Wednesday, March 11, 2026

KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN - BAB 8 PENDEKATAN SOSIAL ANTROPOLOGI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN

PENDEKATAN SOSIAL ANTROPOLOGI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN - Juwita Desri Ayu, S.Tr.Keb., M.Keb.


A. ANTROPOLOGI 

Antropologi merupakan bagian dari cabang ilmu sosial yang membahas mengenai budaya masyarakat suatu etnis. Kata antropologi berasal dari kombinasi dua kata yang diambil dari Bahasa Yunani yaitu “anthropos” yang berarti manusia dan “logos” yang berarti ilmu. Secara harfiah, antropologi dapat didefinisikan sebagai bidang keilmuan yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik, serta kebudayaannya. Antropologi berkaitan dengan perilaku manusia, interaksi yang dilakukan, serta budaya yang tercipta. Antropologi pada hakikatnya mendokumentasikan keadaan manusia, masa lampau dan masa kini. Perhatian utamanya adalah pada masyarakatmasyarakat eksotis, masa prasejarah, bahasa tak tertulis, dan adat kebiasaan yang unik. Antropologi memberikan sumbangan unik kepada pengetahuan manusia tentang apa yang sedang terjadi di dunia. Kita tidak dapat memahami diri sendiri lepas dari pemahaman kita tentang budaya. 


B. TUJUAN DAN KEGUNAAN ANTROPOLOGI 

Antropologi dirumuskan untuk lebih memahami dan mengapresiasi manusia. Dalam hal ini, manusia sebagai entitas biologis homo sapiens dan makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan komprehensif. Antropologi bertujuan untuk mencapai pengertian bahwa manusia pada umumnya mempelajari beragam bentuk fisik, masyarakat serta kebudayaan. Antropologi juga bertujuan untuk mempelajari manusia dalam beragam masyarakat, suku bangsa dan budaya sebagai upaya untuk membangun masyarakat itu sendiri. Dengan begitu, setiap pembangunan yang direncanakan dan dilakukan dapat bermanfaat melalui pendekatan budaya. Secara umum, kegunaan antropologi yaitu meliputi antropologi fisik (memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang fokusnya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari variasi biologis manusia) dan antropologi budaya (mempelajari manusia berdasarkan kebudayaannya, dimana kebudayaan dapat merupakan peraturan atau normal yang berlaku di dalam suatu masyarakat). Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 117 


C. FASE PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI 

Antropologi termasuk dalam golongan ilmu baru yang terus menerus mengalami sebuah fase perkembangan. 
Koetjaraningrat membagi fase perkembangan ilmu Antropoloogi ke dalam 4 fase, yaitu: 
1. Fase pertama (sebelum tahun 1800) 
Fase penduduk pribumi di Benua Afrika, Asia dan Amerika mulai kedatangan bangsa Eropa Barat. 
2. Fase kedua (abad ke-19) 
Fase munculnya karangan bahan etnografi, bangsa Eropa menganggap bahwa bangsa di luar Eropa sebagai bangsa yang primitif dan kuno. 
3. Fase ketiga (awal abad ke-20) 
Fase yang menjadikan ilmu Antropologi digunakan untuk memahami dan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-bangsa di luar Eropa untuk kepentingan pemerintahan kolonial serta mendapatkan suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. 
4. Fase keempat (setelah tahun 1930) 
Fase ilmu Antropologi mengalami perkembangan yang signifikan, baik dalam aspek pengetahuan yang lebih teliti maupun ketajaman metode ilmiah. 


D. BATASAN DAN UNSUR BUDAYA 

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Kata culture juga diterjemahkan sebagai ‘kultur’ dalam bahasa Indonesia. Budaya merupakan kata yang sangat sering dikaitkan dengan ilmu antropologi. Konsep ini memang sangat sering digunakan oleh antropologi dan telah tersebar ke masyarakat luas bahwa antropologi bekerja atau meneliti apa yang sering disebut dengan kebudayaan. Seringnya istilah ini digunakan oleh antropologi dalam pekerjaanpekerjaannya bukan berarti para ahli antropolgi mempunyai pengertian yang sama tentang istilah tersebut. Seorang ahli antropologi yang mencoba mengumpulkan definisi yang pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160 118 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan definisi kebudayaan yang dibuat oleh para ahli antropologi. Namun, dari sekian banyak definisi tersebut ada suatu persetujuan bersama diantara para ahli antropologi tentang arti dari istilah tersebut. Salah satu definisi kebudayaan dalam antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan defInisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari “Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara berlaku, kepercayaan, sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Kebudayaan bersifat tidak statis, yang berarti dapat berubah secara cepat atau lambat karena adanya kontak-kontak kebudayaan atau gagasan baru dari luar yang dapat mempercepat atau memperlambat suatu proses perubahan. Hal ini berarti bahwa terjadi proses interaksi antara pranata dasar dari kebudayaan penyandangnya dengan pranata ilmu pengetahuan yang baru akan menghasilkan pengaruh, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang mengakibatkan terjadinya perubahan gagasan budaya dan pola perilaku dalam masyarakat secara menyeluruh atau tidak menyeluruh. Hal tersebut berarti bahwa masyarakat penyandang kebudayaan mereka masing-masing akan menghasilkan suatu pandangan atau persepsi yang berbeda tentang suatu pengertian yang sama dan tidak sama dalam konteks penyakit, sehat, dan sakit. Dengan demikian, nampaknya ada kelompok yang lebih menekankan pada terapi adikodrati (personalistik), sedangkan kelompok lainnya pada naturalistik berdasarkan prinsip-prinsip keseimbangan tubuh. Hal ini berarti masyarakat ada yang menekankan pada penjelasan sehat-sakit berdasarkan pemahaman mereka secara etnik pada konsep personalistik maupun naturalistik. Jadi, keanekaragaman persepsi sehat dan sakit itu ditentukan oleh pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma kebudayaan masing-masing masyarakat penyandang kebudayaannya masing-masing. Sehubungan dengan hal itu, kebudayaan sebagai konsep dasar, gagasan budaya dapat menjelaskan makna hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial (sosiobudaya) dari penyakit dengan gejala biologis (biobudaya) seperti apa yang dikemukakan oleh Foster dan Anderson. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 119 Kebudayaan dipandang sebagai bagian dari warisan manusia yang lebih banyak diwariskan melalui proses belajar daripada proses bawaan biologis. Akan tetapi, terdapat dua pandangan yang amat berlainan tentang kebudayaan tersebut. E.B. Taylor dan para penulis evolusionis, biasanya memperlakukan kebudayaan sebagai sebagai atribut manusia yang bersifat tunggal dan kumulatif: perkembangan suatu komunitas sebenarnya terjadi sekedar karena mereka menikmati ‘kultur’ yang lebih baik daripada yang lainnya. Sedangkan, para antropolog Boasnian amat kritis terhadap spekulasi-spekulasi para evolusionis tersebut dan mereka lebih berminat pada masalah-masalah perbedaan di antara berbagai ragam budaya itu sendiri. Bagi Boasnian, kebudayaan merupakan agen perubahan yang sifatnya khusus, yang sekaligus menyebabkan perbedaan di antar populasi-populasi tersebut. Bahkan merupakan penentu utama bagi kesadaran, pengetahuan, dan pemahamannya. Bertolak-belakang dengan para evolusionis, mereka berpendapat bahwa sejarah budaya tidaklah memiliki pola tertentu. Karena sebuah kebudayaan dibentuk oleh kesepakatan-kesepakatan, pertukaran-pertukaran serta perpindahan masyarakat, juga setiap kebudayaan dibentuk oleh latar belakang sejarah dan geografi yang khusus. Maka, tidak ada pola perkembangan yang baku, dan dengan demikian kebudayaan tidak dapat diperingatkan sebagai kebudayaan maju ataupun kurang maju. Kebudayaan yang ideal datang dari pembentukan manusia itu sendiri dan berasal dari kebutuhan masyarakat. Anggota masyarakat berasal dari organisasi masyarakat, sehingga anggota masyarakat harus mengikuti kebudayaan yang dimiliki oleh organisasi masyarakat tersebut. Sebagai contoh disini digambarkan bahwa kebudayaan yang timbul yang terbentuk oleh golongan kecil adalah masyarakat kapitalis yang berasal dari kebutuhan ekonomi dan akhirnya menciptakan ideologi bisnis, dan filsafat pemerintah yang kemudian membentuk kesatuan nasional. Ide kebudayaan besar timbul dari kebutuhan masyarakat. Walaupun demikian, di dalam pembentukan kebudayaan selalu timbul ketidakcocokan diantara ide yang satu dengan ide lainnya. Meskipun terjadi ketidaksesuaian, hal ini tidak selalu menjadi besar tanpa adanya konflik dan kekerasan dari masyarakat yang ingin membentuk suatu kesamaan kebudayaan. Sebagai konsekuensinya ide-ide kebudayaan selalu saja timbul pada masyarakat kolektif. 120 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan Kajian antropologi budaya menafsirkan kebudayaan seharusnya tidak sekedar menekankan pada aspek estetik atau humanis, melainkan juga aspek politik sebagaimana dituliskan oleh John Fiske dalam British Cultural Studies and Television. Jadi, obyek studi ini bukanlah membahas tentang kebudayaan dalam pengertian yang sempit (yang sering dikacaukan dengan istilah kesenian atau kegiatan-kegiatan intelektual dan spiritual), namun kebudayaan dalam pengertian seperti dirumuskan dalam oleh Raymond Williamss dalam The Long Revolution (1961), yakni sebagai cara hidup tertentu bagi sekelompok orang yang berlaku pada suatu periode tertentu. Dengan demikian, meskipun studi kebudayaan tidak dapat atau tidak perlu direduksi menjadi studi budaya populer, namun studi populer tersebut menjadi inti proyek penelitian dalam kajian-kajian antropologi budaya. 


E. KONSEP KEBUDAYAAN 

1. Kebudayaan diperoleh dari belajar Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkah lakunya digerakan oleh insting. Ketika baru dilahirkan, semua tingkah laku manusia yang baru lahir tersebut digerakkan olen insting dan naluri. Insting atau naluri ini tidak termasuk dalam kebudayaan, tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya adalah kebutuhan akan makan. Makan adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan itu dipenuhi; apa yang dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian dari kebudayaan. Semua manusia perlu makan, tetapi kebudayaan yang berbeda dari kelompok-kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan dasar itu dengan cara yang berbeda. 

2. Kebudayaan milik Bersama Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat kepercayaan, nilai-nilai dan cara berlaku atau kebiasaan yang dipelajari dan yang dimiliki bersama oleh para warga dari suatu kelompok masyarakat. Pengertian masyarakat sendiri dalam Antropologi adalah sekelompok Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 121 orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang biasanya tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya. 

3. Kebudayaan sebagai pola Dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah pola-pola budaya yang ideal dan pola-pola ini cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola kebudayaan yang ideal itu memuat hal-hal yang oleh sebagian besar dari masyarakat tersebut diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu. Pola-pola inilah yang sering disebut dengan norma-norma. Sebagian dari pola-pola yang ideal tersebut dalam kenyataannya berbeda dengan perilaku sebenarnya karena pola-pola tersebut telah dikesampingkan oleh cara-cara yang dibiasakan oleh masyarakat. 

4. Kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif Pada umumnya kebudayaan dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Banyak cara yang wajar dalam hubungan tertentu pada suatu kelompok masyarakat memberi kesan janggal pada kelompok masyarakat yang lain, tetapi jika dipandang dari hubungan masyarakat tersebut dengan lingkungannya, baru hubungan tersebut dapat lebih mudah untuk dipahami. 
Misalnya, orang akan heran kenapa harus ada pantangan-pantangan pergaulan seks pada masyarakat tertentu pada kaum ibu sesudah melahirkan anaknya sampai anak tersebut mencapai usia tertentu. Bagi orang di luar kebudayaan tersebut, pantangan tersebut sulit untuk dimengerti, namun bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang melakukan pantangan-pantangan seperti itu, hal tersebut mungkin merupakan suatu cara menyesuaikan diri pada lingkungan fisik dimana mereka berada. Mungkin daerah dimana mereka tinggal tidak terlalu mudah memenuhi kebutuhan makan mereka, sehingga sebagai strategi memberikan gizi yang cukup bagi anak dibuatlah pantangan-pantangan tersebut. Hal ini nampaknya merupakan hal yang sepele, namun sebenarnya merupakan suatu pencapaian luar biasa dari kelompok 122 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan masyarakat tersebut untuk mampu memahami lingkungannya dan berinteraksi dengan cara melakukan pantangan-pantangan tersebut. 


F. KONSEP DAN SYARAT MASYARAKAT 

Masyarakat merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia. Dalam masyarakat, berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi. Dengan demikian, masyarakat dapat diartikan sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar aksi warga masyarakat tersebut. Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam arti luas, masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit, masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan dan sebagainya. Masyarakat harus mempunyai syarat-syarat berikut ini: 
1. Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang. 
2. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu. 
3. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju pada kepentingan dan tujuan bersama. 


G. SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA 

Sosial berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem hidup bersama atau hidup bermasyarakat dari orang atau sekelompok orang yang didalamnya sudahtercakup struktur, organisasi, nilai-nilai sosial, dan aspirasi hidup serta cara mencapainya. Budaya berarti cara atau sikap hidup manusia dalam hubungannya secara timbalbalik dengan alam dan lingkungan hidupnya yang didalamnya tercakup pulasegala hasil dari cipta, rasa, karsa, dan karya, baik yang fisik materil maupun yang psikologis, idiil, dan spiritual. Kehidupan masyarakat sebagai sistem sosial dan budaya dipandang sebagai suatu sistem atau sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dalam suatu kesatuan. 
Koentjaraningrat (2002) membagi budaya menjadi 7 unsur: yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 123 dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia sebagai suatu kesatuan telah lahir jauh sebelum lahirnya (secara formal) masyarakat Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda antara lain merupakan bukti yang jelas. Peristiwa ini merupakan suatu konsensus nasional yang mampu membuat masyarakat Indonesia terintegrasi di atas gagasan Bhineka Tunggal Ika. Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk, yang hidup tersebar diseluruh tanah air, yang memiliki berbagai macam ragam budaya. Sehingga menimbulkan keanekaragaman institusi dalam masyarakat. Masyarakat mempunyai bentukbentuk struktural, yang dinamakan struktur sosial. Struktur sosial ini bersifat statis dan bentuk dinamika masyarakat disebut proses sosial dan perubahanperubahan sosial. Masyarakat yang mempunyai bentuk-bentuk strukturalnya tentu mengalami pola-pola perilaku yang berbeda-beda juga tergantung dengan situasi yang dihadapi masyarakat tersebut. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang mengarah pada suatu dinamika sosial bermula dari masyarakat tersebut melakukan suatu komunikasi dengan masyarakat lain, mereka membina hubungan baik itu berupa perorangan atau kelompok sosial. Tetapi sebelum suatu hubungan dapat terjadi perlu adanya suatu proses berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat. Sistem sosial budaya merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial budaya dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem sosial budaya itu sendiri tetapi memberikan eksplanasi deskripsinya melalui kenyataan di dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan masyarakat dipandang sebagai suatu sistem atau sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dalam suatu kesatuan. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di penjuru Nusantara. Masing-masing suku memiliki watak dan karakter masing-masing. Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam kultur dan etnik dalam kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Dengan perbedaan ini bangsa Indonesia kaya akan kultur (budaya) dan etnik, dari berbagai suku dan ras yang ada. 124 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan Perbedaan ini menimbulkan watak atau karakter dari masing-masing suku dan ras. 


H. HUBUNGAN ILMU ANTROPOLOGI DENGAN BERBAGAI BIDANG ILMU LAINNYA 

Dari pembagian antropologi secara umum tersebut, terdapat lima cabang atau bagian keilmuan, antara lain: 

1. Paleo-antropologi 
Merupakan cabang ilmu yang terbentuk dari kombinasi paleontologi dan antropologi. Ilmu ini mempelajari asal-usul dan evolusi manusia dengan menggunakan sisa-sisa tubuh yang telah membatu atau fosil-fosil manusia zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi. Untuk mendapatkannya, peneliti harus melakukan berbagai metode penggalian. 

2. Antropologi fisik dalam arti khusus 
Merupakan cabang dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Bahan penelitiannya adalah ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipe) maupun yang dalam (genotipe). Bahan ciri-ciri lahir seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh. Ciri-ciri dalam misalnya frekuensi golongan darah. Manusia dengan ciri yang sama akan dikelompokkan. Pengelompokan manusia seperti ini dalam ilmu antropologi disebut "ras". Dalam hal ini terdapat pula istilah Somatologi, yakni ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengan ciri-ciri fisik. 

3. Etnolinguistik atau antropologi linguistic 
Merupakan suatu cabang ilmu yang asal-mulanya berkaitan erat dengan ilmu antropologi. Penelitiannya berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa, dan beratus-ratus bahasa suku bangsa yang terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa. Dari bahan tersebut berkembanglah berbagai macam metode analisis kebudayaan yang berhubungan dengan bahasa. Etnolinguistik menganggap manusia adalah mahkluk yang dapat berbahasa dan Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 125 berbicara untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mengembangkan sistem komunikasi berupa lambang atau simbol yang begitu kompleks karena manusia memiliki kemampuan bernalar. 

4. Prehistori 
Merupakan cabang ilmu yang mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal huruf. Dalam ilmu sejarah, perkembangan kebudayaan umat manusia dimulai sejak manusia itu ada, yakni sekitar 800.000 tahun yang lalu. Masa umat manusia itu pun dibagi dua, yakni masa sebelum manusia mengenal huruf dan masa setelah manusia mengenal huruf. 

5. Etnologi 
Merupakan cabang ilmu dari antropologi yang mencoba mencapai pengertian mengenai asas-asas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari berbagai bangsa. Etnologi terbagi dalam dua golongan. Pertama, golongan yang menekankan pada bidang diakronis atau pendekatan yang dilakukan dengan melihat perkembangan sepanjang waktu. Kedua, golongan yang menekankan pada bidang sinkronis atau pendekatan yang hanya melihat peristiwa pada suatu waktu tertentu dari kebudayaan umat manusia. 
Dalam etnologi juga dikenal metode descriptive integration. Metode ini melihat etnografi sebagai sebuah bagian dari etnologi dan memiliki peran lebih di dalamnya. Descriptive integration selalu membahas tentang sejarah perkembangan satu daerah tertentu. Ada pula metode generalizing approach, yang ditujukan untuk mencari asas persamaan beragam masyarakat dari kelompok-kelompok manusia. Dalam metode ini, pengertian tentang asas-asas masyarakat dan kebudayaan manusia dicapai melalui sifat keragamannya. Metode ini juga sering disebut antropologi sosial. Pada dasarnya, ilmu antropologi serta sub-sub ilmunya juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan banyak ilmu lainnya. Hubungan tersebut biasanya berupa hubungan timbal balik. Antropologi membutuhkan bantuan hasil kajian-kajian dari ilmu-ilmu lainnya, begitu pula sebaliknya. Dengan saling berkolaborasi dan saling melengkapi informasi yang dibutuhkan, 126 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan pencapaian masing-masing ilmu pun dapat terwujud. 

Beberapa contoh hubungan antara antropologi dengan ilmu yang lain adalah sebagai berikut: 
1. Antropologi dan ilmu geologi Cabang ilmu antropologi yakni paleo-antropologi dan prehistori membutuhkan ilmu geologi yang mempelajari ciri-ciri lapisan bumi serta perubahannya. Dengan bantuan ilmu geologi, para ahli paleo-antropologi dan prehistori dapat dengan mudah menentukan umur relatif dari fosil manusia zaman dulu, atau usia artefak dan bekas kebudayaan yang telah tertimbun lapisan bumi. 
2. Antropologi dan ilmu geografi Geografi atau ilmu bumi adalah ilmu yang mencoba memahami hal-hal tentang alam dunia serta ciri-ciri dari segala macam bentuk hidup yang menduduki muka bumi. Baik flora dan fauna, maupun manusia dengan beragam rupa dan sifatnya. Karena antropologi adalah satu-satunya ilmu yang mampu menyelami beragam masalah manusia, maka tentu ilmu geografi tidak dapat begitu saja mengabaikan ilmu antropologi. Sebaliknya, antropologi pun membutuhkan pengertian tentang geografi, karena banyak masalah kebudayaan manusia yang menyangkut keadaan lingkungan alamnya. 3. Antropologi dan ilmu hukum Antropologi telah dianggap penting bagi para ahli hukum, khususnya untuk menyelami latar belakang kehidupan hukum adat berbagai daerah. Hal ini dikarenakan keberadaan hukum adat tidak termaktub dalam kitab undang-undang. Hukum adat hidup dari berbagai permasalahan yang berasal dari aktivitas masyarakat. Sebaliknya, antropologi membutuhkan peran ilmu hukum karena hukum adalah salah satu sistem pengendali sosial. 
4. Antropologi dan ilmu anatomi Ilmu anatomi mempelajari ciri dari berbagai bagian kerangka manusia, bagian tengkorak, dan ciri-ciri bagian tubuh manusia pada umumnya. Ilmu ini dapat menjadi acuan bagi cabang ilmu antropologi fisik untuk mendapat pengertian tentang asal muasal dan penyebaran manusia serta hubungan antarras di dunia. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 127 
5. Antropologi dan ilmu politik Hubungan kedua ilmu ini ialah hubungan antara kekuatan serta proses politik berbagai negara dan berbagai macam sistem pemerintahan, dengan masalah-masalah sosial budaya dari kekuatan-kekuatan politik tersebut. Ilmu antropologi juga dibutuhkan para peneliti ilmu politik untuk memahami latar belakang dan adat istiadat tradisional dari suku bangsa, ataupun untuk dapat mengerti tingkah laku partai politik maupun politikus. 
6. Antropologi dan ilmu ekonomi Di banyak negara yang jumlah penduduk desanya lebih banyak daripada penduduk kotanya, kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi menjadi hal yang lebih dominan dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Hal itu sangat dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi di negara-negara seperti itu akan memerlukan bahan komparatif. Misalnya mengenai sikap terhadap kerja, sistem gotong royong, sikap terhadap kekayaan. Dalam hal mengumpulkan bahan komparatif seperti itu, ilmu antropologi sangat dibutuhkan. 
7. Antropologi dan ilmu administrasi Ilmu administrasi di Indonesia menghadapi masalah-masalah yang sama dengan ilmu ekonomi. Bahan-bahan keterangan tentang masalah yang berhubungan dengan agraria sudah menjadi sebuah kompleksitas tersendiri dan menjadi masalah yang penting dalam ilmu administrasi. Untuk mendapatkan keterangan masalah tersebut, dibutuhkan metode dalam antropologi. 8. Antropologi dan ilmu kesehatan masyarakat Guna mewujudkan kesehatan masyarakat seperti yang diharapkan, dibutuhkan data-data pendukung. Mulai dari konsepsi dan sikap penduduk tentang kesehatan, tentang sakit, terhadap dukun, terhadap obat-obatan tradisional, terhadap kebiasaan, hingga pantangan makan, dan sebagainya. Untuk mendapatkan semua data tersebut, ilmu kesehatan masyarakat membutuhkan ilmu antropologi. Misalnya, untuk memberikan informasi kepada dokter dan petugas kesehatan tentang 128 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan keragaman kebudayaan, metode-metode dan cara-cara untuk segera menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat. 
9. Pendekatan Ilmu Antropologi Dalam Ilmu Kesehatan Mengacu pada esensi budaya, nilai budaya sehat merupakan bagian yang tidak terpisahkan akan keberadaanya sebagai upaya mewujudkan hidup sehat. Budaya hidup sehat pun telah menjadi bagian dari budaya manusia yang ditemukan secara universal. 
Dari budaya pula, hidup sehat dapat ditelusuri, yaitu melalui komponen pemahanan tentang sehat, sakit, derita akibat penyakit, cacat dan kematian. Beragam nilai masyarakat yang dilaksanakan dan diyakini, serta kebudayaan dan teknologi yang berkembang, juga dapat menjadi acuan menelusuri pola hidup sehat. Dalam ilmu kesehatan, antropologi memiliki peran yang cukup penting. Dengan mengombinasikan antropologi dengan ilmu kesehatan, diperoleh berbagai manfaat bagi praktik ilmu kesehatan itu sendiri. Kombinasi tersebut juga diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan kesehatan yang ada di tengah masyarakat. Hal itu diupayakan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. 

Beberapa manfaat yang diperoleh dengan dihubungkannya antropologi dengan ilmu kesehatan antara lain: 
a. Antropologi sangat dibutuhkan dalam merancang sistem pelayanan kesehatan modern yang dapat diterima masyarakat tradisional. 
b. Dengan antropologi, petugas kesehatan dapat merumuskan program perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat. 
c. Penanganan kebiasaan buruk yang menyebabkan sakit dapat dilakukan dengan lebih mudah dan tepat. 
d. Pengetahuan dalam antropologi dapat memberikan masukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menunjang pembangunan kesehatan, mendukung perumusan kebijakan masalah kesehatan, dan mengatasi kendala dalam pelaksanaan program kesehatan melalui pendekatan kebudayaan. 
e. Antropologi memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat secara keseluruhan, termasuk individualnya Dimana cara pandang yang tepat dapat meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat dengan tetap pula dengan bertumpu pada akar kepribadian masyarakat yang terbangun. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 129 
f. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk menguraikan proses sosial budaya di bidang kesehatan. 
g. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian, baik dalam merumuskan suatu pendekatan yang tepat maupun membantu analisis dan interprestasi hasil tentang suatu kondisi yang ada di masyatakat. Dapat disimpulkan, manfaat antropologi bagi dunia kesehatan adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Interaksi dapat dilakukan antara petugas kesehatan dengan pasien, petugas kesehatan dengan keluarga pasien, atau antarpetugas dengan sesama profesi kesehatan. Pengetahuan tentang budaya suatu penduduk penting kaitannya dengan petugas kesehatan. Tujuannya, agar seorang petugas kesehatan selalu memperhatikan budayasuatu penduduk dalam interaksi terapeutiknya dan dalam rangka menyukseskan program kesehatan. Dengan pemahaman budaya, penyelesaian kasus kesehatan di masyarakat pun dapat dilakukan karena lebih banyak dipengaruhi oleh budaya setempat. Selain dapat mempermudah penanganan kasus karena dapat diterima oleh klien dengan baik, klien juga akan merasa lebih familier dengan petugas kesehatan. Pada masyarakat awam misalnya, akan sangat senang bila dipanggil dengan sebutan yang biasa mereka gunakan keseharian, terutama untuk orang tua. Selain sebagai rasa menghormati, penggunaan panggilan seperti kebiasaan masyarakat juga akan terdengar lebih akrab. Pembuka percakapan dengan sebutan yang akrab itulah yang dapat menjadikan interaksi selanjutnya menjadi lebih lancar. 


I. MANFAAT PETUGAS KESEHATAN MEMPELAJARI KEBUDAYAAN 

1. Didalam semua religi atau agama, ada kepercayaan tertentu yang berkaitan dengan kesehatan, gizi, dan lain-lain. Misal: orang yang beragama Islam tidak makan babi, sehingga dalam rangka memperbaiki status gizi, seorang petugas kesehatan dapat menganjurkan makanan lain yang bergizi yang tidak bertentangan dengan agamanya. 130 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan 

2. Dengan mempelajari organisasi masyarakat, maka petugas kesehatan akan mengetahui organisasi apa saja yang ada di masyarakat, kelompok mana yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan, dan tokoh mana yang disegani. Sehingga dapat dijadikan strategi pendekatan yang lebih tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat. 

3. Petugas kesehatan juga perlu mengetahui pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Dengan mengetahui pengetahuan masyarakat maka petugas kesehatan akan mengetahui mana yang perlu ditingkatkan, diubah dan pengetahuan mana yang perlu dilestarikan dalam memperbaiki status kesehatan. 4. Petugas kesehatan juga perlu mempelajari bahasa lokal agar lebih mudah berkomunikasi, menambah rasa kedekatan, rasa kepemilikan bersama dan rasa persaudaraan. 

5. Selain itu perlu juga mempelajari tentang kesenian dimasyarakat setempat. Karena petugas kesehatan dapat memanfaatkan kesenian yang ada dimasyarakat untuk menyampaikan pesan kesehatan.

6. Sistem mata pencaharian juga perlu dipelajari karena sistem mata pencaharian ada kaitannya dengan pola penyakit yang diderita oleh masyarakat tersebut. 

7. Teknologi dan peralatan masyarakat setempat. Masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan petugas jika petugas menggunakan teknologi dan peralatan yang dikenal masyarakat. 


J. ASPEK SOSIAL DAN BUDAYA YANG MEMPENGARUHI STATUS KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN 

Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah: 

1. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebih banyak menderita penyakit infeksi, sedangkan golongan usia lebih tua banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker, dan lain-lain. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 131 

2. Jenis kelamin 
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan laki-laki banyak menderita kanker prostat. 

3. Pekerjaan 
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja yang banyak dilakukan di sawah dengan lingkungan yang banyak cacing. Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri, misal di pabrik tekstil banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak terpapar dengan debu. 

4. Sosial ekonomi 
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah. 

Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan antara lain: 

1. Pengaruh tradisi 
Ada beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat. 

2. Sikap fatalistis 
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. 
Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit. 

3. Sikap ethnosentris 
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lainnya. 

4. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya 
Contoh: Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat bernaggapan 132 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan kambing. 

5. Pengaruh norma 
Contoh: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna pelayanan. 

6. Pengaruh nilai 
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. 
Contoh: masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daripada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas merah daripada diberas putih. 

7. Pengaruh unsur budaya 
yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku Kesehatan Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa. 

8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku Kesehatan 
Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktorfaktor yang terlibat/berpengaruh pada perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut. 


K. PARADIGMA KEBIDANAN 

Bidan dalam bekerja memberikan pelayanan keprofesiannya berpegang pada paradigma, berupa pandangan terhadap manusia/ perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan/ kebidanan dan keturunan. 

1. Perempuan 
Perempuan sebagai penerus generasi, sehingga keberadaan perempuan yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sangat diperlukan. Perempuan sebagai sumber daya insani merupakan pendidik pertama dan utama Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 133 dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/ kondisi perempuan/ Ibu dalam keluarga. 

2. Lingkungan 
Lingkungan merupakan semua yang terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya, baik lingkungan fisik, psikososial, biologis maupun budaya. Lingkungan psikososial meliputi keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakat. 

3. Perilaku 
Perilaku merupakan hasil seluruh pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. 

4. Pelayanan Kebidanan 
Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan. Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. 

Pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi: 
a. Layanan primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan. 
b. Layanan kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan. 
c. Layanan rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem layanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat/ fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal atau meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya. 

5. Keturunan
Keturunan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas manusia. Manusia yang sehat dilahirkan oleh ibu yang sehat. 134 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan 


L. PENDEKATAN ILMU ANTROPOLOGI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN 

Kebidanan (Midwifery) merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin Ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu budaya, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu dari masa pra konsepsi, masa hamil, ibu bersalin/ post-partum, bayi baru lahir. Pelayanan tersebut meliputi pendeteksian keadaan abnormal pada ibu dan anak, melaksanakan konseling dan pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat. Berdasarkan Filosofi kebidanan menurut Kepmenkes 369/Menkes/SK.III/2007, dalam menjalankan perannya bidan memiliki keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan. Keyakinan tersebut meliputi bahwa Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya. Hal tersebut sejalan dengan lahirnya kompetensi bidan di Indonesia yang tidak terlepas dari Permenkes 572 Tahun 1996 tentang Registrasi Praktik Bidan, kompetensi bidan yang disusun oleh ICM pada Februari 1999, kompetensi bidan Indonesia yang disahkan pada KONAS IBI XII di Denpasar Bali, Peraturan Kepmenkes RI No. 900/Menkes/SK/II/2002 tentang kewenangan praktik bidan dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan, tepatnya pada pernyataan kompetensi 1 (pengetahuan umum, keterampilan dan perilaku yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan kesehatan profesional). Berdasarkan pernyataan kompetensi 1, pada rumusan “Pengetahuan dan Keterampilan Dasar” yang harus dimiliki oleh Bidan adalah tentang kebudayaan dasar masyarakat di Indonesia. Sosial budaya dibangun oleh konstruksi sosial dan dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu perilaku profesional Bidan adalah menghargai budaya setempat berhubungan dengan praktek kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 135 Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh di masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orangtua. Misalnya, terkait dengan norma dan praktik budaya dalam kehidupan seksualitas serta kemampuan bereproduksi, memberikan pelayanan KB yang tersedia sesuai kewenangan dan budaya masyarakat. Seorang Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan harus senantiasa memenuhi standar asuhan kebidanan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 938/Menkes/SK/VIII/2007. 
Pelayanan seorang Bidan dalam memberikan asuhan juga memerhatikan aspek sosialbudaya kliennya yang masuk dalam 
Standar I: Pengkajian- Kriteria Pengkajian: Terdiri dari data subyektif (hasil anamnesa, biodata, keluhan utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial budaya), dan 
Standar III: Perencanaan – Kriteria Perencanaan (mempertimbangkan kondisi psikologi dan sosial budaya klien / keluarga). 

Macam-macam pendekatan sosial dan budaya dalam praktik kebidanan di komunitas: 

1. Agama 
Salah satu pendekatan sosial budaya dalam praktik kebidanan yaitu agama. Contoh: Bidan dapat melakukan pendekatan dengan dasar pandangan islam terhadap KB. Ada dua pendapat mengenai hal tersebut yaitu memperbolehkan dan melarang penggunaan alat kontrasepsi. 

2. Paguyuban 
Pendekatan paguyuban yang dapat dilakukan oleh bidan seperti: 
a. Mengadakan pendekatan dengan pamong desa yaitu untuk mengajak masyarakat untuk memanfaatkan posyandu dengan giat. 
b. Mengadakan penyuluhan kesehatan tentang balita, imunisasi, KB, dan lain-lain. 
c. Bekerja sama dengan pamong desa untuk mendatangi ibu yang memiliki bayi untuk dilakukan imunisasi. 

3. Kesenian tradisional 
a. Kesenian sebagai media penyuluhan kesehatan (dalam penyuluhan kesehatan maupun dalam praktik kebidanan, seni dapat digunakan sebagai media dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat). 136 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan 
b. Seorang petugas dapat menyelipkan pesan-pesan kesehatan didalamnya, misalnya dengan kesenian wayang kulit (melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan kesehatan yang ditampilkan di awal pertunjukan dan pada akhir pertunjukan, dapat diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pesan-pesan yang telah disampaikan di awal pertunjukan atau pertanyaan–pertanyaan yang diberikan oleh penonton. 
c. Menciptakan lagu-lagu berisikan tentang permasalahan kesehatan dalam bahasa daerah setempat. 


M. ASPEK PERILAKU IBU, KELUARGA DAN MASYARAKAT MEMPENGARUHI KESEHATAN IBU HAMIL 

Aspek perilaku ibu di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu: 

1. Usia 
Usia ibu yang terlalu kecil (< 20 tahun) secara fisik dan psikologi kondisi ibu masih belum matang, sedangkan usia > 35 tahun ibu sudah memiliki banyak kekurangan baik dari fisik yang mudah lelah dan psikologi karena beban yang semakin banyak. 

2. Pendidikan 
Pendidikan mempengaruhi seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Pendidikan tinggi ibu biasanya akan bertindak lebih rasional daripada ibu yang pendidikan rendah. 

3. Psikologis 
Selama kehamilan terjadi perubahan psikologi ibu dan emosional. Jika psikologis ibu menerima kehamilannya maka ibu akan menjaga dan memenuhi kebutuhan kehamilannya. 

4. Pengetahuan 
Pengetahuan ibu tentang kehamilan sangat mempengaruhi sikap ibu dalam memenuhi kebutuhan kehamilannya misalnya tentang asupan gizi ibu hamil. Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 137 

Aspek perilaku keluarga dan masyarakat: 

1. Dukungan keluarga Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga karena nantinya akan hadir seorang anggota keluarga baru sehingga berpotensi terjadi perubahan hubungan dalam keluarga 

2. Dukungan suami Respon suami tehadap kehamilan istri (memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri). Bentuk dukungan suami kepada istri: 
a. Dukungan psikologi. 
Contoh: ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian seperti menemani istri saat periksa hamil. 
b. Dukungan sosial. Dukungan yang bersifat nyata dan dalam bentuk materi. 
Contoh: persiapan finansial khusus untuk persalinan. 
c. Dukungan informasi. 
Contoh: mencari informasi mengenai kehamilan, dengan ini akan menjaga kesehatan, kejiwaan istri agar tetap stabil, tenang dan bahagia. 
d. Dukungan lingkungan. 
Contoh: membantu pekerjaan istri. 


N. PERMASALAHAN SOSIAL-BUDAYA: KESETARAAN GENDER DAN PERAN BIDAN DALAM KDRT 

Kesetaraan gender adalah suatu keadaan dimana perempuan dan laki-laki menikmati status dan kondisi yang sama untuk merealisasikan hak asasinya secara penuh dan sama-sama berpotensi daam menyumbangkan pembangunan. Perempuan yang sehat, berpendidikan, berdaya, akan memiliki anak-anak perempuan dan laki-laki yang sehat, berpendidikan dan percaya diri. Pengaruh perempuan yang sangat besar dalam rumah tangga telah memperlihatkan dampak yang positif pada gizi, perawatan kesehatan dan pendidikan anak-anak. Suatu paradigma baru diperukan untuk memberikan kerangka dan menjelaskan hubungan antara perempuan dan laki-laki diberbagai lapisan masyarakat. Strategi-strategi untuk perubahan diperlukan yaitu bagaimana melakukan perubahan hubungan antara perempuan dan lakilaki yang responsive gender, sehingga terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. 138 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) merupakan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang berakibat menyakiti secara fisik, psikis, seksual dan ekonomi, termasuk ancaman, perampasan kebebasan yang terjadi dalam rumah tangga atau keluarga. 

Dampak dari terjadinya KDRT adalah sebagai berikut: 

1. Terhadap wanita 
a. Ketakutan dan kecemasan, hilangnya rasa percaya diri, hilang kemampuan untuk bertindak dan rasa tak berdaya. 
b. Kematian. 
c. Trauma fisik berat: memar, patah tulang, cacat. 
d. Trauma fisik terhadap kehamilan yang berisiko terhadap ibu dan janin. 
e. Kehilangan akal sehat atau gangguan kesehatan jiwa. 
f. Paranoid (curiga terus menerus dan tidak percaya dengan orang lain). 
g. Ganggguan psikis berat (depresi, sulit tidur, mimpi buruk, disfungsi seksual, kurang nafsu makan, ketagihan alkohol dan obat-obatan terlarang). 

2. Terhadap anak 
a. Perilaku yang agresif atau marah-marah. 
b. Meniru tindakan kekerasan yang terjadi dirumah. 
c. Mimpi buruk dan ketajutan. 
d. Sering tidak makan dengan benar. 
e. Menghambat pertumbuhan dan belajar. 
f. Menderita banyak gangguan kesehatan.

3. Terhadap masyarakat a. Siklus kekerasan akan berlanjut ke generasi yang akan datang. 
b. Anggapan yang keliru atau tetap lestari bahwa pria lebih baik dari pada wanita. 
c. Kualitas hidup manusia akan berkurang karena wanita tersebut dilarang berbicara atau terbunuh karena tindakan kekerasan. 
d. Efek terhadap produktifitas misalnya berkurangnya kontribusi terhadap masyarakat, berkurangnya kontribusi diri dan kerja, cuti sakit semakin sering. 

Peran bidan dalam kasus KDRT meliputi: 
1. Merekomendasikan tempat pelindungan seperti crisis center, shelter dan one stop crisis center. 
2. Memeberikan pendampingan psikologis dan pelayanan pengobatan fisik korban.
3. Memberikan support pendampingan hukum dalam acara peradilan. 
4. Melatih kader kader LSM untuk mampu menjadi pendamping korban. 
5. Mengadakan pelatihan tentang perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga sebagai bekal untuk mendampingi korban. 

No comments:

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi

Sediaan Oral Khusus & Formulasi Anak/Bayi 1. Pengertian Sediaan oral khusus → obat yang diberikan melalui mulut dengan formula khus...