain-lain. 

3. Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Pada langkah ini penting dalam melakukan asuhan yang aman. 
Contoh: Seorang ibu hamil trimester III datang ke poli KIA dengan wajah pucat, keluar keringat dingin, tampak kesakitan, mengeluh nyeri pada daerah abdomen dan mengeluarkan darah berwarna kehitaman. Bidan harus berfikir kearah solusio Plasenta dan diagnosa potensial apa yang mungkin 28 | Manajemen Asuhan Kebidanan bisa terjadi. Diagnosa potensial yang mungkin bisa terjadi diantaranya adalah syok pada ibu dan fetal distress sampai kematian janin. 

4. Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera Langkah ini juga mengidentifikasi perlunya konsultasi, kolaborasi atau rujukan. 
Contoh: seorang perempuan yang hamil dengan solusio plasenta untuk mencegah terjadinya syok atau fetal distress atau kematian janin maka bidan harus melakukan tindakan segera yaitu pasang infus dan berikan oksigen. 

5. Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh Perencanaan asuhan kebidanan disusun berdasarkan diagnose dan masalah yang ditegakkan. 
a. Beritahu ibu hasil pemeriksaan Diharapkan ibu mengerti hasil pemeriksaan meliputi tanda vital (tekanan darah, suhu, nadi, respirasi), inspeksi, palpasi, dan auskultasi. 
b. Beri konseling gizi ibu hamil TM III Diharapkan ibu mengerti dan memenuhi gizi ibu hamil yang terdiri dari kalori, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dll. 
c. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup Diharapkan ibu mengerti mengenai istirahat yang baik bagi ibu hamil yaitu tidur malam 6-8 jam. Sedangkan untuk tidur siang tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. 
d. Beri informasi tentang ketidaknyamanan TM III Diharapkan ibu mengerti mengenai ketidaknyamanan TM III yaitu sesak nafas, kesulitan tidur, sering berkemih, edema, konstipasi, nyeri punggung, varises, keputihan, kontraksi braxton hicks, dan haemoroid. 
e. Beri informasi tentang tanda bahaya TM III Diharapkan ibu mengerti mengenai tanda bahaya TM III yaitu perdarahan pervaginam, hipertensi kehamilan, sakit kepala hebat, penglihatan kabur, bengkak pada muka atau tangan, gerakan janin berkurang, nyeri abdomen yang hebat, pengeluaran cairan pervaginam. Manajemen Asuhan Kebidanan | 29 
f. Beri informasi tentang body mekanik Diharapkan ibu mengerti mengenai body mekanik yang baik yaitu saat mengambil sesuatu di bawah dilakukan dengan berjongkok bukan menunduk, meletakkan bantal sebagai sandaran pada punggung saat duduk, menghindari hak tinggi. 
g. Ajarkan senam hamil Diharapkan ibu mengerti dan melakukan senam hamil untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan. 
h. Informasikan kepada keluarga untuk memberi dukungan Diharapkan keluarga mengerti untuk memberikan dukungan mental bagi ibu. 
i. Berikan informasi agar ibu melakukan kunjungan ulang TM III tiap 2 minggu atau 1 minggu sesuai arahan bidan atau bila ada keluahan. Diharapkan ibu dapat melakukan kunjungan ulang sesuai jadwal yang ditentukan atau bila ada keluhan. 

6. Melaksanakan Perencanaan (Implementasi) Pelaksanaan asuhan secara menyuluruh seperti pada langkah kelima 
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan meliputi tanda vital (tekanan darah, suhu, nadi, respirasi), inspeksi, palpasi, dan auskultasi. 
b. Memberi konseling gizi ibu hamil TM III yang terdiri dari kalori, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dll. 
c. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu tidur malam 6- 8 jam. Sedangkan untuk tidur siang tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. 
d. Memberi informasi tentang ketidaknyamanan TM III yaitu sesak nafas, kesulitan tidur, sering berkemih, edema, konstipasi, nyeri punggung, varises, keputihan, kontraksi braxton hicks, dan haemoroid. 
e. Memberi informasi tentang tanda bahaya TM III yaitu perdarahan pervaginam, hipertensi kehamilan, sakit kepala hebat, penglihatan kabur, bengkak pada muka atau tangan, gerakan janin berkurang, nyeri abdomen yang hebat, pengeluaran cairan pervaginam. 
f. Memberi informasi tentang body mekanik yaitu saat mengambil 30 | Manajemen Asuhan Kebidanan sesuatu di bawah dilakukan dengan berjongkok bukan menunduk, meletakkan bantal sebagai sandaran pada punggung saat duduk, menghindari hak tinggi. 
g. Mengajarkan senam hamil untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental pada persalinan cepat, aman dan spontan. 
h. Memberikan informasi pada keluarga untuk memberi dukungan pada ibu agar tidak merasa ketakutan dan sendiri. 
i. Memberikan informasi agar ibu melakukan kunjungan ulang TM III tiap 2 minggu atau 1 minggu sesuai arahan bidan atau bila ada keluhan. 

7. Evaluasi Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif, jika memang benar efektif dalam pelaksananya. 
a. Ibu mengerti hasil pemeriksaan meliputi tanda-tanda vital, palpasi, auskultasi, dan inspeksi. 
b. Ibu mengetahui kebutuhan gizi yang dibutuhkan selama kehamilan dan mampu memenuhi asupan gizi yang terdiri kalori, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dll. 
c. Ibu telah istirahat cukup yaitu istirahat malam normalnya 6-8 jam, sedangkan untuk tidur siang ibu biasa tidur 1-2 jam. 
d. Ibu telah mengetahui ketidaknyamanan TM III dan mengerti cara menguranginya. 
e. Ibu telah mengetahu tanda bahaya TM III dan segera ke pelayanan kesehatan bila menemukan tanda tersebut. 
f. Ibu telah mengetahui bagaimana posisi tubuh yang dianjurkanselama hamil. 
g. Ibu telah melakukan senam hamil secara mandiri. 
h. Keluarga telah mengetahui tentang bentuk dukungan untukibu selama kehamilan. 
i. Ibu melakukan kunjungan kehamilan sesuai anjuran bidandan atau bila ada keluhan.

No comments:

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi 1. Pengertian Sediaan oral khusus → obat yang diberikan melalui mulut dengan formula khus...