Friday, March 13, 2026

FARMASI GERIATRI (Geriatric Pharmacotherapy)

📚 1. DEFINISI

Farmasi geriatri adalah cabang farmasi klinis yang mempelajari penggunaan obat pada pasien usia lanjut (≥ 60–65 tahun).

Tujuan:

✔ Terapi efektif
✔ Meminimalkan efek samping
✔ Mencegah polifarmasi berbahaya
✔ Meningkatkan kualitas hidup lansia


📚 2. KARAKTERISTIK PASIEN GERIATRI

Lansia memiliki perubahan fisiologis yang memengaruhi obat.

👴 Ciri umum:

✔ Multimorbiditas (banyak penyakit)
✔ Polifarmasi
✔ Penurunan fungsi organ
✔ Sensitivitas obat meningkat


📚 3. PERUBAHAN FARMAKOKINETIK PADA LANSIA


🧪 3.1 Absorpsi

Perubahan biasanya kecil, tetapi dapat dipengaruhi oleh:

  • Penurunan asam lambung

  • Motilitas GI menurun


🧪 3.2 Distribusi

Perubahan komposisi tubuh:

✔ Lemak ↑
✔ Air tubuh ↓
✔ Albumin ↓

Akibatnya:

  • Obat lipofilik → durasi lebih lama

  • Obat ikatan protein → fraksi bebas meningkat


🧪 3.3 Metabolisme (Hati)

Penurunan aliran darah hati → metabolisme obat berkurang.


🧪 3.4 Ekskresi (Ginjal)

Penurunan fungsi ginjal adalah perubahan paling penting ⚠️

➡️ Risiko akumulasi obat
➡️ Perlu penyesuaian dosis


📚 4. PERUBAHAN FARMAKODINAMIK

Lansia lebih sensitif terhadap efek obat.

Contoh:

✔ Sedatif → lebih mudah mengantuk & jatuh
✔ Antihipertensi → hipotensi ortostatik
✔ Antikoagulan → risiko perdarahan


📚 5. POLIFARMASI

Definisi

Penggunaan ≥ 5 obat secara bersamaan.


Dampak:

⚠️ Interaksi obat
⚠️ Efek samping meningkat
⚠️ Kepatuhan menurun
⚠️ Risiko rawat inap


📚 6. DRUG RELATED PROBLEMS PADA LANSIA

Paling sering terjadi pada geriatri.

✔ Dosis tidak sesuai fungsi ginjal
✔ Obat tidak tepat
✔ Duplikasi terapi
✔ Efek samping berat
✔ Ketidakpatuhan


📚 7. OBAT BERISIKO TINGGI PADA LANSIA


🧠 Sedatif & benzodiazepin

Contoh: Diazepam

Risiko:

⚠️ Jatuh
⚠️ Kebingungan
⚠️ Depresi napas


💊 NSAID

Contoh: Ibuprofen

Risiko:

⚠️ Perdarahan lambung
⚠️ Gangguan ginjal
⚠️ Retensi cairan


🩸 Antikoagulan

Contoh: Warfarin

Risiko utama: perdarahan ⚠️


❤️ Digoksin

👉 Digoxin

Sangat perlu TDM karena mudah toksik pada lansia.


📚 8. KRITERIA BEERS

Pedoman obat yang sebaiknya dihindari pada lansia.

Tujuan:

✔ Mengurangi efek samping
✔ Mencegah prescribing yang tidak tepat


📚 9. MASALAH KEPATUHAN PADA LANSIA

Penyebab:

👓 Gangguan penglihatan
🧠 Gangguan memori
👂 Gangguan pendengaran
💰 Biaya obat
💊 Regimen kompleks


📚 10. STRATEGI MENINGKATKAN KEPATUHAN

✔ Simplifikasi regimen
✔ Penggunaan pill box
✔ Edukasi keluarga
✔ Label jelas & besar
✔ Pengingat obat


📚 11. PENYESUAIAN DOSIS BERDASARKAN GINJAL

Fungsi ginjal menurun → clearance obat berkurang.

Biasanya menggunakan estimasi kreatinin clearance.

Obat yang perlu perhatian:

  • Antibiotik tertentu

  • Digoksin

  • Antidiabetik

  • Antikoagulan


📚 12. RISIKO JATUH (FALL RISK)

Obat tertentu meningkatkan risiko jatuh:

⚠️ Sedatif
⚠️ Antihipertensi
⚠️ Antidepresan
⚠️ Hipoglikemik


📚 13. PERAN FARMASIS KLINIS

Sangat penting pada pasien geriatri 👩‍⚕️💊

✔ Medication review
✔ Identifikasi DRPs
✔ Penyesuaian dosis
✔ Edukasi pasien & caregiver
✔ Monitoring efek samping
✔ Deprescribing bila perlu


📚 14. DEPRESCRIBING

Pengurangan atau penghentian obat yang tidak lagi diperlukan.

Tujuan:

✔ Mengurangi polifarmasi
✔ Mengurangi risiko efek samping
✔ Meningkatkan kualitas hidup


📚 15. CONTOH KASUS

Pasien 75 tahun dengan:

  • Hipertensi

  • Diabetes

  • Osteoarthritis

  • Insomnia

Mengonsumsi 8 obat.

Risiko:

⚠️ Interaksi obat
⚠️ Efek samping
⚠️ Kepatuhan rendah
⚠️ Risiko jatuh


✨ KESIMPULAN

Farmasi geriatri berfokus pada penggunaan obat yang aman dan efektif pada lansia dengan mempertimbangkan perubahan fisiologis, polifarmasi, dan kerentanan tinggi terhadap efek samping.

THERAPEUTIC DRUG MONITORING (TDM)

📚 1. DEFINISI

Therapeutic Drug Monitoring (TDM) adalah pengukuran kadar obat dalam darah secara berkala untuk memastikan terapi efektif dan aman.

Tujuan utama:

✔ Mencapai kadar terapeutik
✔ Menghindari toksisitas
✔ Individualisasi dosis


📚 2. KONSEP DASAR

Efek obat berkaitan dengan konsentrasi obat dalam plasma.

Ada 3 zona:

Toksik

Rentang terapeutik

Tidak efektif

📚 3. OBAT YANG MEMERLUKAN TDM

Tidak semua obat perlu TDM.

🔹 Kriteria obat TDM:

✔ Indeks terapi sempit
✔ Variabilitas farmakokinetik tinggi
✔ Hubungan jelas kadar–efek
✔ Tidak bisa dimonitor hanya dari gejala klinis
✔ Risiko toksisitas tinggi


💊 Contoh obat yang sering dilakukan TDM:

❤️ Kardiovaskular

👉 Digoxin

Risiko toksisitas: aritmia fatal ⚠️


🦠 Antibiotik aminoglikosida

👉 Gentamicin

Risiko: nefrotoksisitas & ototoksisitas


🧠 Antiepilepsi

👉 Phenytoin
👉 Valproate


🫁 Bronkodilator

👉 Theophylline


🧬 Imunosupresan

👉 Cyclosporine

Digunakan pada pasien transplantasi.


📚 4. WAKTU PENGAMBILAN SAMPEL

Sangat penting dalam TDM.


🔹 Cmax (Peak)

Kadar tertinggi obat setelah pemberian.

Digunakan untuk menilai efektivitas (misal antibiotik).


🔹 Cmin (Trough)

Kadar terendah sebelum dosis berikutnya.

Digunakan untuk mencegah toksisitas.


🔹 Steady State

Kondisi saat laju masuk = laju eliminasi.

Biasanya tercapai setelah 4–5 kali waktu paruh obat.


📚 5. PARAMETER FARMAKOKINETIK PENTING

🧪 Waktu paruh (t½)

Waktu yang dibutuhkan kadar obat turun 50%.


🧪 Clearance (Cl)

Kemampuan tubuh mengeliminasi obat.


🧪 Volume distribusi (Vd)

Distribusi obat dalam tubuh.


📚 6. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KADAR OBAT


👤 Faktor pasien

✔ Usia (bayi & lansia)
✔ Berat badan
✔ Fungsi ginjal
✔ Fungsi hati
✔ Kehamilan
✔ Genetik


💊 Faktor obat

✔ Interaksi obat
✔ Bioavailabilitas
✔ Ikatan protein plasma


🏥 Faktor klinis

✔ Kepatuhan pasien
✔ Rute pemberian
✔ Penyakit penyerta


📚 7. PROSES TDM


1️⃣ Indikasi TDM

Dokter/farmasis menentukan apakah TDM diperlukan.


2️⃣ Pengambilan sampel darah

Harus pada waktu yang tepat (peak/trough).


3️⃣ Analisis laboratorium

Mengukur konsentrasi obat.


4️⃣ Interpretasi hasil

Membandingkan dengan rentang terapeutik.


5️⃣ Penyesuaian dosis

Individualisasi terapi pasien.


📚 8. PERAN FARMASIS KLINIS

Farmasis memiliki peran besar dalam TDM 💊

✔ Menentukan waktu sampling
✔ Interpretasi hasil
✔ Rekomendasi dosis
✔ Monitoring efek samping
✔ Edukasi pasien


📚 9. CONTOH KASUS TDM

Kasus: Digoksin

Pasien gagal jantung mengalami mual dan aritmia.

Diduga toksisitas.

➡️ Dilakukan TDM → kadar di atas rentang terapeutik
➡️ Dosis diturunkan


📚 10. KEUNTUNGAN TDM

✔ Terapi lebih efektif
✔ Mengurangi efek samping
✔ Individualisasi pengobatan
✔ Menghindari kegagalan terapi
✔ Mengurangi biaya jangka panjang


📚 11. KETERBATASAN TDM

⚠️ Tidak semua obat memiliki rentang terapeutik jelas
⚠️ Biaya pemeriksaan tinggi
⚠️ Interpretasi memerlukan keahlian
⚠️ Faktor klinis tetap harus dipertimbangkan


✨ KESIMPULAN

Therapeutic Drug Monitoring adalah alat penting dalam farmasi klinis modern untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan efektif.

Digunakan terutama pada obat dengan:

💊 Indeks terapi sempit
💊 Risiko toksisitas tinggi
💊 Variabilitas antar pasien besar

OSCE FARMASI KLINIS

🎯 Apa itu OSCE?

OSCE (Objective Structured Clinical Examination) adalah ujian praktik berbasis stasiun untuk menilai kompetensi klinis secara objektif.

Di farmasi klinis, OSCE menilai kemampuan:

✔ Analisis terapi obat
✔ Komunikasi pasien
✔ Konseling obat
✔ Identifikasi DRPs
✔ Keputusan klinis


🧪 STASIUN UMUM OSCE FARMASI


🩺 STASIUN 1 — ANAMNESIS & WAWANCARA PASIEN

Tujuan

Menggali informasi terkait penggunaan obat dan kondisi pasien.

Data yang harus digali:

✔ Keluhan utama
✔ Riwayat penyakit
✔ Riwayat obat
✔ Alergi obat
✔ Kepatuhan
✔ Gaya hidup


Contoh pertanyaan:

  • Sejak kapan keluhan dirasakan?

  • Obat apa saja yang sedang diminum?

  • Apakah ada efek samping?

  • Apakah pernah alergi obat?


💊 STASIUN 2 — KONSELING OBAT

Kemampuan menjelaskan penggunaan obat secara jelas dan aman.


Struktur konseling:

1️⃣ Nama & fungsi obat
2️⃣ Dosis dan aturan pakai
3️⃣ Cara penggunaan
4️⃣ Efek samping
5️⃣ Penyimpanan
6️⃣ Hal yang harus dihindari


Contoh obat:

Obat nyeri: Paracetamol

✔ Digunakan untuk demam & nyeri
✔ Diminum setelah makan
✔ Maksimal 4 gram/hari dewasa


💉 STASIUN 3 — EDUKASI PENYAKIT KRONIS

Biasanya kasus:

🩸 Diabetes

Contoh obat: Metformin

Edukasi meliputi:

✔ Diet
✔ Aktivitas fisik
✔ Monitoring gula darah
✔ Kepatuhan terapi


🫀 Hipertensi

Contoh obat: Amlodipine

Edukasi:

✔ Minum rutin
✔ Batasi garam
✔ Kontrol tekanan darah


⚠️ STASIUN 4 — IDENTIFIKASI DRPs

Mahasiswa diminta menemukan masalah terapi.

Contoh kasus:

Pasien lansia menggunakan 6 obat sekaligus.

Kemungkinan DRPs:

✔ Interaksi obat
✔ Dosis tidak sesuai
✔ Efek samping
✔ Duplikasi terapi


🧬 STASIUN 5 — INTERAKSI OBAT

Contoh:

NSAID + antihipertensi → efek antihipertensi menurun.

Contoh NSAID: Ibuprofen


🤒 STASIUN 6 — PENANGANAN KELUHAN MINOR

Contoh kasus:

Demam → rekomendasi Paracetamol

Batuk → terapi simptomatik

Mahasiswa harus menentukan:

✔ Apakah perlu obat bebas
✔ Perlu rujukan atau tidak


🚑 STASIUN 7 — TRIAGE / RUJUKAN

Menentukan apakah pasien bisa ditangani sendiri atau harus ke dokter.

Red flag yang harus dirujuk:

⚠️ Sesak napas
⚠️ Nyeri dada
⚠️ Penurunan kesadaran
⚠️ Demam tinggi persisten
⚠️ Muntah terus-menerus


👶 STASIUN 8 — POPULASI KHUSUS

Bayi & anak

Dosis berdasarkan berat badan.


Lansia

Risiko efek samping meningkat.


Kehamilan

Pertimbangan keamanan janin.


📋 STASIUN 9 — RESEP & DISPENSING

Mahasiswa harus:

✔ Membaca resep
✔ Mengidentifikasi kesalahan
✔ Menentukan jumlah obat
✔ Memberi etiket


🧾 STASIUN 10 — MEDICATION REVIEW

Menilai terapi pasien secara menyeluruh.

Langkah:

1️⃣ Kumpulkan data
2️⃣ Evaluasi indikasi
3️⃣ Evaluasi efektivitas
4️⃣ Evaluasi keamanan
5️⃣ Rekomendasi


🧠 KOMPETENSI KOMUNIKASI (DINILAI TINGGI)

OSCE sangat menilai soft skill.

Hal yang harus dilakukan:

✔ Sapa pasien dengan ramah
✔ Perkenalkan diri
✔ Gunakan bahasa sederhana
✔ Kontak mata
✔ Empati
✔ Pastikan pasien memahami


Teknik Teach-Back

Minta pasien mengulang instruksi.

Contoh:

“Boleh diulang kembali bagaimana cara minum obatnya?”


❌ KESALAHAN YANG SERING TERJADI

🚫 Terlalu banyak istilah medis
🚫 Tidak menjelaskan efek samping
🚫 Tidak memastikan pemahaman pasien
🚫 Komunikasi kaku
🚫 Tidak mencuci tangan (pada OSCE klinis)


⭐ TIPS LULUS OSCE FARMASI

✔ Ikuti struktur sistematis
✔ Fokus keselamatan pasien
✔ Jangan panik
✔ Bicara jelas dan percaya diri
✔ Gunakan waktu efektif


✨ CONTOH ALUR IDEAL OSCE KONSELING

1️⃣ Salam dan perkenalan
2️⃣ Verifikasi identitas pasien
3️⃣ Jelaskan obat
4️⃣ Cara penggunaan
5️⃣ Efek samping
6️⃣ Hal yang harus diperhatikan
7️⃣ Konfirmasi pemahaman
8️⃣ Penutup


🤍 KESIMPULAN

OSCE Farmasi Klinis menilai kemampuan nyata seorang farmasis dalam praktik pelayanan pasien.

Kompetensi utama:

💊 Clinical reasoning
💊 Communication skill
💊 Patient safety
💊 Pharmaceutical knowledge

Diabetes Melitus

DIABETES MELITUS

Farmakoterapi & Pendekatan Klinis


📚 1. DEFINISI

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.

Hiperglikemia kronis dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ, terutama:

🫀 Jantung
🧠 Otak
👁️ Mata
🩺 Ginjal
🦶 Saraf perifer


📚 2. KLASIFIKASI DIABETES

🔹 1. Diabetes Tipe 1

  • Kerusakan sel beta pankreas (autoimun)

  • Produksi insulin sangat sedikit atau tidak ada

  • Memerlukan insulin seumur hidup


🔹 2. Diabetes Tipe 2 (paling umum)

Karakteristik:

✔ Resistensi insulin
✔ Defisiensi insulin relatif
✔ Berhubungan dengan obesitas & gaya hidup


🔹 3. Diabetes Gestasional

Terjadi selama kehamilan akibat perubahan hormonal.


🔹 4. Diabetes Sekunder

Akibat kondisi lain atau obat tertentu.


📚 3. PATOFISIOLOGI DIABETES TIPE 2

Tiga mekanisme utama:

🧬 1. Resistensi insulin

Sel tubuh tidak responsif terhadap insulin → glukosa tidak masuk ke sel.


🧬 2. Penurunan sekresi insulin

Sel beta pankreas tidak mampu memenuhi kebutuhan insulin.


🧬 3. Peningkatan produksi glukosa hati

Hati tetap memproduksi glukosa meskipun kadar gula tinggi.


📚 4. TUJUAN TERAPI

✔ Mengontrol kadar glukosa darah
✔ Mencegah komplikasi akut & kronis
✔ Menjaga kualitas hidup
✔ Mengurangi mortalitas

Target umum:

  • Gula darah puasa < 126 mg/dL

  • HbA1c < 7% (individualized)


📚 5. TERAPI NON-FARMAKOLOGIS

Langkah pertama pada DM tipe 2:

🥗 Diet

  • Pembatasan karbohidrat sederhana

  • Kontrol kalori

  • Serat tinggi

🏃 Aktivitas fisik

Meningkatkan sensitivitas insulin.

⚖️ Penurunan berat badan

Sangat efektif pada pasien obesitas.


📚 6. TERAPI FARMAKOLOGIS


🔹 6.1 BIGUANID (Lini pertama)

Contoh: Metformin

Mekanisme

✔ Menurunkan produksi glukosa hati
✔ Meningkatkan sensitivitas insulin
✔ Tidak menyebabkan hipoglikemia

Efek samping

  • Gangguan gastrointestinal

  • Risiko asidosis laktat (jarang)

Keunggulan

✔ Tidak menaikkan berat badan
✔ Risiko hipoglikemia rendah


🔹 6.2 SULFONILUREA

Contoh: Glibenclamide

Mekanisme

Merangsang pankreas mengeluarkan insulin.

Risiko utama

⚠️ Hipoglikemia
⚠️ Peningkatan berat badan


🔹 6.3 THIAZOLIDINEDIONE

Contoh: Pioglitazone

Mekanisme

Meningkatkan sensitivitas insulin pada jaringan perifer.

Efek samping

  • Retensi cairan

  • Edema

  • Risiko gagal jantung


🔹 6.4 DPP-4 INHIBITOR

Contoh: Sitagliptin

Mekanisme

Meningkatkan hormon incretin → meningkatkan sekresi insulin.

Keunggulan:
✔ Risiko hipoglikemia rendah
✔ Netral terhadap berat badan


🔹 6.5 SGLT2 INHIBITOR

Contoh: Empagliflozin

Mekanisme

Menghambat reabsorpsi glukosa di ginjal → glukosa keluar lewat urin.

Keuntungan tambahan:
✔ Penurunan berat badan
✔ Manfaat kardiovaskular

Efek samping:

  • Infeksi saluran kemih

  • Dehidrasi


🔹 6.6 INSULIN

Digunakan jika:

✔ Gula darah sangat tinggi
✔ Terapi oral gagal
✔ Kehamilan
✔ DM tipe 1

Contoh: Insulin


📚 7. JENIS INSULIN

JenisOnsetDurasi
RapidCepatPendek
ShortSedangPendek
IntermediateSedangMenengah
Long actingLambatPanjang

📚 8. KOMPLIKASI DIABETES

⚡ Akut

  • Hipoglikemia

  • Ketoasidosis diabetik

  • Hiperglikemia hiperosmolar


🕰️ Kronis

Mikrovaskular

  • Retinopati

  • Nefropati

  • Neuropati

Makrovaskular

  • Penyakit jantung koroner

  • Stroke

  • Penyakit arteri perifer


📚 9. MONITORING TERAPI

Parameter klinis

✔ Gejala hiperglikemia
✔ Berat badan
✔ Tekanan darah


Parameter laboratorium

✔ Gula darah puasa
✔ Gula darah 2 jam postprandial
✔ HbA1c
✔ Fungsi ginjal


📚 10. PERAN FARMASIS KLINIS

Farmasis berperan dalam:

✔ Edukasi penggunaan obat
✔ Pencegahan hipoglikemia
✔ Monitoring interaksi obat
✔ Meningkatkan kepatuhan
✔ Konseling gaya hidup

DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)

DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)


📚 3.1 DEFINISI

Drug Related Problems (DRPs) adalah setiap kejadian atau kondisi yang berhubungan dengan terapi obat yang mengganggu atau berpotensi mengganggu outcome klinis yang diinginkan.

DRPs menjadi fokus utama praktik farmasi klinis karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.


📚 3.2 TUJUAN IDENTIFIKASI DRPs

✔ Mengoptimalkan terapi obat
✔ Mencegah efek samping dan komplikasi
✔ Mengurangi biaya perawatan
✔ Meningkatkan kualitas hidup pasien
✔ Menurunkan angka rawat inap akibat obat


📚 3.3 KLASIFIKASI DRPs

Klasifikasi yang umum digunakan dalam praktik klinis meliputi:


🔹 1. Indikasi Tidak Tepat

Obat diberikan tanpa indikasi medis yang jelas atau diperlukan.

Contoh:

  • Antibiotik untuk infeksi virus

  • Duplikasi terapi tanpa alasan

Contoh obat yang sering disalahgunakan:
👉 Amoxicillin untuk flu biasa


🔹 2. Terapi Tambahan Dibutuhkan

Pasien memiliki kondisi yang memerlukan obat tetapi belum diberikan.

Contoh:

  • Pasien hipertensi tanpa terapi antihipertensi

  • Pasien diabetes tanpa kontrol farmakologis


🔹 3. Obat Tidak Efektif

Obat yang diberikan tidak memberikan efek terapeutik yang diharapkan.

Penyebab:

  • Resistensi mikroba

  • Obat tidak sesuai guideline

  • Kondisi pasien khusus

Contoh:
Antibiotik tidak sensitif terhadap kuman penyebab.


🔹 4. Dosis Terlalu Rendah

Dosis tidak cukup untuk mencapai efek terapi.

Penyebab:

  • Perhitungan dosis salah

  • Kepatuhan rendah

  • Interval terlalu panjang


🔹 5. Dosis Terlalu Tinggi

Dosis berlebihan yang meningkatkan risiko toksisitas.

Contoh:

Overdosis Paracetamol → kerusakan hati


🔹 6. Reaksi Obat Merugikan (Adverse Drug Reaction / ADR)

Efek yang tidak diinginkan pada dosis terapi normal.

Jenis ADR:

✔ Tipe A — terkait dosis (predictable)
✔ Tipe B — idiosinkratik (tidak terduga)

Contoh:

  • Mual akibat obat

  • Ruam alergi

  • Perdarahan akibat NSAID


🔹 7. Interaksi Obat

Interaksi dapat terjadi antara:

  • Obat–obat

  • Obat–makanan

  • Obat–penyakit

Contoh:
Antasida menurunkan penyerapan antibiotik tertentu.


🔹 8. Ketidakpatuhan Pasien (Non-Adherence)

Pasien tidak mengikuti regimen terapi.

Penyebab:

  • Efek samping

  • Regimen kompleks

  • Kurang edukasi

  • Biaya

  • Faktor psikologis


📚 3.4 FAKTOR RISIKO TERJADINYA DRPs

👵 Faktor pasien

  • Lansia

  • Penyakit kronis

  • Gangguan ginjal/hati

  • Polifarmasi


💊 Faktor obat

  • Indeks terapi sempit

  • Obat dengan banyak interaksi

  • Obat berisiko tinggi


🏥 Faktor sistem pelayanan

  • Komunikasi buruk

  • Transisi perawatan

  • Dokumentasi tidak lengkap


📚 3.5 DAMPAK DRPs

DRPs dapat menyebabkan:

⚠️ Kegagalan terapi
⚠️ Efek samping serius
⚠️ Perpanjangan rawat inap
⚠️ Peningkatan biaya kesehatan
⚠️ Mortalitas


📚 3.6 PROSES IDENTIFIKASI DRPs

Farmasis klinis melakukan:

1️⃣ Pengumpulan data pasien

  • Riwayat penyakit

  • Riwayat obat

  • Alergi

  • Hasil laboratorium


2️⃣ Review terapi obat

Evaluasi:

✔ Indikasi
✔ Efektivitas
✔ Keamanan
✔ Kepatuhan


3️⃣ Penentuan masalah

Mengklasifikasikan DRPs sesuai kategori.


4️⃣ Intervensi farmasis

  • Rekomendasi perubahan obat

  • Penyesuaian dosis

  • Edukasi pasien


5️⃣ Monitoring outcome

Menilai keberhasilan intervensi.


📚 3.7 PERAN FARMASIS DALAM PENANGANAN DRPs

Farmasis klinis bertanggung jawab untuk:

✔ Mendeteksi DRPs secara proaktif
✔ Memberikan rekomendasi berbasis evidence
✔ Berkolaborasi dengan dokter & perawat
✔ Edukasi pasien


📚 3.8 STUDI KASUS

Kasus:

Pasien lansia dengan hipertensi dan diabetes menerima 8 obat berbeda.

Masalah yang mungkin muncul:

  • Interaksi obat

  • Risiko efek samping tinggi

  • Kepatuhan rendah

  • Dosis tidak sesuai fungsi ginjal


📚 3.9 PENCEGAHAN DRPs

Upaya pencegahan:

✔ Medication review rutin
✔ Rekonsiliasi obat
✔ Edukasi pasien
✔ Sistem prescribing elektronik
✔ Komunikasi interprofesional


✨ KESIMPULAN BAB 3

Drug Related Problems merupakan aspek kritis dalam farmasi klinis karena:

✔ Berpengaruh langsung pada outcome terapi
✔ Dapat dicegah melalui intervensi farmasis
✔ Menjadi indikator kualitas pelayanan kesehatan

PARACETAMOL (ACETAMINOPHEN)

PARACETAMOL (ACETAMINOPHEN) - BIOKIMIA


📚 1. IDENTITAS KIMIA

Nama generik: Paracetamol
Nama lain: Acetaminophen

Nama kimia (IUPAC):
N-(4-hydroxyphenyl)acetamide

Rumus molekul:
👉 C₈H₉NO₂

Berat molekul:
👉 ±151,16 g/mol


📚 2. STRUKTUR KIMIA

Paracetamol termasuk turunan anilida yang memiliki:

✔ Cincin aromatik benzena
✔ Gugus hidroksil (–OH)
✔ Gugus amida (–NHCOCH₃)

🧪 Struktur dasar:

OH
|
⌬ — NH — CO — CH3

⌬ = cincin benzena (aromatik)


📚 3. CINCIN BENZENA (AROMATIC RING)

Paracetamol memiliki satu cincin benzena dengan substituen pada posisi para (1,4):

1️⃣ Gugus hidroksil (–OH)
2️⃣ Gugus acetamida (–NHCOCH₃)

Ini disebut struktur p-hydroxyacetanilide.

Peran cincin benzena:

✔ Stabilitas molekul
✔ Sifat lipofilik → mudah masuk jaringan
✔ Aktivitas farmakologis


📚 4. GUGUS FUNGSIONAL PENTING

🔹 Fenol (–OH aromatik)

Memberikan sifat:

  • Sedikit asam

  • Antioksidan ringan

  • Kemampuan membentuk ikatan hidrogen


🔹 Amida (–NHCO–)

Memberikan:

  • Stabilitas kimia

  • Kelarutan moderat dalam air

  • Peran dalam metabolisme hati


📚 5. SIFAT FISIKOKIMIA

  • Serbuk kristal putih

  • Sedikit larut dalam air

  • Lebih larut dalam alkohol

  • pKa ≈ 9,5


📚 6. HUBUNGAN STRUKTUR — AKTIVITAS (SAR)

Struktur paracetamol menentukan efek biologisnya:

✔ Cincin aromatik → aktivitas analgesik
✔ Gugus hidroksil → interaksi dengan enzim COX pusat
✔ Gugus amida → stabilitas & keamanan relatif

Jika gugus ini diubah → aktivitas bisa hilang atau toksisitas meningkat.


📚 7. BIOKIMIA MEKANISME KERJA

Paracetamol menghambat sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat.

Target utama:
👉 Enzim cyclooxygenase (COX) di otak

Efek:

🧠 Penurunan sensasi nyeri
🌡️ Penurunan demam

Tidak efektif sebagai antiinflamasi perifer karena:

  • Terinaktivasi oleh peroksida tinggi di jaringan inflamasi


📚 8. METABOLISME BIOKIMIA DI HATI

Metabolisme paracetamol terjadi melalui 3 jalur utama:

1️⃣ Glukuronidasi (~60%)

Paracetamol + asam glukuronat → metabolit non-toksik


2️⃣ Sulfasi (~30%)

Paracetamol + sulfat → metabolit non-toksik


3️⃣ Jalur oksidasi CYP450 (~5–10%)

Melibatkan enzim:

👉 CYP2E1
👉 CYP1A2
👉 CYP3A4

Menghasilkan metabolit toksik:

⚠️ NAPQI

(N-acetyl-p-benzoquinone imine)


📚 9. DETOKSIFIKASI NAPQI

NAPQI sangat reaktif dan berbahaya.

Tubuh menetralisir dengan:

👉 Glutathione (GSH)

NAPQI + GSH → metabolit aman → ekskresi urin


📚 10. BIOKIMIA TOKSISITAS HATI

Jika overdosis:

❌ Cadangan glutathione habis
❌ NAPQI berikatan dengan protein sel hati
❌ Nekrosis hepatosit

Akibat:
👉 Gagal hati akut


📚 11. ANTIDOTUM BIOKIMIA

Antidotum:

👉 N-acetylcysteine

Mekanisme:

✔ Prekursor glutathione
✔ Mengikat NAPQI langsung
✔ Melindungi hepatosit


📚 12. DISTRIBUSI DALAM TUBUH

  • Menyebar luas ke jaringan

  • Melewati plasenta

  • Masuk ASI dalam jumlah kecil

  • Konsentrasi tinggi di hati


📚 13. ELIMINASI

Sebagian besar diekskresikan melalui ginjal sebagai metabolit konjugasi.

Waktu paruh:
👉 ± 2–3 jam (dewasa sehat)


✨ KESIMPULAN BIOKIMIA

Paracetamol adalah molekul aromatik sederhana dengan:

✔ Cincin benzena tersubstitusi para
✔ Gugus fenol dan amida
✔ Metabolisme hati kompleks
✔ Risiko toksisitas melalui NAPQI

ANTASIDA (ANTACID DRUGS)

📚 1. DEFINISI ANTASIDA

Antasida adalah obat yang digunakan untuk menetralkan asam lambung (HCl) secara langsung di lumen lambung.

Berbeda dengan obat penurun asam lain seperti Omeprazole, antasida tidak menghambat produksi asam, tetapi menetralkan asam yang sudah ada.


📚 2. INDIKASI PENGGUNAAN

Antasida digunakan untuk kondisi:

  • Dispepsia (maag)

  • Nyeri ulu hati

  • Gastritis

  • Tukak lambung ringan

  • Refluks asam lambung

  • Heartburn

Terkait penyakit seperti
👉 Gastroesophageal Reflux Disease


📚 3. MEKANISME KERJA

Antasida bekerja melalui reaksi kimia:

Asam lambung (HCl) + basa → garam + air

Hasilnya:
✔ pH lambung meningkat
✔ iritasi mukosa berkurang
✔ nyeri mereda

Onset cepat (menit), tetapi durasi pendek.


📚 4. KLASIFIKASI ANTASIDA

4.1 Antasida Sistemik (Absorbable)

Contoh: natrium bikarbonat

Ciri:

  • Cepat bekerja

  • Dapat diserap ke sirkulasi

  • Risiko alkalosis metabolik

Jarang digunakan jangka panjang.


4.2 Antasida Non-Sistemik (Non-Absorbable)

Lebih aman untuk penggunaan rutin.

a. Aluminium hidroksida

Contoh: Aluminium Hydroxide

Efek:

  • Menetralkan asam

  • Melindungi mukosa

Efek samping:
⚠️ Konstipasi
⚠️ Hipofosfatemia (pemakaian lama)


b. Magnesium hidroksida

Contoh: Magnesium Hydroxide

Efek:

  • Laksatif ringan

Efek samping:
⚠️ Diare


c. Kombinasi aluminium + magnesium

Paling sering digunakan karena efek samping saling menyeimbangkan.

Contoh produk:
👉 Mylanta
👉 Promag


d. Kalsium karbonat

Contoh: Calcium Carbonate

Kelebihan:
✔ Potensi tinggi
✔ Efek cepat

Risiko:
⚠️ Hiperkalsemia
⚠️ Rebound acid secretion


📚 5. FARMAKOKINETIK

  • Bekerja lokal di lambung

  • Absorpsi minimal (non-sistemik)

  • Tidak mempengaruhi produksi asam

  • Durasi ± 1–3 jam


📚 6. EFEK SAMPING

Tergantung komposisi:

Aluminium

  • Konstipasi

  • Penurunan fosfat

Magnesium

  • Diare

Kalsium

  • Hiperkalsemia

  • Batu ginjal

Natrium

  • Retensi cairan

  • Hipertensi


📚 7. INTERAKSI OBAT

Antasida dapat mengganggu penyerapan obat lain.

Obat yang terpengaruh:

  • Antibiotik tetrasiklin

  • Fluorokuinolon

  • Preparat besi

  • Levotiroksin

➡️ Disarankan memberi jarak minum ± 2 jam.


📚 8. PERTIMBANGAN PADA POPULASI KHUSUS

Lansia

Risiko konstipasi dan gangguan elektrolit.

Gagal ginjal

⚠️ Hati-hati magnesium dan aluminium → dapat terakumulasi.

Kehamilan

Sebagian besar antasida non-sistemik relatif aman.


📚 9. PERBANDINGAN DENGAN OBAT PENURUN ASAM LAIN

ObatMekanismeOnsetDurasi
AntasidaNetralisasi asamCepatPendek
H2 blockerHambat reseptor H2SedangMenengah
PPIHambat pompa protonLambatPanjang

Contoh PPI: Omeprazole


📚 10. PERAN DALAM PRAKTIK KLINIS

Antasida digunakan untuk:

✔ Terapi simptomatik cepat
✔ Obat bebas (OTC)
✔ Tambahan terapi GERD
✔ Penanganan dispepsia ringan

Tidak dianjurkan sebagai terapi utama penyakit berat.

Farmakoterapi Penyakit & Praktik Klinis Lanjut

Farmakoterapi Penyakit & Praktik Klinis Lanjut


📚 BAB 1 — FARMAKOTERAPI PENYAKIT KARDIOVASKULAR

1.1 Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg yang persisten.

Tujuan terapi

  • Mencegah komplikasi jantung & stroke

  • Menurunkan mortalitas

  • Menjaga kualitas hidup

Golongan obat utama

1️⃣ ACE Inhibitor

Contoh: Captopril, Ramipril

Mekanisme:
Menghambat pembentukan angiotensin II → vasodilatasi → tekanan darah turun

Efek samping:

  • Batuk kering

  • Hiperkalemia

  • Hipotensi


2️⃣ ARB

Contoh: Valsartan

Digunakan jika pasien tidak toleran ACEI.


3️⃣ Calcium Channel Blocker

Contoh: Amlodipine

Efek:

  • Vasodilatasi

  • Penurunan tekanan darah

Efek samping:

  • Edema perifer

  • Flushing


4️⃣ Diuretik

Contoh: Hydrochlorothiazide

Mengurangi volume cairan → tekanan turun


1.2 Gagal Jantung

Tujuan terapi:

  • Mengurangi gejala

  • Mencegah rawat inap

  • Meningkatkan survival

Terapi utama:

  • ACEI/ARB

  • Beta blocker

  • Diuretik

  • Antagonis aldosteron


📚 BAB 2 — FARMAKOTERAPI DIABETES MELITUS

2.1 Patofisiologi

Terjadi karena resistensi insulin atau defisiensi insulin.


2.2 Terapi Oral

1️⃣ Biguanid

Contoh: Metformin

Mekanisme:

  • Mengurangi produksi glukosa hati

  • Meningkatkan sensitivitas insulin

Efek samping:

  • Gangguan GI

  • Risiko asidosis laktat (jarang)


2️⃣ Sulfonilurea

Contoh: Glibenclamide

Meningkatkan sekresi insulin.

Risiko:
⚠️ Hipoglikemia


2.3 Insulin

Digunakan jika:

  • Gula darah sangat tinggi

  • DM tidak terkontrol

  • Kehamilan

Jenis:

  • Rapid acting

  • Short acting

  • Intermediate

  • Long acting


📚 BAB 3 — FARMAKOTERAPI INFEKSI & ANTIBIOTIK

3.1 Prinsip Penggunaan Antibiotik

  • Tepat indikasi

  • Tepat obat

  • Tepat dosis

  • Tepat durasi

  • Mencegah resistensi


3.2 Antibiotik Umum

Penisilin

Contoh: Amoxicillin

Spektrum luas terhadap bakteri Gram positif.

Efek samping:

  • Diare

  • Alergi

  • Ruam


Sefalosporin

Contoh: Cefixime

Digunakan untuk infeksi saluran napas & urin.


Makrolida

Contoh: Azithromycin

Alternatif pada alergi penisilin.


📚 BAB 4 — FARMAKOTERAPI NYERI & INFLAMASI

4.1 Paracetamol

Contoh: Paracetamol

Efektif untuk nyeri ringan–sedang.

Keunggulan:
✔ Aman untuk lambung
✔ Aman pada anak

Risiko:
⚠️ Hepatotoksik dosis tinggi


4.2 NSAID

Contoh: Ibuprofen, Ketorolac

Mekanisme:
Menghambat enzim COX → menurunkan prostaglandin

Efek samping:

  • Iritasi lambung

  • Risiko perdarahan

  • Gangguan ginjal


📚 BAB 5 — FARMAKOTERAPI SALURAN CERNA

5.1 GERD & Gastritis

Proton Pump Inhibitor

Contoh: Omeprazole

Menurunkan produksi asam lambung.


Antasida

Menetralkan asam lambung secara langsung.


5.2 Mual dan Muntah

Antiemetik

Contoh: Domperidone

Meningkatkan motilitas lambung dan mengurangi mual.


📚 BAB 6 — FARMAKOTERAPI SISTEM PERNAPASAN

6.1 Asma

Terapi meliputi:

✔ Bronkodilator
✔ Kortikosteroid inhalasi
✔ Leukotriene antagonist

Contoh bronkodilator: Salbutamol


6.2 Batuk

Antitusif

Menekan refleks batuk.

Ekspektoran

Membantu pengeluaran dahak.


📚 BAB 7 — FARMAKOTERAPI SISTEM SARAF

7.1 Depresi

Contoh obat: Fluoxetine

Termasuk golongan SSRI.


7.2 Epilepsi

Terapi jangka panjang untuk mencegah kejang.

Contoh: Valproate


📚 BAB 8 — FARMAKOTERAPI PADA POPULASI KHUSUS

Anak

  • Dosis berdasarkan berat badan

  • Risiko kesalahan dosis tinggi

Lansia

  • Perubahan metabolisme obat

  • Risiko polifarmasi

Ibu hamil

  • Pertimbangan keamanan janin


📚 BAB 9 — KEPATUHAN TERAPI (ADHERENCE)

Faktor yang mempengaruhi:

  • Kompleksitas regimen

  • Efek samping

  • Edukasi pasien

  • Dukungan keluarga

Farmasis berperan penting meningkatkan kepatuhan melalui konseling.


📚 BAB 10 — PERAN FARMASIS DALAM TIM KESEHATAN

Farmasis klinis bertanggung jawab pada:

✔ Optimalisasi terapi
✔ Pencegahan interaksi obat
✔ Edukasi pasien
✔ Monitoring efek samping
✔ Penggunaan obat rasional


✨ KESIMPULAN

Farmasi klinis S2 menuntut kemampuan:

✔ Analisis klinis mendalam
✔ Pengambilan keputusan berbasis bukti
✔ Kolaborasi interprofesional
✔ Fokus pada keselamatan pasien

Ketorolac

"Kenapa Ketorolac yang terkenal kuat justru tidak boleh digunakan terlalu lama?" Saat membahas obat nyeri, banyak orang beranggapa...