DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)
📚 3.1 DEFINISI
Drug Related Problems (DRPs) adalah setiap kejadian atau kondisi yang berhubungan dengan terapi obat yang mengganggu atau berpotensi mengganggu outcome klinis yang diinginkan.
DRPs menjadi fokus utama praktik farmasi klinis karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
📚 3.2 TUJUAN IDENTIFIKASI DRPs
✔ Mengoptimalkan terapi obat
✔ Mencegah efek samping dan komplikasi
✔ Mengurangi biaya perawatan
✔ Meningkatkan kualitas hidup pasien
✔ Menurunkan angka rawat inap akibat obat
📚 3.3 KLASIFIKASI DRPs
Klasifikasi yang umum digunakan dalam praktik klinis meliputi:
🔹 1. Indikasi Tidak Tepat
Obat diberikan tanpa indikasi medis yang jelas atau diperlukan.
Contoh:
-
Antibiotik untuk infeksi virus
-
Duplikasi terapi tanpa alasan
Contoh obat yang sering disalahgunakan:
👉 Amoxicillin untuk flu biasa
🔹 2. Terapi Tambahan Dibutuhkan
Pasien memiliki kondisi yang memerlukan obat tetapi belum diberikan.
Contoh:
-
Pasien hipertensi tanpa terapi antihipertensi
-
Pasien diabetes tanpa kontrol farmakologis
🔹 3. Obat Tidak Efektif
Obat yang diberikan tidak memberikan efek terapeutik yang diharapkan.
Penyebab:
-
Resistensi mikroba
-
Obat tidak sesuai guideline
-
Kondisi pasien khusus
Contoh:
Antibiotik tidak sensitif terhadap kuman penyebab.
🔹 4. Dosis Terlalu Rendah
Dosis tidak cukup untuk mencapai efek terapi.
Penyebab:
-
Perhitungan dosis salah
-
Kepatuhan rendah
-
Interval terlalu panjang
🔹 5. Dosis Terlalu Tinggi
Dosis berlebihan yang meningkatkan risiko toksisitas.
Contoh:
Overdosis Paracetamol → kerusakan hati
🔹 6. Reaksi Obat Merugikan (Adverse Drug Reaction / ADR)
Efek yang tidak diinginkan pada dosis terapi normal.
Jenis ADR:
✔ Tipe A — terkait dosis (predictable)
✔ Tipe B — idiosinkratik (tidak terduga)
Contoh:
-
Mual akibat obat
-
Ruam alergi
-
Perdarahan akibat NSAID
🔹 7. Interaksi Obat
Interaksi dapat terjadi antara:
-
Obat–obat
-
Obat–makanan
-
Obat–penyakit
Contoh:
Antasida menurunkan penyerapan antibiotik tertentu.
🔹 8. Ketidakpatuhan Pasien (Non-Adherence)
Pasien tidak mengikuti regimen terapi.
Penyebab:
-
Efek samping
-
Regimen kompleks
-
Kurang edukasi
-
Biaya
-
Faktor psikologis
📚 3.4 FAKTOR RISIKO TERJADINYA DRPs
👵 Faktor pasien
-
Lansia
-
Penyakit kronis
-
Gangguan ginjal/hati
-
Polifarmasi
💊 Faktor obat
-
Indeks terapi sempit
-
Obat dengan banyak interaksi
-
Obat berisiko tinggi
🏥 Faktor sistem pelayanan
-
Komunikasi buruk
-
Transisi perawatan
-
Dokumentasi tidak lengkap
📚 3.5 DAMPAK DRPs
DRPs dapat menyebabkan:
⚠️ Kegagalan terapi
⚠️ Efek samping serius
⚠️ Perpanjangan rawat inap
⚠️ Peningkatan biaya kesehatan
⚠️ Mortalitas
📚 3.6 PROSES IDENTIFIKASI DRPs
Farmasis klinis melakukan:
1️⃣ Pengumpulan data pasien
-
Riwayat penyakit
-
Riwayat obat
-
Alergi
-
Hasil laboratorium
2️⃣ Review terapi obat
Evaluasi:
✔ Indikasi
✔ Efektivitas
✔ Keamanan
✔ Kepatuhan
3️⃣ Penentuan masalah
Mengklasifikasikan DRPs sesuai kategori.
4️⃣ Intervensi farmasis
-
Rekomendasi perubahan obat
-
Penyesuaian dosis
-
Edukasi pasien
5️⃣ Monitoring outcome
Menilai keberhasilan intervensi.
📚 3.7 PERAN FARMASIS DALAM PENANGANAN DRPs
Farmasis klinis bertanggung jawab untuk:
✔ Mendeteksi DRPs secara proaktif
✔ Memberikan rekomendasi berbasis evidence
✔ Berkolaborasi dengan dokter & perawat
✔ Edukasi pasien
📚 3.8 STUDI KASUS
Kasus:
Pasien lansia dengan hipertensi dan diabetes menerima 8 obat berbeda.
Masalah yang mungkin muncul:
-
Interaksi obat
-
Risiko efek samping tinggi
-
Kepatuhan rendah
-
Dosis tidak sesuai fungsi ginjal
📚 3.9 PENCEGAHAN DRPs
Upaya pencegahan:
✔ Medication review rutin
✔ Rekonsiliasi obat
✔ Edukasi pasien
✔ Sistem prescribing elektronik
✔ Komunikasi interprofesional
✨ KESIMPULAN BAB 3
Drug Related Problems merupakan aspek kritis dalam farmasi klinis karena:
✔ Berpengaruh langsung pada outcome terapi
✔ Dapat dicegah melalui intervensi farmasis
✔ Menjadi indikator kualitas pelayanan kesehatan
No comments:
Post a Comment