PENDEKATAN SOSIAL ANTROPOLOGI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN - Juwita Desri Ayu, S.Tr.Keb., M.Keb.
A. ANTROPOLOGI
Antropologi merupakan bagian dari cabang ilmu sosial yang membahas
mengenai budaya masyarakat suatu etnis. Kata antropologi berasal dari
kombinasi dua kata yang diambil dari Bahasa Yunani yaitu “anthropos” yang
berarti manusia dan “logos” yang berarti ilmu. Secara harfiah, antropologi
dapat didefinisikan sebagai bidang keilmuan yang mempelajari manusia dari
segi keanekaragaman fisik, serta kebudayaannya. Antropologi berkaitan
dengan perilaku manusia, interaksi yang dilakukan, serta budaya yang
tercipta. Antropologi pada hakikatnya mendokumentasikan keadaan manusia,
masa lampau dan masa kini. Perhatian utamanya adalah pada masyarakatmasyarakat eksotis, masa prasejarah, bahasa tak tertulis, dan adat kebiasaan
yang unik. Antropologi memberikan sumbangan unik kepada pengetahuan
manusia tentang apa yang sedang terjadi di dunia. Kita tidak dapat memahami
diri sendiri lepas dari pemahaman kita tentang budaya.
B. TUJUAN DAN KEGUNAAN ANTROPOLOGI
Antropologi dirumuskan untuk lebih memahami dan mengapresiasi
manusia. Dalam hal ini, manusia sebagai entitas biologis homo sapiens dan
makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan komprehensif.
Antropologi bertujuan untuk mencapai pengertian bahwa manusia pada
umumnya mempelajari beragam bentuk fisik, masyarakat serta kebudayaan.
Antropologi juga bertujuan untuk mempelajari manusia dalam beragam
masyarakat, suku bangsa dan budaya sebagai upaya untuk membangun
masyarakat itu sendiri. Dengan begitu, setiap pembangunan yang
direncanakan dan dilakukan dapat bermanfaat melalui pendekatan budaya.
Secara umum, kegunaan antropologi yaitu meliputi antropologi fisik
(memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang
fokusnya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan
mempelajari variasi biologis manusia) dan antropologi budaya (mempelajari
manusia berdasarkan kebudayaannya, dimana kebudayaan dapat merupakan
peraturan atau normal yang berlaku di dalam suatu masyarakat).
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 117
C. FASE PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI
Antropologi termasuk dalam golongan ilmu baru yang terus menerus
mengalami sebuah fase perkembangan.
Koetjaraningrat membagi fase
perkembangan ilmu Antropoloogi ke dalam 4 fase, yaitu:
1. Fase pertama (sebelum tahun 1800)
Fase penduduk pribumi di Benua Afrika, Asia dan Amerika mulai
kedatangan bangsa Eropa Barat.
2. Fase kedua (abad ke-19)
Fase munculnya karangan bahan etnografi, bangsa Eropa menganggap
bahwa bangsa di luar Eropa sebagai bangsa yang primitif dan kuno.
3. Fase ketiga (awal abad ke-20)
Fase yang menjadikan ilmu Antropologi digunakan untuk memahami
dan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-bangsa di luar Eropa
untuk kepentingan pemerintahan kolonial serta mendapatkan suatu
pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.
4. Fase keempat (setelah tahun 1930)
Fase ilmu Antropologi mengalami perkembangan yang signifikan, baik
dalam aspek pengetahuan yang lebih teliti maupun ketajaman metode
ilmiah.
D. BATASAN DAN UNSUR BUDAYA
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam
bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin
Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Kata culture juga diterjemahkan
sebagai ‘kultur’ dalam bahasa Indonesia. Budaya merupakan kata yang sangat
sering dikaitkan dengan ilmu antropologi. Konsep ini memang sangat sering
digunakan oleh antropologi dan telah tersebar ke masyarakat luas bahwa
antropologi bekerja atau meneliti apa yang sering disebut dengan kebudayaan.
Seringnya istilah ini digunakan oleh antropologi dalam pekerjaanpekerjaannya bukan berarti para ahli antropolgi mempunyai pengertian yang
sama tentang istilah tersebut. Seorang ahli antropologi yang mencoba
mengumpulkan definisi yang pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160
118 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
definisi kebudayaan yang dibuat oleh para ahli antropologi. Namun, dari
sekian banyak definisi tersebut ada suatu persetujuan bersama diantara para
ahli antropologi tentang arti dari istilah tersebut. Salah satu definisi
kebudayaan dalam antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton
yang memberikan defInisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian
kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari “Kebudayaan adalah seluruh cara
kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara
hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”. Jadi,
kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi
cara berlaku, kepercayaan, sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang
khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
Kebudayaan bersifat tidak statis, yang berarti dapat berubah secara cepat
atau lambat karena adanya kontak-kontak kebudayaan atau gagasan baru dari
luar yang dapat mempercepat atau memperlambat suatu proses perubahan. Hal
ini berarti bahwa terjadi proses interaksi antara pranata dasar dari kebudayaan
penyandangnya dengan pranata ilmu pengetahuan yang baru akan
menghasilkan pengaruh, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang
mengakibatkan terjadinya perubahan gagasan budaya dan pola perilaku dalam
masyarakat secara menyeluruh atau tidak menyeluruh. Hal tersebut berarti
bahwa masyarakat penyandang kebudayaan mereka masing-masing akan
menghasilkan suatu pandangan atau persepsi yang berbeda tentang suatu
pengertian yang sama dan tidak sama dalam konteks penyakit, sehat, dan sakit.
Dengan demikian, nampaknya ada kelompok yang lebih menekankan pada
terapi adikodrati (personalistik), sedangkan kelompok lainnya pada
naturalistik berdasarkan prinsip-prinsip keseimbangan tubuh. Hal ini berarti
masyarakat ada yang menekankan pada penjelasan sehat-sakit berdasarkan
pemahaman mereka secara etnik pada konsep personalistik maupun
naturalistik. Jadi, keanekaragaman persepsi sehat dan sakit itu ditentukan oleh
pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma kebudayaan masing-masing
masyarakat penyandang kebudayaannya masing-masing. Sehubungan dengan
hal itu, kebudayaan sebagai konsep dasar, gagasan budaya dapat menjelaskan
makna hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial (sosiobudaya) dari
penyakit dengan gejala biologis (biobudaya) seperti apa yang dikemukakan
oleh Foster dan Anderson.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 119
Kebudayaan dipandang sebagai bagian dari warisan manusia yang lebih
banyak diwariskan melalui proses belajar daripada proses bawaan biologis.
Akan tetapi, terdapat dua pandangan yang amat berlainan tentang kebudayaan
tersebut. E.B. Taylor dan para penulis evolusionis, biasanya memperlakukan
kebudayaan sebagai sebagai atribut manusia yang bersifat tunggal dan
kumulatif: perkembangan suatu komunitas sebenarnya terjadi sekedar karena
mereka menikmati ‘kultur’ yang lebih baik daripada yang lainnya. Sedangkan,
para antropolog Boasnian amat kritis terhadap spekulasi-spekulasi para
evolusionis tersebut dan mereka lebih berminat pada masalah-masalah
perbedaan di antara berbagai ragam budaya itu sendiri. Bagi Boasnian,
kebudayaan merupakan agen perubahan yang sifatnya khusus, yang sekaligus
menyebabkan perbedaan di antar populasi-populasi tersebut. Bahkan
merupakan penentu utama bagi kesadaran, pengetahuan, dan pemahamannya.
Bertolak-belakang dengan para evolusionis, mereka berpendapat bahwa
sejarah budaya tidaklah memiliki pola tertentu. Karena sebuah kebudayaan
dibentuk oleh kesepakatan-kesepakatan, pertukaran-pertukaran serta
perpindahan masyarakat, juga setiap kebudayaan dibentuk oleh latar belakang
sejarah dan geografi yang khusus. Maka, tidak ada pola perkembangan yang
baku, dan dengan demikian kebudayaan tidak dapat diperingatkan sebagai
kebudayaan maju ataupun kurang maju.
Kebudayaan yang ideal datang dari pembentukan manusia itu sendiri dan
berasal dari kebutuhan masyarakat. Anggota masyarakat berasal dari
organisasi masyarakat, sehingga anggota masyarakat harus mengikuti
kebudayaan yang dimiliki oleh organisasi masyarakat tersebut. Sebagai
contoh disini digambarkan bahwa kebudayaan yang timbul yang terbentuk
oleh golongan kecil adalah masyarakat kapitalis yang berasal dari kebutuhan
ekonomi dan akhirnya menciptakan ideologi bisnis, dan filsafat pemerintah
yang kemudian membentuk kesatuan nasional. Ide kebudayaan besar timbul
dari kebutuhan masyarakat. Walaupun demikian, di dalam pembentukan
kebudayaan selalu timbul ketidakcocokan diantara ide yang satu dengan ide
lainnya. Meskipun terjadi ketidaksesuaian, hal ini tidak selalu menjadi besar
tanpa adanya konflik dan kekerasan dari masyarakat yang ingin membentuk
suatu kesamaan kebudayaan. Sebagai konsekuensinya ide-ide kebudayaan
selalu saja timbul pada masyarakat kolektif.
120 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
Kajian antropologi budaya menafsirkan kebudayaan seharusnya tidak
sekedar menekankan pada aspek estetik atau humanis, melainkan juga aspek
politik sebagaimana dituliskan oleh John Fiske dalam British Cultural Studies
and Television. Jadi, obyek studi ini bukanlah membahas tentang kebudayaan
dalam pengertian yang sempit (yang sering dikacaukan dengan istilah
kesenian atau kegiatan-kegiatan intelektual dan spiritual), namun kebudayaan
dalam pengertian seperti dirumuskan dalam oleh Raymond Williamss dalam
The Long Revolution (1961), yakni sebagai cara hidup tertentu bagi
sekelompok orang yang berlaku pada suatu periode tertentu. Dengan
demikian, meskipun studi kebudayaan tidak dapat atau tidak perlu direduksi
menjadi studi budaya populer, namun studi populer tersebut menjadi inti
proyek penelitian dalam kajian-kajian antropologi budaya.
E. KONSEP KEBUDAYAAN
1. Kebudayaan diperoleh dari belajar
Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara
belajar. Dia tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur
genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia
yang digerakan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang
tingkah lakunya digerakan oleh insting. Ketika baru dilahirkan, semua
tingkah laku manusia yang baru lahir tersebut digerakkan olen insting
dan naluri. Insting atau naluri ini tidak termasuk dalam kebudayaan,
tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya adalah kebutuhan akan
makan. Makan adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam
kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan itu dipenuhi; apa yang
dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian dari kebudayaan.
Semua manusia perlu makan, tetapi kebudayaan yang berbeda dari
kelompok-kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan
dasar itu dengan cara yang berbeda.
2. Kebudayaan milik Bersama
Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat kepercayaan,
nilai-nilai dan cara berlaku atau kebiasaan yang dipelajari dan yang
dimiliki bersama oleh para warga dari suatu kelompok masyarakat.
Pengertian masyarakat sendiri dalam Antropologi adalah sekelompok
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 121
orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang
biasanya tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya.
3. Kebudayaan sebagai pola
Dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah
pola-pola budaya yang ideal dan pola-pola ini cenderung diperkuat
dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola
kebudayaan yang ideal itu memuat hal-hal yang oleh sebagian besar dari
masyarakat tersebut diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan
dalam keadaan-keadaan tertentu. Pola-pola inilah yang sering disebut
dengan norma-norma. Sebagian dari pola-pola yang ideal tersebut dalam
kenyataannya berbeda dengan perilaku sebenarnya karena pola-pola
tersebut telah dikesampingkan oleh cara-cara yang dibiasakan oleh
masyarakat.
4. Kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif
Pada umumnya kebudayaan dikatakan bersifat adaptif, karena
kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada
kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian
pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan
sosialnya. Banyak cara yang wajar dalam hubungan tertentu pada suatu
kelompok masyarakat memberi kesan janggal pada kelompok
masyarakat yang lain, tetapi jika dipandang dari hubungan masyarakat
tersebut dengan lingkungannya, baru hubungan tersebut dapat lebih
mudah untuk dipahami.
Misalnya, orang akan heran kenapa harus ada
pantangan-pantangan pergaulan seks pada masyarakat tertentu pada
kaum ibu sesudah melahirkan anaknya sampai anak tersebut mencapai
usia tertentu. Bagi orang di luar kebudayaan tersebut, pantangan tersebut
sulit untuk dimengerti, namun bagi masyarakat pendukung kebudayaan
yang melakukan pantangan-pantangan seperti itu, hal tersebut mungkin
merupakan suatu cara menyesuaikan diri pada lingkungan fisik dimana
mereka berada. Mungkin daerah dimana mereka tinggal tidak terlalu
mudah memenuhi kebutuhan makan mereka, sehingga sebagai strategi
memberikan gizi yang cukup bagi anak dibuatlah pantangan-pantangan
tersebut. Hal ini nampaknya merupakan hal yang sepele, namun
sebenarnya merupakan suatu pencapaian luar biasa dari kelompok
122 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
masyarakat tersebut untuk mampu memahami lingkungannya dan berinteraksi
dengan cara melakukan pantangan-pantangan tersebut.
F. KONSEP DAN SYARAT MASYARAKAT
Masyarakat merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia.
Dalam masyarakat, berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar
hubungan dan antar aksi. Dengan demikian, masyarakat dapat diartikan
sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar aksi warga
masyarakat tersebut. Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit.
Dalam arti luas, masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam
hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya.
Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup
bermasyarakat. Dalam arti sempit, masyarakat adalah sekelompok manusia
yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan
dan sebagainya. Masyarakat harus mempunyai syarat-syarat berikut ini:
1. Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan
binatang.
2. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu.
3. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk
menuju pada kepentingan dan tujuan bersama.
G. SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA
Sosial berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem hidup bersama
atau hidup bermasyarakat dari orang atau sekelompok orang yang didalamnya
sudahtercakup struktur, organisasi, nilai-nilai sosial, dan aspirasi hidup serta
cara mencapainya. Budaya berarti cara atau sikap hidup manusia dalam
hubungannya secara timbalbalik dengan alam dan lingkungan hidupnya yang
didalamnya tercakup pulasegala hasil dari cipta, rasa, karsa, dan karya, baik
yang fisik materil maupun yang psikologis, idiil, dan spiritual. Kehidupan
masyarakat sebagai sistem sosial dan budaya dipandang sebagai suatu sistem
atau sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan bagian atau unsur-unsur yang
saling berhubungan dalam suatu kesatuan.
Koentjaraningrat (2002) membagi
budaya menjadi 7 unsur: yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 123
dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem
mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur
itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan.
Pada dasarnya, masyarakat Indonesia sebagai suatu kesatuan telah lahir
jauh sebelum lahirnya (secara formal) masyarakat Indonesia. Peristiwa
sumpah pemuda antara lain merupakan bukti yang jelas. Peristiwa ini
merupakan suatu konsensus nasional yang mampu membuat masyarakat
Indonesia terintegrasi di atas gagasan Bhineka Tunggal Ika. Masyarakat
indonesia adalah masyarakat majemuk, yang hidup tersebar diseluruh tanah
air, yang memiliki berbagai macam ragam budaya. Sehingga menimbulkan
keanekaragaman institusi dalam masyarakat. Masyarakat mempunyai bentukbentuk struktural, yang dinamakan struktur sosial. Struktur sosial ini bersifat
statis dan bentuk dinamika masyarakat disebut proses sosial dan perubahanperubahan sosial. Masyarakat yang mempunyai bentuk-bentuk strukturalnya
tentu mengalami pola-pola perilaku yang berbeda-beda juga tergantung
dengan situasi yang dihadapi masyarakat tersebut. Perubahan dan
perkembangan masyarakat yang mengarah pada suatu dinamika sosial
bermula dari masyarakat tersebut melakukan suatu komunikasi dengan
masyarakat lain, mereka membina hubungan baik itu berupa perorangan atau
kelompok sosial. Tetapi sebelum suatu hubungan dapat terjadi perlu adanya
suatu proses berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.
Sistem sosial budaya merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi
dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial
budaya dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang
dimaksud dengan sistem sosial budaya itu sendiri tetapi memberikan
eksplanasi deskripsinya melalui kenyataan di dalam kehidupan masyarakat.
Kehidupan masyarakat dipandang sebagai suatu sistem atau sistem sosial,
yaitu suatu keseluruhan bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan
dalam suatu kesatuan. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku
yang tersebar di penjuru Nusantara. Masing-masing suku memiliki watak dan
karakter masing-masing. Indonesia merupakan negara yang memiliki
beragam kultur dan etnik dalam kesatuan Republik Indonesia dengan
semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Dengan perbedaan ini bangsa Indonesia
kaya akan kultur (budaya) dan etnik, dari berbagai suku dan ras yang ada.
124 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
Perbedaan ini menimbulkan watak atau karakter dari masing-masing suku dan
ras.
H. HUBUNGAN ILMU ANTROPOLOGI DENGAN BERBAGAI
BIDANG ILMU LAINNYA
Dari pembagian antropologi secara umum tersebut, terdapat lima cabang
atau bagian keilmuan, antara lain:
1. Paleo-antropologi
Merupakan cabang ilmu yang terbentuk dari kombinasi paleontologi dan
antropologi. Ilmu ini mempelajari asal-usul dan evolusi manusia dengan
menggunakan sisa-sisa tubuh yang telah membatu atau fosil-fosil
manusia zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi.
Untuk mendapatkannya, peneliti harus melakukan berbagai metode
penggalian.
2. Antropologi fisik dalam arti khusus
Merupakan cabang dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu
pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari
sudut ciri-ciri tubuhnya. Bahan penelitiannya adalah ciri-ciri tubuh, baik
yang lahir (fenotipe) maupun yang dalam (genotipe). Bahan ciri-ciri lahir
seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk
muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh. Ciri-ciri
dalam misalnya frekuensi golongan darah. Manusia dengan ciri yang
sama akan dikelompokkan. Pengelompokan manusia seperti ini dalam
ilmu antropologi disebut "ras". Dalam hal ini terdapat pula istilah
Somatologi, yakni ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia
dengan ciri-ciri fisik.
3. Etnolinguistik atau antropologi linguistic
Merupakan suatu cabang ilmu yang asal-mulanya berkaitan erat dengan
ilmu antropologi. Penelitiannya berupa daftar kata-kata, pelukisan
tentang ciri dan tata bahasa, dan beratus-ratus bahasa suku bangsa yang
terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa. Dari
bahan tersebut berkembanglah berbagai macam metode analisis
kebudayaan yang berhubungan dengan bahasa. Etnolinguistik
menganggap manusia adalah mahkluk yang dapat berbahasa dan
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 125
berbicara untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Manusia adalah
satu-satunya makhluk yang dapat mengembangkan sistem komunikasi
berupa lambang atau simbol yang begitu kompleks karena manusia
memiliki kemampuan bernalar.
4. Prehistori
Merupakan cabang ilmu yang mempelajari sejarah perkembangan dan
penyebaran kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal
huruf. Dalam ilmu sejarah, perkembangan kebudayaan umat manusia
dimulai sejak manusia itu ada, yakni sekitar 800.000 tahun yang lalu.
Masa umat manusia itu pun dibagi dua, yakni masa sebelum manusia
mengenal huruf dan masa setelah manusia mengenal huruf.
5. Etnologi
Merupakan cabang ilmu dari antropologi yang mencoba mencapai
pengertian mengenai asas-asas manusia, dengan mempelajari
kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari berbagai
bangsa. Etnologi terbagi dalam dua golongan. Pertama, golongan yang
menekankan pada bidang diakronis atau pendekatan yang dilakukan
dengan melihat perkembangan sepanjang waktu. Kedua, golongan yang
menekankan pada bidang sinkronis atau pendekatan yang hanya melihat
peristiwa pada suatu waktu tertentu dari kebudayaan umat manusia.
Dalam etnologi juga dikenal metode descriptive integration. Metode ini
melihat etnografi sebagai sebuah bagian dari etnologi dan memiliki peran
lebih di dalamnya. Descriptive integration selalu membahas tentang
sejarah perkembangan satu daerah tertentu. Ada pula metode
generalizing approach, yang ditujukan untuk mencari asas persamaan
beragam masyarakat dari kelompok-kelompok manusia. Dalam metode
ini, pengertian tentang asas-asas masyarakat dan kebudayaan manusia
dicapai melalui sifat keragamannya. Metode ini juga sering disebut
antropologi sosial.
Pada dasarnya, ilmu antropologi serta sub-sub ilmunya juga memiliki
hubungan yang sangat erat dengan banyak ilmu lainnya. Hubungan tersebut
biasanya berupa hubungan timbal balik. Antropologi membutuhkan bantuan
hasil kajian-kajian dari ilmu-ilmu lainnya, begitu pula sebaliknya. Dengan
saling berkolaborasi dan saling melengkapi informasi yang dibutuhkan,
126 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
pencapaian masing-masing ilmu pun dapat terwujud.
Beberapa contoh
hubungan antara antropologi dengan ilmu yang lain adalah sebagai berikut:
1. Antropologi dan ilmu geologi
Cabang ilmu antropologi yakni paleo-antropologi dan prehistori
membutuhkan ilmu geologi yang mempelajari ciri-ciri lapisan bumi serta
perubahannya. Dengan bantuan ilmu geologi, para ahli paleo-antropologi
dan prehistori dapat dengan mudah menentukan umur relatif dari fosil
manusia zaman dulu, atau usia artefak dan bekas kebudayaan yang telah
tertimbun lapisan bumi.
2. Antropologi dan ilmu geografi
Geografi atau ilmu bumi adalah ilmu yang mencoba memahami hal-hal
tentang alam dunia serta ciri-ciri dari segala macam bentuk hidup yang
menduduki muka bumi. Baik flora dan fauna, maupun manusia dengan
beragam rupa dan sifatnya. Karena antropologi adalah satu-satunya ilmu
yang mampu menyelami beragam masalah manusia, maka tentu ilmu
geografi tidak dapat begitu saja mengabaikan ilmu antropologi.
Sebaliknya, antropologi pun membutuhkan pengertian tentang geografi,
karena banyak masalah kebudayaan manusia yang menyangkut keadaan
lingkungan alamnya.
3. Antropologi dan ilmu hukum
Antropologi telah dianggap penting bagi para ahli hukum, khususnya
untuk menyelami latar belakang kehidupan hukum adat berbagai daerah.
Hal ini dikarenakan keberadaan hukum adat tidak termaktub dalam kitab
undang-undang. Hukum adat hidup dari berbagai permasalahan yang
berasal dari aktivitas masyarakat. Sebaliknya, antropologi membutuhkan
peran ilmu hukum karena hukum adalah salah satu sistem pengendali
sosial.
4. Antropologi dan ilmu anatomi
Ilmu anatomi mempelajari ciri dari berbagai bagian kerangka manusia,
bagian tengkorak, dan ciri-ciri bagian tubuh manusia pada umumnya.
Ilmu ini dapat menjadi acuan bagi cabang ilmu antropologi fisik untuk
mendapat pengertian tentang asal muasal dan penyebaran manusia serta
hubungan antarras di dunia.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 127
5. Antropologi dan ilmu politik
Hubungan kedua ilmu ini ialah hubungan antara kekuatan serta proses
politik berbagai negara dan berbagai macam sistem pemerintahan,
dengan masalah-masalah sosial budaya dari kekuatan-kekuatan politik
tersebut. Ilmu antropologi juga dibutuhkan para peneliti ilmu politik
untuk memahami latar belakang dan adat istiadat tradisional dari suku
bangsa, ataupun untuk dapat mengerti tingkah laku partai politik maupun
politikus.
6. Antropologi dan ilmu ekonomi
Di banyak negara yang jumlah penduduk desanya lebih banyak daripada
penduduk kotanya, kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi
menjadi hal yang lebih dominan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Hal itu sangat dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, cara berpikir,
pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan. Dengan
demikian, pembangunan ekonomi di negara-negara seperti itu akan
memerlukan bahan komparatif. Misalnya mengenai sikap terhadap kerja,
sistem gotong royong, sikap terhadap kekayaan. Dalam hal
mengumpulkan bahan komparatif seperti itu, ilmu antropologi sangat
dibutuhkan.
7. Antropologi dan ilmu administrasi
Ilmu administrasi di Indonesia menghadapi masalah-masalah yang sama
dengan ilmu ekonomi. Bahan-bahan keterangan tentang masalah yang
berhubungan dengan agraria sudah menjadi sebuah kompleksitas
tersendiri dan menjadi masalah yang penting dalam ilmu administrasi.
Untuk mendapatkan keterangan masalah tersebut, dibutuhkan metode
dalam antropologi.
8. Antropologi dan ilmu kesehatan masyarakat
Guna mewujudkan kesehatan masyarakat seperti yang diharapkan,
dibutuhkan data-data pendukung. Mulai dari konsepsi dan sikap
penduduk tentang kesehatan, tentang sakit, terhadap dukun, terhadap
obat-obatan tradisional, terhadap kebiasaan, hingga pantangan makan,
dan sebagainya. Untuk mendapatkan semua data tersebut, ilmu kesehatan
masyarakat membutuhkan ilmu antropologi. Misalnya, untuk
memberikan informasi kepada dokter dan petugas kesehatan tentang
128 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
keragaman kebudayaan, metode-metode dan cara-cara untuk segera
menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat.
9. Pendekatan Ilmu Antropologi Dalam Ilmu Kesehatan
Mengacu pada esensi budaya, nilai budaya sehat merupakan bagian
yang tidak terpisahkan akan keberadaanya sebagai upaya mewujudkan
hidup sehat. Budaya hidup sehat pun telah menjadi bagian dari budaya
manusia yang ditemukan secara universal.
Dari budaya pula, hidup sehat
dapat ditelusuri, yaitu melalui komponen pemahanan tentang sehat, sakit,
derita akibat penyakit, cacat dan kematian. Beragam nilai masyarakat
yang dilaksanakan dan diyakini, serta kebudayaan dan teknologi yang
berkembang, juga dapat menjadi acuan menelusuri pola hidup sehat.
Dalam ilmu kesehatan, antropologi memiliki peran yang cukup
penting. Dengan mengombinasikan antropologi dengan ilmu kesehatan,
diperoleh berbagai manfaat bagi praktik ilmu kesehatan itu sendiri.
Kombinasi tersebut juga diharapkan mampu mengatasi berbagai
persoalan kesehatan yang ada di tengah masyarakat. Hal itu diupayakan
demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Beberapa manfaat yang
diperoleh dengan dihubungkannya antropologi dengan ilmu kesehatan
antara lain:
a. Antropologi sangat dibutuhkan dalam merancang sistem pelayanan
kesehatan modern yang dapat diterima masyarakat tradisional.
b. Dengan antropologi, petugas kesehatan dapat merumuskan program
perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat.
c. Penanganan kebiasaan buruk yang menyebabkan sakit dapat
dilakukan dengan lebih mudah dan tepat.
d. Pengetahuan dalam antropologi dapat memberikan masukan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk menunjang pembangunan
kesehatan, mendukung perumusan kebijakan masalah kesehatan, dan
mengatasi kendala dalam pelaksanaan program kesehatan melalui
pendekatan kebudayaan.
e. Antropologi memberikan suatu cara untuk memandang masyarakat
secara keseluruhan, termasuk individualnya Dimana cara pandang
yang tepat dapat meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat
dengan tetap pula dengan bertumpu pada akar kepribadian
masyarakat yang terbangun.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 129
f. Memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk
menguraikan proses sosial budaya di bidang kesehatan.
g. Sumbangan terhadap metode penelitian dan hasil penelitian, baik
dalam merumuskan suatu pendekatan yang tepat maupun membantu
analisis dan interprestasi hasil tentang suatu kondisi yang ada di
masyatakat.
Dapat disimpulkan, manfaat antropologi bagi dunia kesehatan
adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Interaksi
dapat dilakukan antara petugas kesehatan dengan pasien, petugas
kesehatan dengan keluarga pasien, atau antarpetugas dengan sesama
profesi kesehatan. Pengetahuan tentang budaya suatu penduduk penting
kaitannya dengan petugas kesehatan. Tujuannya, agar seorang petugas
kesehatan selalu memperhatikan budayasuatu penduduk dalam interaksi
terapeutiknya dan dalam rangka menyukseskan program kesehatan.
Dengan pemahaman budaya, penyelesaian kasus kesehatan di
masyarakat pun dapat dilakukan karena lebih banyak dipengaruhi oleh
budaya setempat. Selain dapat mempermudah penanganan kasus karena
dapat diterima oleh klien dengan baik, klien juga akan merasa lebih
familier dengan petugas kesehatan. Pada masyarakat awam misalnya,
akan sangat senang bila dipanggil dengan sebutan yang biasa mereka
gunakan keseharian, terutama untuk orang tua. Selain sebagai rasa
menghormati, penggunaan panggilan seperti kebiasaan masyarakat juga
akan terdengar lebih akrab. Pembuka percakapan dengan sebutan yang
akrab itulah yang dapat menjadikan interaksi selanjutnya menjadi lebih
lancar.
I. MANFAAT PETUGAS KESEHATAN MEMPELAJARI
KEBUDAYAAN
1. Didalam semua religi atau agama, ada kepercayaan tertentu yang
berkaitan dengan kesehatan, gizi, dan lain-lain. Misal: orang yang
beragama Islam tidak makan babi, sehingga dalam rangka memperbaiki
status gizi, seorang petugas kesehatan dapat menganjurkan makanan lain
yang bergizi yang tidak bertentangan dengan agamanya.
130 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
2. Dengan mempelajari organisasi masyarakat, maka petugas kesehatan
akan mengetahui organisasi apa saja yang ada di masyarakat, kelompok
mana yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan, dan tokoh
mana yang disegani. Sehingga dapat dijadikan strategi pendekatan yang
lebih tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat.
3. Petugas kesehatan juga perlu mengetahui pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan. Dengan mengetahui pengetahuan masyarakat maka
petugas kesehatan akan mengetahui mana yang perlu ditingkatkan,
diubah dan pengetahuan mana yang perlu dilestarikan dalam
memperbaiki status kesehatan.
4. Petugas kesehatan juga perlu mempelajari bahasa lokal agar lebih mudah
berkomunikasi, menambah rasa kedekatan, rasa kepemilikan bersama
dan rasa persaudaraan.
5. Selain itu perlu juga mempelajari tentang kesenian dimasyarakat
setempat. Karena petugas kesehatan dapat memanfaatkan kesenian yang
ada dimasyarakat untuk menyampaikan pesan kesehatan.
6. Sistem mata pencaharian juga perlu dipelajari karena sistem mata
pencaharian ada kaitannya dengan pola penyakit yang diderita oleh
masyarakat tersebut.
7. Teknologi dan peralatan masyarakat setempat. Masyarakat akan lebih
mudah menerima pesan yang disampaikan petugas jika petugas
menggunakan teknologi dan peralatan yang dikenal masyarakat.
J. ASPEK SOSIAL DAN BUDAYA YANG MEMPENGARUHI
STATUS KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN
Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara
lain adalah:
1. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit
berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebih banyak menderita
penyakit infeksi, sedangkan golongan usia lebih tua banyak menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker, dan
lain-lain.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 131
2. Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula.
Misalnya dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara,
sedangkan laki-laki banyak menderita kanker prostat.
3. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya
dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja
yang banyak dilakukan di sawah dengan lingkungan yang banyak cacing.
Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri, misal di pabrik tekstil banyak
yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak terpapar
dengan debu.
4. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya
penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak
ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan antara lain:
1. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat.
2. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan.
Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok
tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah titipan
Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang
berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya
yang sakit.
3. Sikap ethnosentris
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika
dibandingkan dengan kebudayaan pihak lainnya.
4. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh: Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu,
menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan
vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat bernaggapan
132 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan mereka
menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan
kambing.
5. Pengaruh norma
Contoh: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak
mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara
dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna
pelayanan.
6. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan.
Contoh: masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih
daripada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1
lebih tinggi diberas merah daripada diberas putih.
7. Pengaruh unsur budaya
yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku Kesehatan
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa.
8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku Kesehatan
Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku
kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi
apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktorfaktor yang terlibat/berpengaruh pada perubahan, dan berusaha untuk
memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut.
K. PARADIGMA KEBIDANAN
Bidan dalam bekerja memberikan pelayanan keprofesiannya berpegang
pada paradigma, berupa pandangan terhadap manusia/ perempuan,
lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan/ kebidanan dan keturunan.
1. Perempuan
Perempuan sebagai penerus generasi, sehingga keberadaan perempuan
yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sangat diperlukan. Perempuan
sebagai sumber daya insani merupakan pendidik pertama dan utama
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 133
dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/
kondisi perempuan/ Ibu dalam keluarga.
2. Lingkungan
Lingkungan merupakan semua yang terlibat dalam interaksi individu
pada waktu melaksanakan aktifitasnya, baik lingkungan fisik,
psikososial, biologis maupun budaya. Lingkungan psikososial meliputi
keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakat.
3. Perilaku
Perilaku merupakan hasil seluruh pengalaman serta interaksi manusia
dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap
dan tindakan.
4. Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang
dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan. Sasaran
pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang
meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan.
Pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi:
a. Layanan primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi
tanggung jawab bidan.
b. Layanan kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan
sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan
atau sebagai salah satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan
kesehatan.
c. Layanan rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam
rangka rujukan ke sistem layanan yang lebih tinggi atau sebaliknya
yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam menerima rujukan
dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan
oleh bidan ke tempat/ fasilitas pelayanan kesehatan lain secara
horizontal maupun vertikal atau meningkatkan keamanan dan
kesejahteraan ibu serta bayinya.
5. Keturunan
Keturunan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas
manusia. Manusia yang sehat dilahirkan oleh ibu yang sehat.
134 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
L. PENDEKATAN ILMU ANTROPOLOGI DALAM PRAKTIK
KEBIDANAN
Kebidanan (Midwifery) merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa
berbagai disiplin Ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan
kebidanan meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu
perilaku, ilmu budaya, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu manajemen
untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu dari masa pra konsepsi, masa
hamil, ibu bersalin/ post-partum, bayi baru lahir. Pelayanan tersebut meliputi
pendeteksian keadaan abnormal pada ibu dan anak, melaksanakan konseling
dan pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
Berdasarkan Filosofi kebidanan menurut Kepmenkes
369/Menkes/SK.III/2007, dalam menjalankan perannya bidan memiliki
keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan. Keyakinan
tersebut meliputi bahwa Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak
memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan
kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Bidan mempunyai persyaratan
pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat
dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai
dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya. Hal tersebut
sejalan dengan lahirnya kompetensi bidan di Indonesia yang tidak terlepas dari
Permenkes 572 Tahun 1996 tentang Registrasi Praktik Bidan, kompetensi
bidan yang disusun oleh ICM pada Februari 1999, kompetensi bidan
Indonesia yang disahkan pada KONAS IBI XII di Denpasar Bali, Peraturan
Kepmenkes RI No. 900/Menkes/SK/II/2002 tentang kewenangan praktik
bidan dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan, tepatnya pada
pernyataan kompetensi 1 (pengetahuan umum, keterampilan dan perilaku
yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan
kesehatan profesional). Berdasarkan pernyataan kompetensi 1, pada rumusan
“Pengetahuan dan Keterampilan Dasar” yang harus dimiliki oleh Bidan adalah
tentang kebudayaan dasar masyarakat di Indonesia.
Sosial budaya dibangun oleh konstruksi sosial dan dipengaruhi oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi. Salah satu perilaku profesional Bidan adalah
menghargai budaya setempat berhubungan dengan praktek kesehatan,
kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 135
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang
tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh di masyarakat dalam
rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan
kehamilan dan kesiapan menjadi orangtua. Misalnya, terkait dengan norma
dan praktik budaya dalam kehidupan seksualitas serta kemampuan
bereproduksi, memberikan pelayanan KB yang tersedia sesuai kewenangan
dan budaya masyarakat.
Seorang Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan harus senantiasa
memenuhi standar asuhan kebidanan sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 938/Menkes/SK/VIII/2007.
Pelayanan
seorang Bidan dalam memberikan asuhan juga memerhatikan aspek sosialbudaya kliennya yang masuk dalam
Standar I: Pengkajian- Kriteria
Pengkajian: Terdiri dari data subyektif (hasil anamnesa, biodata, keluhan
utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial budaya),
dan
Standar III: Perencanaan – Kriteria Perencanaan (mempertimbangkan
kondisi psikologi dan sosial budaya klien / keluarga).
Macam-macam pendekatan sosial dan budaya dalam praktik kebidanan
di komunitas:
1. Agama
Salah satu pendekatan sosial budaya dalam praktik kebidanan yaitu
agama. Contoh: Bidan dapat melakukan pendekatan dengan dasar
pandangan islam terhadap KB. Ada dua pendapat mengenai hal tersebut
yaitu memperbolehkan dan melarang penggunaan alat kontrasepsi.
2. Paguyuban
Pendekatan paguyuban yang dapat dilakukan oleh bidan seperti:
a. Mengadakan pendekatan dengan pamong desa yaitu untuk mengajak
masyarakat untuk memanfaatkan posyandu dengan giat.
b. Mengadakan penyuluhan kesehatan tentang balita, imunisasi, KB,
dan lain-lain.
c. Bekerja sama dengan pamong desa untuk mendatangi ibu yang
memiliki bayi untuk dilakukan imunisasi.
3. Kesenian tradisional
a. Kesenian sebagai media penyuluhan kesehatan (dalam penyuluhan
kesehatan maupun dalam praktik kebidanan, seni dapat digunakan
sebagai media dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat).
136 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
b. Seorang petugas dapat menyelipkan pesan-pesan kesehatan didalamnya,
misalnya dengan kesenian wayang kulit (melalui pertunjukan ini
diselipkan pesan-pesan kesehatan yang ditampilkan di awal pertunjukan
dan pada akhir pertunjukan, dapat diisi dengan pertanyaan-pertanyaan
yang berkaitan dengan pesan-pesan yang telah disampaikan di awal
pertunjukan atau pertanyaan–pertanyaan yang diberikan oleh penonton.
c. Menciptakan lagu-lagu berisikan tentang permasalahan kesehatan dalam
bahasa daerah setempat.
M. ASPEK PERILAKU IBU, KELUARGA DAN MASYARAKAT
MEMPENGARUHI KESEHATAN IBU HAMIL
Aspek perilaku ibu di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu:
1. Usia
Usia ibu yang terlalu kecil (< 20 tahun) secara fisik dan psikologi kondisi
ibu masih belum matang, sedangkan usia > 35 tahun ibu sudah memiliki
banyak kekurangan baik dari fisik yang mudah lelah dan psikologi karena
beban yang semakin banyak.
2. Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi seseorang untuk bertindak dan mencari
penyebab serta solusi dalam hidupnya. Pendidikan tinggi ibu biasanya
akan bertindak lebih rasional daripada ibu yang pendidikan rendah.
3. Psikologis
Selama kehamilan terjadi perubahan psikologi ibu dan emosional. Jika
psikologis ibu menerima kehamilannya maka ibu akan menjaga dan
memenuhi kebutuhan kehamilannya.
4. Pengetahuan
Pengetahuan ibu tentang kehamilan sangat mempengaruhi sikap ibu
dalam memenuhi kebutuhan kehamilannya misalnya tentang asupan gizi
ibu hamil.
Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan | 137
Aspek perilaku keluarga dan masyarakat:
1. Dukungan keluarga
Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga karena nantinya akan
hadir seorang anggota keluarga baru sehingga berpotensi terjadi
perubahan hubungan dalam keluarga
2. Dukungan suami
Respon suami tehadap kehamilan istri (memberikan ketenangan batin
dan perasaan senang dalam diri istri). Bentuk dukungan suami kepada
istri:
a. Dukungan psikologi.
Contoh: ungkapan empati, kepedulian, dan
perhatian seperti menemani istri saat periksa hamil.
b. Dukungan sosial. Dukungan yang bersifat nyata dan dalam bentuk
materi.
Contoh: persiapan finansial khusus untuk persalinan.
c. Dukungan informasi.
Contoh: mencari informasi mengenai
kehamilan, dengan ini akan menjaga kesehatan, kejiwaan istri agar
tetap stabil, tenang dan bahagia.
d. Dukungan lingkungan.
Contoh: membantu pekerjaan istri.
N. PERMASALAHAN SOSIAL-BUDAYA: KESETARAAN GENDER
DAN PERAN BIDAN DALAM KDRT
Kesetaraan gender adalah suatu keadaan dimana perempuan dan laki-laki
menikmati status dan kondisi yang sama untuk merealisasikan hak asasinya
secara penuh dan sama-sama berpotensi daam menyumbangkan
pembangunan. Perempuan yang sehat, berpendidikan, berdaya, akan memiliki
anak-anak perempuan dan laki-laki yang sehat, berpendidikan dan percaya
diri. Pengaruh perempuan yang sangat besar dalam rumah tangga telah
memperlihatkan dampak yang positif pada gizi, perawatan kesehatan dan
pendidikan anak-anak. Suatu paradigma baru diperukan untuk memberikan
kerangka dan menjelaskan hubungan antara perempuan dan laki-laki
diberbagai lapisan masyarakat. Strategi-strategi untuk perubahan diperlukan
yaitu bagaimana melakukan perubahan hubungan antara perempuan dan lakilaki yang responsive gender, sehingga terwujudnya kesetaraan dan keadilan
gender.
138 | Pendekatan Sosial Antropologi Dalam Prakti Kebidanan
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) merupakan segala bentuk
tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang berakibat
menyakiti secara fisik, psikis, seksual dan ekonomi, termasuk ancaman,
perampasan kebebasan yang terjadi dalam rumah tangga atau keluarga.
Dampak dari terjadinya KDRT adalah sebagai berikut:
1. Terhadap wanita
a. Ketakutan dan kecemasan, hilangnya rasa percaya diri, hilang
kemampuan untuk bertindak dan rasa tak berdaya.
b. Kematian.
c. Trauma fisik berat: memar, patah tulang, cacat.
d. Trauma fisik terhadap kehamilan yang berisiko terhadap ibu dan
janin.
e. Kehilangan akal sehat atau gangguan kesehatan jiwa.
f. Paranoid (curiga terus menerus dan tidak percaya dengan orang lain).
g. Ganggguan psikis berat (depresi, sulit tidur, mimpi buruk, disfungsi
seksual, kurang nafsu makan, ketagihan alkohol dan obat-obatan
terlarang).
2. Terhadap anak
a. Perilaku yang agresif atau marah-marah.
b. Meniru tindakan kekerasan yang terjadi dirumah.
c. Mimpi buruk dan ketajutan.
d. Sering tidak makan dengan benar.
e. Menghambat pertumbuhan dan belajar.
f. Menderita banyak gangguan kesehatan.
3. Terhadap masyarakat
a. Siklus kekerasan akan berlanjut ke generasi yang akan datang.
b. Anggapan yang keliru atau tetap lestari bahwa pria lebih baik dari
pada wanita.
c. Kualitas hidup manusia akan berkurang karena wanita tersebut
dilarang berbicara atau terbunuh karena tindakan kekerasan.
d. Efek terhadap produktifitas misalnya berkurangnya kontribusi
terhadap masyarakat, berkurangnya kontribusi diri dan kerja, cuti
sakit semakin sering.
Peran bidan dalam kasus KDRT meliputi:
1. Merekomendasikan tempat pelindungan seperti crisis center, shelter dan
one stop crisis center.
2. Memeberikan pendampingan psikologis dan pelayanan pengobatan fisik
korban.
3. Memberikan support pendampingan hukum dalam acara peradilan.
4. Melatih kader kader LSM untuk mampu menjadi pendamping korban.
5. Mengadakan pelatihan tentang perlindungan terhadap korban kekerasan
dalam rumah tangga sebagai bekal untuk mendampingi korban.
No comments:
Post a Comment