Friday, December 7, 2018

Spektroskopi FTIR



SPEKTROSKOPI FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy)

LAPORAN PRAKTIKUM


Tanggal Praktikum:
27 Nopember 2018

Dosen:
Zaldy Rusli, M.Farm

Oleh:
WILDA DIAN SARI
0661 15 075





PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2018




KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala kemudahan, rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan praktikum yang berjudul ‘Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy)’ ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam tak lupa pula penulis curahkan kepada Baginda kita Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Adapun tujuan penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Fisiko Kimia pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019.
Doa penulis semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis dibalas oleh Allah SWT, Amin. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun dari segi penyajian. Namun penulis juga berharap semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Atas segala bentuk dukungan, penulis mengucapkan terimakasih.


Bogor, 27 Nopember 2018


Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I: PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1  Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2  Tujuan............................................................................................................... 1
1.2.1        Tujuan Penulisan................................................................................... 1
1.2.2        Tujuan ..................................................................................................  2
1.3  Hipotesis........................................................................................................... 2
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 3
2.1  Kalium Bromida………………………………………………...…… 3
2.2  P-dimetilaminobenzaldehide (p-DAB)………………………………. 3
2.3  Spektroskopi……………………………………………………….….. 3
2.4  Spektrofotometri.............................................................................................. 4
2.5  Spektrofotometer............................................................................................. 4
2.6  Infrared (IR) ...................................................................................................  4
2.6.1       Definisi IR............................................................................................ 4
2.6.2       Spektroskopi IR.................................................................................... 6
2.6.3       Spektrofotometri IR............................................................................. 6
2.6.4       Spektrofotometer IR............................................................................. 6
2.6.5       Lingkup Kegunaan Spektrofotometri IR.............................................. 7
2.6.6       Instrumentasi Spektrofotometer IR...................................................... 7
2.7 Fourier Transform Infrared (FTIR)…………………………………... 8
2.7.1       Spektroskopi FTIR……………………………………………. 8
2.7.2       Spektrofotometer FTIR……………………………………….  9
BAB III: METODE KERJA........................................................................................ 11
3.1  Waktu dan Tempat Penelitian........................................................................... 11
3.2  Alat dan Bahan................................................................................................. 11
3.2.1        Alat....................................................................................................... 11
3.2.2        Bahan.................................................................................................... 11
3.3  Cara Kerja......................................................................................................... 11
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................... 15
4.1 Hasil.................................................................................................................. 15
4.2  Pembahasan...................................................................................................... 16
BAB V: KESIMPULAN ..............................................................................................  19
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 20
LAMPIRAN ..................................................................................................................  22




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam sejarah, spektroskopi telah mengarah kepada cabang ilmu dimana "cahaya tampak" digunakan dalam teori struktur materi serta analisa kualitatif dan kuantitatif. Dalam masa modern, spektroskopi berkembang seiring dengan teknik-teknik baru yang dikembangkan untuk memanfaatkan tidak hanya cahaya tampak, tetapi juga bentuk lain dari radiasi elektromagnetik dan non-elektromagnetik.
Sampai saat ini terdapat dua jenis istrumen yaitu, spektroskopi IR dan spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy). Kelebihan dari FTIR yaitu lebih sensitif dan akurat artinya dapat membedakan antara bentuk cis dan trans, ikatan rangkap terisolasi, terkonjugasi dan yang lainnya, sedangkan spektromeeter IR tidak dapat membedakan antara bentuk cis dan trans, ikatan rangkap terisolasi, terkonjugasi dan yang lainnya.
Fourier Tansform Infrared Spectroscopy (FTIR) adalah sebuah teknik yang digunakan untuk mendapatkan spektrum inframerah dari absorbansi, emisi, fotokonduktivitas atau raman scattering dari sampel padat, cair atau gas. FTIR merupakan salah satu instrumen yang menggunakan prinsip spektroskopi.
1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan Penulisan
Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode Fisiko Kimia pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019 yang diampu oleh dosen Zaldy Rusli, M.Farm., Apt.
1.2.2        Tujuan Pembahasan
a.    Pembahasan ini bagi kami berguna sebagai wahana latihan dalam pembuatan Laporan.
b.    Dengan adanya pembahasan ini tentunya akan semakin memperkaya ilmu pengetahuan kita, khususnya tentang Spektroskopi.
c.    Pembahasan ini digunakan untuk mengetahui dan memahami tentang manfaat, prinsip dan cara kerja dari spektrofotometer FTIR.
d.    Pembahasan ini digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada Para-dimetil amino benzaldehyde.
e.    Pembahasan ini digunakan untuk mengetahui kalibrasi alat FTIR sebagai data untuk menjamin keakuratan pembacaan frekuensi atau panjang gelombang yang dihasilkan.

1.3        Hipotesis
Spektrofotometer FTIR ini mampu mendeteksi dan mengidentifikasikan ikatan dari senyawa para-dimetilaminobenzaldehida (p-DAB) serta dapat memberikan hasil analisis berupa panjang gelombang.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kalium Bromida (KBr) adalah suatu garam yang telah banyak digunakan sebagai antikonvulsan dan obat penenang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dengan penggunaan over the counter berlanjut sampai tahun 1975 di Amerika Serikat. Aksi obat tersebut dikarenakan adanya ion bromida (Natrium Bromida sama efektifnya).
Kalium bromida berupa bubuk kristal putih. Senyawa ini mudah larut dalam air dan tidak larut dalam asetonitril. Dalam larutan berair encer, kalium bromida memiliki rasa manis, sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi kalium bromida memiliki rasa asin. Efek ini disebabkan adanya ion kalium-natrium beromida yang memiliki rasa asin pada konsentrasi apapun. Dalam konsentrasi yang tinggi juga, kalium bromida sangat mengganggu selaput lambung, dapat menyebabkan mual dan terkadang muntah (efek khas dari semua garam kalium yang larut). (Hendayana,1994).

2.2  P-dimetilaminobenzaldehida (p-DAB)
P-dimetilaminobenzaldehida adalah senyawa organik yang mengandung amina dan aldehid moieties yang digunakan dalam reagen Ehrlich dan reagen Kovac untuk menguji indoles. Kelompok karbonil ini biasanya bereaksi dengan posisi dua elektron yang kaya dari indole tetapi juga dapat bereaksi pada posisi C-3 atau N-1 (Hendayana,1994).
2.3  Spektroskopi
Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya berdasarkan cahaya dan suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau dipantulkan oleh materi tersebut. Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara cahaya dan materi.
2.4  Spektrofotometri
Spektrofotometri dianggap sebagai perluasan dan pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur dari berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perkam untuk dapat menghasilkan spektrum khas tertentu pada komponen yang berbeda (Khopkar, 2003).
2.5  Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur spectrum dalam spektroskopi. Spektrofotometer juga merupakan alat untuk mengukur transmittan atau absorban pada suatu sampel sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Spektrofotometer memiliki lima bagian utama yaitu celah masuk, kolimator, pendispersi, lensa, detektor. Terdapat dua jenis spectrofotometer jika ditinjau dari bagian pendispersi, yaitu prisma dan kisi. Pada spectrofotometer berbasis prisma, prisma memiliki keuntungan yaitu menghasilkan satu spektrum cahaya yang jelas (terang) tetapi nilainya tidak linear. Dispersi akan berkurang secara signifikan di daerah panjang gelombang merah dan analisis spectral. Selanjutnya memerlukan tiga referensi (pengukuran ulang) untuk kalibrasinya. Sedangkan pada spektrofotometer berbasis kisi mempunyai kemampuan untuk memberikan resolusi yang sangat baik, akan tetapi grating juga akan mendispersikan spectrum visibel pada gambar (Basset, 1994).
2.6  Inframerah (IR)
2.6.1        Definisi IR
Konsep radiasi inframerah pertama kali diajukan oleh Sir Wiliam Hershel (1800) melalui percobaannya mendespersikan radiasi matular dengan prisma. Ternyata pada daerah sesudah sinar merah menunjukkan adanya kenaikan temperature tertinggi yang artinya pada daerah X radiasi tersebut memiliki banyak kalori (energy tinggi). Daerah spectrum tersebut selanjutnya disebut inframerah (IR diseberang atau diluar merah).
Inframerah adalah radiasi elektromagnetik dari panjang gelombang, lebih panjang dari cahaya tampak tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang radio. Disebut juga "bawah merah" (dari bahasa Latin infra, "bawah"). Merah merupakan warna dari cahaya tampak dengan gelombang terpanjang. Radiasi inframerah memiliki jangkauan tiga "order" dan memiliki daerah panjang gelombang antara 700  nm hingga 1 mm.
Berdasarkan pembagian daerah panjang gelombang, sinar inframerah dibagi atas tiga daerah, yaitu:
1.      Inframerah jarak dekat dengan daerah panjang gelombang 0.75 – 1.5 µm
2.      Inframerah jarak menengah dengan daerah panjang gelombang 1.50 – 10 µm
3.      Inframerah jarak jauh dengan daerah panjang gelombang 10 – 100 µm
Banyak senyawa organik menyerap radiasi pada daerah tampak dan ultraviolet dari spektrum elektromagnetik. Bila senyawa menyerap radiasi pada daerah tampak dan ultra violet maka elektron akan tereksitasi dari keadaan dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Senyawa organik juga menyerap radiasi elektromagnetik pada daerah inframerah. Radiasi infra merah tidak mempunyai energi yang cukup untuk mengeksitasi elektron sehingga dapat menyebabkan senyawa organik mengalami rotasi dan vibrasi. Bila molekul mengabsorpsi radiasi infra merah, energi yang diserap dapat menyebabkan kenaikan dalam amplitudo vibrasi atom-atom yang terikat. Molekul ini berada dalam keadaan vibrasi tereksitasi. Radiasi infra merah dengan frekuensi kurang dari 100 cm-1 atau dengan daerah panjang gelombang lebih dari 100µm diserap oleh molekul organik dan dikonversi ke dalam energi rotasi molekul, namun bila radiasi infra merah dengan frekuensi pada daerah panjang gelombang 1-100 µm diserap oleh molekul organik dan dikonversi ke dalam energi vibrasi molekul. Panjang gelombang eksak absorpsi oleh suatu tipe ikatan tertentu, bergantung pada jenis vibrasi dari ikatan tersebut. Oleh karena itu, tipe ikatan yang berlainan (C-H, C-C, O-H, dan sebagainya) menyerap radiasi inframerah pada daerah panjang gelombang karakteristik yang berbeda.
2.6.2        Spektroskopi Inframerah
Spektroskopi IR didasarkan pada vibrasi suatu olekul. Spektroskopi IR merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75–1000 nm atau pada bilangan gelombang 13000–10 cm-1. Spektroskopi IR sangat berguna untuk analisis kualitatif dari senyawa organic dikarenakan spectrum unik yang dihasilkan oleh setiap senyawa organic dengan puncak structural yang sesuai dengan fitur yang berbeda. Selain itu masing-masing kelompok fungsional juga menyerap sinar IR pada frekuesi yang unik. (Silverstein, 2002).
2.6.3        Spektrofotometri Inframerah
Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75–1.000 µm atau pada bilangan gelombang 13.000–10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya memiliki vektor listrik dan vektor magnetik diman keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan.
2.6.4        Spektrofotometer Inframerah
Spektrofotometer IR merupakan alat untuk mendeteksi gugus fungsional, mengidentifikasi senyawa dan menganalisis campuran. Pada spektrofotometer inframerah, satuan bilangan gelombang merupakan satuan yang umum digunakan. Nilai bilangan gelombang berbanding terbalik terhadap frekuensi atau energinya.
Spektrofotometer inframerah ini ditunjang dengan tekhnologi komputer yang dapat memberikan hasil yang lebih baik. Spektrofotometer inframerah dapat digunakan untuk identifikasi suatu senyawa melalui gugus fungsinya, juga untuk mengetahui nilai absorbansi dalam senyawa tersebut. Namun jarang sekali, karena cahaya lebih sering diteruskan dibandingkan dengan diserap. Untuk elusidasi struktur bilangan gelombang 1400-4000 cm-1 pada bagian kiri spektrum IR, merupakan daerah khusus yang berguna untuk identifikasi gugus-gugus fungsional, yaitu absobsi dari vibrasi ulur. Lalu pada daerah kanan bilangan gelombang 1400 cm-1 sering kali rumit disebabkan pada daerah tersebut terjadi absorbsi dan vibrasi tekuk, namun setiap pada setiap senyawa organik mempunyai absorbsi yang berkharakteristik pada daerah tersebut. Oleh sebab itu maka daerah itu disebut daerah sidik jari. Prinsip kerja spektrofotometer infra merah adalah sama dengan spektrofotometer yang lainnya yakni interaksi energi dengan suatu materi.
2.6.5        Lingkup Kegunaan Spektrofotometri IR
Sasaran analisis kualitatif spektrofotometri  IR secara umum adalah zat-zat organik walaupun dapat untuk zat anorganik, namun demikian dari yang telah diuraikan masih terdapat banyak kelemahan analisis kualitatif dengan spektrofotometri IR, sehingga sistem optic dan instrumennya perlu dikembangkan. Saat ini dikenal dengan nama spektrosfotometri FTIR yang dapat menutup beberapa kelemahan dari spektrofotometer IR konvensional.
2.6.6        Instrumentasi Spektrofotometer IR
Instrumen yang digunakan untuk mengukur serapan radiasi infra merah pada berbagai panjang gelombang disebut spektrometer inframerah. Pancaran inframerah umumnya mengarah pada bagian spektrum elektromagnet yang terletak di antara daerah tampak dan daerah gelombang mikro. Pancaran inframerah yang kerapatannya kurang dari pada 100 cm-1  (panjang gelombang lebih dari 100 µm) diserap oleh sebuah molekul organik dan diubah menjadi energi putaran molekul. Penyerapan itu tercantum dan demikian spektrum rotasi molekul terdiri dari garis-garis tersendiri.
Bagian pokok dari spektrofotometer inframerah adalah sumber cahaya inframerah monokromator dan detector. Cahaya dari sumber dilewatkan melalui cuplikan, dipecah menjadi frekuensi-frekuensi individunya dalam monokromator dan intensitas relative dan frekuensi individu diukur oleh detector.
Instrumentasi spektrofotometer IR susunannya hampir sama dengan spektrofotometer UV-VIS. Perbedaannya adalah sampel berhadapan langsung dengan sumber radiasi.
Ket:
·         SR       = Sumber radiasi
·         SK       = Sampel kopartemen
·         M         = Monokromator
·         D         = Detektor
·         A         = Amplifier/penguat
·         VD      = Visual display /meter
Maksud susunan instrument tersebut yaitu:
1.      Melindungi detector dari radiasi luar rentang yang terpilih
2.      Mencegah radiasi sesatan
3.      Meminimalkan kemungkinan radiasi latar belakang

2.7  Fourier Transform Infrared (FTIR)
2.7.1        Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared)
Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) merupakan salah satu teknik analitik yang sangat baik dalam proses identifikasi struktur molekul pada suatu senyawa organik. Teknik ini digunakan untuk mengukur absorpsi panjang gelombang cahaya infrared yang dipancarkan oleh material yang diuji. FTIR dapat mengetahui informasi struktur molekul yang diperoleh secara tepat dan akurat (memiliki resolusi yang tinggi), juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi sampel dalam berbagai fase (gas, padat, cair).
Metode spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) yaitu metode spektroskopi inframerah modern yang dilengkapi dengan teknik transformasi Fourier untuk mendeteksi dan menganalisis hasil spektrumnya. Dalam hal ini metode spektroskopi yang digunakan adalah metode spektroskopi absorbsi, yaitu metode spektroskopi yang didasarkan atas perbedaan penyerapan radiasi inframerah oleh molekul suatu materi. Absorbsi inframerah oleh suatu materi dapat terjadi jika dipenuhi dengan dua syarat, yakni kesesuaian antara frekuensi radiasi inframerah dengan frekuensi vibrasional molekul sampel dan perubahan momen dipole-dipol selama bervibrasi.
2.7.2        Spektrofotometer FTIR (Fourier Transform Infrared)
Spektrofotometer FTIR 8300/8700 merupakan salah satu alat yang digunakan untuk identifikasi senyawa, khususnya pada senyawa organik, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis dilakukan dengan melihat bentuk spektrum yaitu dengan melihat puncak-puncak spesifik yang menunjukan jenis gugus fungsional yang dimiliki oleh senyawa tersebut. Sedangkan analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa standar yang dibuat spektrumnya pada berbagai variasi konsentrasi.
Pada dasarnya spektrofotometer Fourier Transform Infra-Red (FTIR) sama dengan spektrofotometer Infra-Red dispersi, perbedaannya yaitu pengembangan pada sistem optiknya sebelum bekas sinar infra merah melewati contoh. Dari deret Fourier tersebut intensitas gelombang dapat digambarkan sebagai daerah waktu atau daerah frekuensi. Perubahan gambaran intensitas gelombang radiasi elektromagnetik daerah waktu ke daerah frekuensi atau sebaliknya disebut Transformasi Fourier (Fourier Transform). Selanjutnya pada sistem optik peralatan instrumen Fourier Transform Infra-Red dipakai dasar daerah waktu yang non dispersive.
Jumlah energi yang diperlukan untuk meregangkan suatu ikatan tergantung pada tegangan ikatan dan massa atom yang terikat. Bilangan gelombang suatu serapan dapat dihitung menggunakan persamaan yang diturunkan dari Hukum Hooke. Ikatan yang lebih kuat dan atom yang lebih ringan menghasilkan frekuensi yang lebih tinggi. Semakin kuat suatu ikatan, semakin besar energi yang dibutuhkan. Serapan radiasi inframerah oleh suatu molekul terjadi karena interaksi vibrasi ikatan kimia yang menyebabkan perubahan polarisabilitas dengan medan listrik gelombang elektromagnetik.
Terdapat dua macam vibrasi molekul, yaitu vibrasi ulur dan vibrasi tekuk. Vibrasi ulur adalah suatu gerakan berirama di sepanjang sumbu ikatan sehingga jarak antar atom bertambah atau berkurang. Vibrasi tekuk dapat terjadi karena perubahan sudut-sudut ikatan antara ikatan pada sebuah atom, atau karena gerakan sebuah gugusan atom terhadap sisa molekul tanpa gerakan nisbi atom-atom di dalam gugusan.



BAB III
METODOLOGI KERJA

1.1  Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 27 Nopember 2018 di Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka Tropika Institut Pertanian Bogor.
1.2  Alat dan Bahan
1.2.1        Alat
1.      Alat pembuat pellet (Lempengan Besi, Vacum)
2.      Mortar
3.      Neraca Analit
4.      Spatel
5.      Spektroskopi FTIR
6.      Stopwatch
1.2.2        Bahan
1.      Alcohol
2.      Kapas
3.      KBr
4.      P – Dimetylaminobenzaldehida (p-DAB)
3.3 Cara Kerja
A.    Pembuatan pelet atau sampel
1.      Dibersihkan setiap peralatan dengan menggunakan alkohol hingga steril dan kering
2.      Disiapkan peralatan ring ke-1
3.      Ditimbang 250 mg KBr dan ± 1-2 mg sampel garam P-dimetylaminobenzaldehida
4.      Dihaluskan sampel bersama KBr dengan mortar hingga halus
5.      Ditempelkan ring 1 dan ring 2 dan ratakan
6.      Ditempelkan kedua ring pada ring berukuran yang lebih besar di press hingga maksimal
7.      Dipasang alat vacum pada saluran ring
8.      Dikempress pellet dengan pompa hidrolik dan mengatur tekanannya menjadi 80 KN selama 7 menit.
9.      Dihentikan proses vakum dan pengepresan
10.  Dilepaskan saluran vacum pada ring
11.  Dipindahkan kedua ring pada tuas dan press kembali
12.  Pelet yang sudah terbentuk dilepaskan dari tuas menggunakan tissue

B.     Fourier Transform Infra-Red
1.      Dinyalakan alat FT-IR tunggu hingga 5 menit
2.      Diletakkan pellet yang sudah jadi pada sampel holder dan menempatkannya pada lintasan sinar alat FTIR.
3.      Dipilih Sample Signal Chain pada komputer
4.      Dilakukan evaluet pick packing
5.      Dilakukan pengukuran dengan alat FTIR dan mengamati grafik yang terbentuk.
6.      Disimpan data yang dihasilkan dan melakukan pembahasan terhadap puncak-puncak yang terbentuk

C.     Prosedur cek sinyal pada FT-IR
1.      Dipilih meissure, klik advance, klik ubah nama
2.      Dipilih advance, klik ubah nama seperti nama kelas
3.      Dipilih cek sinyal, dan tepatkan panah pada grafik
4.      Dipilih scale display, dan tepatkan panah berwarna di tengah grafik
5.      Diklik save

D.    Prosedur analisis gugus fungsi
1.      Dimasukkan sampel kedalam alat FT-IR
2.      Ditunggu hasil analisis sampel
3.      Dipilih menu manipulate pada komputer, klik base line, klik correct
4.      Dipilih manipulate, klik normal size, klik correct
5.      Dipilih menu manipulate, klik smooth
6.      Dipilih menu tick picking pada komputer untuk menunjukkan nilai
7.      Di klik sampel 2, klik FT-IR-chance colour
8.      Dilakukan analisis gugus fungsi

E.     Cara membaca spektra FT-IR
1.      Tentukan sumbu X dan Y sumbu dari spektrum. X-sumbu dari spektrum IR diberi label sebagai “bilangan gelombang” dan jumlahnya berkisar dari 400 dipaling kanan untuk 4000 paling kiri. X-sumbu menyediakan nomor penyerapan sumbu Y diberi label sebagai “transmitansi (%)” dan jumlahnya berkisar dari 0 pada bagian bawah dan 100 di atas
2.      Tentukan karakteristik puncak dalam spektrum IR. Semua spektrum inframerah mengandung banyak puncak. Selanjutnya melihat data daerah gugus fungsi yang diperlukan untuk membaca spektrum
3.      Tentukan daerah spektrum dimana puncak karakteristik ada. Spektrum IR dapat dipisahkan menjadi empat wilayah. Rentang wilayah pertama dari 4000 ke 2500. Rentang wilayah kedua dari 2500 sampai 2000. Ketiga wilayah berkisar dari 2000-1500. Rentang wilayah keempat dari 1500-400.
4.      Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah pertama. Jika spektrum memiliki karakteristik puncak di kisaran 4000-2500, puncak sesuai dengan penyerapan yang disebabkan oleh NH, CH dan obligasi OH tunggal
5.      Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah ketiga. Jika spektrum memiliki karakteristik puncak di kisaran 2500 sampai 2000, puncak sesuai dengan penyerapan yang disebabkan oleh ikatan rangkap tiga
6.      Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah ketiga. Jika spektrum memiliki karakteristik puncak di kisaran 2000 sampai 1500, puncak sesuai dengan penyerapan yang disebabkan oleh ikatan rangkap seperti C=O, C=N, dan C=C
7.      Bandingkan puncak di wilayah keempat spektrum IR lain. Yang keempat dikenal sebagai daerah sidik jari dari spektrum IR dan mengandung sejumlah besar puncak serapan yang account untuk berbagai macam ikatan tunggal. Jika semua puncak dalam spektrum IR, termasuk yang di wilayah keempat, adalah identik dengan puncak spektrum lain, maka anda dapat yakin bahwa dua senyawa adalah identik.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Data Pengamatan
A.    Sampel b1 (red)
Daerah
Jenis ikatan
Intansitas
2712.96-2904.69
C-H Alkana
Kuat
1660.64
C=O Aldehid
Kuat
1162.30-1310.20
C-N Amina
Kuat
1547.96-1596.98
C=C Aromatik
Berubah-ubah
809.98
Para
Kuat
B.     Sampel b2 (blue)
Daerah
Jenis ikatan
Intansitas
2712.76-2903.41
C-H Alkana
Kuat
1530.96
C=C Aromatik
Berubah-ubah
1660.64
C=O Aldehid
Kuat
1162.30-1310.20
C-N Amina
Kuat
809.98
Para
Kuat
4.2  Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai uji spektroskopi FTIR dari hasil analisis sampel padatan terhadap senyawa P-dimethylaminobenzaldehida (p-DAB) yang terdiri dari 2 gugus alkil, gugus amina, benzen dan gugus aldehid. Sampel padat yang akan dianalisa yaitu sebanyak 1-2 mg P-dimetylaminobenzaldehida (p-DAB) yang dicampurkan dengan serbuk KBr sebanyak 250 mg dengan membentuk pellet untuk dianalisis.
Br berupa garam. KBr bersifat transparan dan inert (tidak dapat bereaksi dengan senyawa lain) dan tidak dapat menghasilkan serapan pada IR sehingga yang terlihat secara langsung adalah serapan dari sampel tersebut. Jika KBr terkontaminasi karena higroskopik, maka tidak akan mempengaruhi hasil karena akan muncul di daerah sidik jari. KBr berfungsi sebagai eksipien agar pellet yang dihasilkan dapat transparan sehingga sampel dapat terdeteksi spektranya, mengencerkan sampel agar konsntrasinya tidak terlalu pekat karena konsentrasi yang pekat akan menghasilkan spectrum yang tidak proporsional, meningkatkan kompatibilitas karena jika pelletnya tebal tidak akan dapat terbaca atau terlihat.
Senyawa tersebut dibuat pellet terlebih dahulu dengan menggunakan mortir agate dimana mortir ini memiliki pori-pori yang sangat kecil sehingga tidak akan mempengaruhi jumlah sampel yang digunakan, vaccum, per, pengepres, dua buah besi sebagai penghimpit pellet dengan posisi bagian permukaan halus yang dihimpitkan ke pellet, Di vakum selama 7 menit, pembuatan pelet tersebut harus dalam keadaan di vakum dan cepat karena KBr sifatnya higroskopis, yaitu mampu menyerap air dan udara sehingga pada spectrum bias terdapat puncak gugus OH, bila dalam pembuatan pelet tersebut tidak disegerakan atau tidak cepat serta dengan keadaannya yang tidak vakum. Vacum digunakan untuk meminimalisir udara yang terdapat dalam partikel-partikel pellet dan membuat pellet dapat memadat. Pellet yang dibuat harus bulat, pipih dan transparan karena agar dapat terlewati dan menerima interaksi dengan sinar infared yang ditembakkan melalui pellet. Jika pada pellet dibagian sisi retak, maka tidak akan mempengaruhi analisis selama bagian tengah tidak terjadi keretakan. Pada proses ini tidak dilakukannya blanko dengan menggunakan KBr, dikarenakan sinyal yang diserap tidak akan mempengaruhi sampel.
Alat yang digunakan yaitu spektroskopi FT-IR yang merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75-1000 μm atau pada bilangan gelombang 13.000–10 cm-1. Spektroskopi FT-IR digunakan untuk mengetahui tujuan kalibrasi alat FT-IR sebagai data untuk menjamin keakuratan pembaca frekuensi atau panjang gelombang yang dihasilkan, juga untuk menganalisis secara kualitatif yaitu ditentukannya ikatan kimia dari spektra vibrasi yang dihasilkan oleh senyawa pada panjang gelombang tertentu, meskipun pada sebagian kasus dapat digunakan juga untuk menganalisis secara kuantitatif namun jarang sekali digunakan yaitu dengan melakukan perhitungan tertentu dengan menggunakan intensitas, serta dapat mendeteksi suatu golongan dan gugus fungsi suatu senyawa. Prinsip kerja dari alat FTIR adalah interaksi antara materi berupa molekul senyawa kompleks dengan energi berupa sinar infared mengakibatkan molekul-molekul bervibrasi, dimana besarnya energi vibrasi tiap komponen molekul berbeda-beda tergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya sehingga akan dihasilkan frekuensi yang berbeda.
Pada sampel 1 terdapat serapan senyawa aldehida di (1660.64 cm-1 ), amina tersier terdapat di (1162.30-1310.21 cm-1  ), alkana terdapat di (2712.96-2904.69 cm-1), benzen terdapat pada (1547.06-1596.98 cm-1 ), dan terdapat senyawa para di (809.98 cm-1 ). Pada sampel 2 terdapat serapan senyawa aldehida di (1660.64 cm-1 ), amina tersier terdapat di (1162.30-1310.20 cm-1  ), alkana terdapat di (2712.76-2903.41 cm-1), benzen terdapat pada (1530.96 cm-1 ), dan terdapat senyawa para di (809.98 cm-1 ).


Struktur kimia p-dimetilamino benzaldeehid


Dari gugus dapat terlihat bahwa amina yang dihasilkan sesuai dengan struktur di atas yaitu amina tersier. Gugus amina tidak dapat terdeteksi pada spektra/peak karena merupakan amina tersier (tidak lagi berikatan dengan H) sehingga perlu dilakukan analisis lanjut untuk mengetahui gugus ini.
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan data pengamatan yang telah didapatkan, dapat disimpulkan bahwa:
1.      Spektrofotometer FTIR dapat mengidentifikasi gugus fungsi dan golongan senyawa p-dimetilaminobenzaldehid.
2.      Pada sampel 1 terdapat serapan senyawa aldehida di (1660.64 cm-1 ), amina tersier terdapat di (1162.30-1310.21 cm-1  ), alkana terdapat di (2712.96-2904.69 cm-1), benzen terdapat pada (1547.06-1596.98 cm-1 ), dan terdapat senyawa para di (809.98 cm-1 ).
3.      Pada sampel 2 terdapat serapan senyawa aldehida di (1660.64 cm-1 ), amina tersier terdapat di (1162.30-1310.20 cm-1  ), alkana terdapat di (2712.76-2903.41 cm-1), benzen terdapat pada (1530.96 cm-1 ), dan terdapat senyawa para di (809.98 cm-1 ).
4.      Senyawa yang terdeteksi yaitu p-dimetilaminobenzaldehid dengan bukti munculnya substitusi para, alkana, gugus amina tersier, cincin aromatik, dan gugus aldehid.








DAFTAR PUSTAKA
Basset, J.1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Jakarta:EGC
Hendayana, Sumar, dkk.1994.Kimia Analitik Instrumen.Semarang: IKIP Press
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Terjemahan Basic Concepts of Analytical Chemistry.Jakarta:UI
Khopkar.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press: Jakarta.
Silverstein.2002. Identification of Organic Compound, 3rd Edition. John Wiley & Sons Ltd. Newyork.



LAMPIRAN

A.    Preparasi Sampel
B.     Alat Pengempres dan Vakum
C.     Hasil Preparasi



D.    Identifikasi Gugus Sampel
E.     Hasil

Monday, December 3, 2018

Kematian

Gue nggak bermaksud untuk menggurui, gue hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh guru ngaji gue.

Cukuplah kematian sebagai pengingat kita.
Untuk apa kita hidup kalau akhirnya kita akan mati?
Jawabannya simple, tetapi tanggung jawabnya berat. BERIBADAH.
Semua yang diciptakan oleh Allah, masing-masing memiliki tujuan. Bahkan seekor babi pun diciptakan karena ada tujuannya.

Apa hewan dan tumbuhan juga beribadah?
Iya. Mereka beribadah dengan caranya sendiri. Mereka selalu bertasbih menyebut asma Allah.

Hari ini, gue dan yang lain kehilangan seseorang di setiap pengajian rutinitas malam selasa.
Selamat jalan, Faisal.
Kami disini untuk mendoakanmu.

Sunday, December 2, 2018

Entah

Entah dimana.
Entah bagaimana.
Tapi akan kululuhkan dengan doa.

Thursday, November 22, 2018

Artikel Gastroenteritis


  Gastroenteritis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya muntah dan diare yang diakibatkan oleh infeksi, alergi tidak toleran terhadapmakanan tertentu atau mencerna toxin. (tucker, 1998).
Gastroenteritis adalah inflamasi membrane mukosa lambung dan usushalus yang ditandai dengan muntah-muntah dan diare yang berakibatkehilangan cairan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gejalakeseimbangan elektrolit. (Cecyly, Betz.2002)
Buang air besar (defekasi). Dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai defekasi yang meningkat. (Mansoer,Aref,1999).
Jadi Gastroenteritis adalah infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh berbagai enterogen termasuk, bakteri, virus dan parasite, tidak toleran terhadap makanan tertentu atau mencerna toksin yang ditandai dengan muntah-munta dan diare yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit.
Anatomi Dan Fisiologi :










Organ dan fungsinya yang terlibat di saluran cerna :
1.     Mulut
Mulut merupakan jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencernaan Secara umum mulut terdiri atas dua bagian yaitu :
a.      Bagian luar yang sempit (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir, dan gusi.
b.     Bagian rongga mulut (bagian dalam), yaitu rongga mulut yang dibatasi oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis
Selaput lendir mulut ditutupi epitelium yang berlapis – lapis, di bawahnya terletak kelenjar – kelenjar halus yang mengeluarkan lender, selaput ini kaya akan pembulu darah dan juga memuat banyak ujung akhir syaraf sensoris. Di sebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan disebelah dalam ditutupi oleh selaput lender (mukosa)
Di mulut ada beberapa bagian yang perlu diketahui :
1)     Palatum
Palatum terdiri dari dua bagian :
a) Palatum durum, yang tersusun atas taju – tajuk palatum dari sebelah depan tulang maksilaris dan lebih kebelakang terdiri dari dua bagian palatum
b) Palatuum mole, terletak di belakang yang merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak, terdiri atas aringn fibrosa dan selaput lender
2)     Rongga mulut
a)     Gigi
Manusia mempunyai dua susunan gigi primer dan sekunder. Juga gigi ada dua macam, yaitu :
Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak – anak umur 6 – 7 bulan 9 Gigi tetap tumbuh pada umur 6 – 18 tahun umlahnya 32 buah.
b)     Lidah
Berfungsi untuk menggerakan makanan saat dikunyah atau ditelan. Dibagian belakang pangkal lidah terdapat epiglotis yang berfungsi untuk menutup jalan nafas.
3)     Kelenjar ludah
Terdapat tiga buah kelenjar ludah bagiannya yaitu :
a) Kelenjar parotis, letaknya dibawah depan dari telinga diantar prosesus mastoid kiri dan kanan os mandibularis, duktusnya stensoni.
b) Kelenjar submaksilaris, terletak dibawah rongga mulut bagian belakang, duktusnya bernama duktus wartoni, bermuara di rongga mulut dekat dengn frenulun lingua.ukuran kurang lebih sebesar kacang kenari.
c) Kelenjar sub lungualis, letaknya terdapat dibawah selaput lender dasar rongga mulut bermuara didasar rongga mulut.
2.     Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amande) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang bnyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terdapat persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, yang terletak di belakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
3.     Oesofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, pnajnagnya sekitar 9 sampai dengan 25 cm dengan diameter sekitar 2.54 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.
4.     Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak, terutama didaerah epigaster lambung, terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilarik terletak dibawah diafragma didepan pangkreas dan limpa menempel disebelah kiri fundus uteri.
Bagian lambung terdiri dari:
a.      Fundus ventrikuli
Bagian yang menonjol keatas terletak sebelah kiri osteom kardium dan biasanya penuh berisi gas.
b.     Korpus fentrikuli
Korpus fentrikuli setinggi ostium kardium suatu lekukan pada bagian bawah kurfatura minor.
c.      Antrum vilorus
Antrum vilorus bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk spinter pylorus
d.     Kurvatura minor
Kurvatura minor terdapat disebelah kanan lambung, terbentang dari osteom kardiak sampai ke pilorus.
e.      Kurvatura mayor
Kurvatura mayor lebih panjang dari kurvatura minor dari sisi kiri osteom kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lenalis terbentang dari bagian atas kurvatura mayor sampai ke limfa.
f.      Osteom kardiakum
Osteom kardiakum merupakan tempat diman abdomen masuk ke lambung pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.

5.     Usus halus (intestinum minor)
Adalah saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar, yang merupakan tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai kiatup ileosekal empatnya menyatu dengan usus besar.
Susunan usus halus :
a.      Duodenum
Disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25 cm, berbentuk seperti sepatu kuda melengkung kekiri pada lengkungan ini terdapat pangkreas.
b.     Yeyenum
Adalah bagian kelanjutan dari duodenum yang panjangnya lebih 1 – 1,5m.
c.      Ileum
ILeum merentang sampai menyatu dengan usus besar dengan panjang 2 – 2,5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatam peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesentreum.

6.     Hati
Organ yang paling besar dalam tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya 1500 kg. Letaknya dibagian atas rongga abdomen disebelah 13 kanan bawah diafragma.Hepar tertetak diquadran kanan atas abdomen, dibawah diafragma dan terlindungi oleh tulang rusuk (costae),sehingga dalam keadaan normal (hepar yang sehat tidak teraba). Hati menerima darah teroksigenasi dari arteri hepatica dan darah yang tidak teroksigenasi tetapi kanya akan nutrien vena porta hepatica.

7.     Empedu
Sebuah kantong berbentuk terang dan merupakan membrane berotot, letaknya dalam sebuah lobus disebelah permukaan bawah hati sampai pinggir depannya, panjangnya 8 – 12 cm berisi 60 cm. Empedu yang diproduksi oleh sel – sel hati memasuki kanalikuli empedu yang kemudian menjadi duktus hepatica kanan dan kiri. Duktus hepatica menyatu untuk membentuk duktus hepatic komunis yang kemudian menyatu dengan duktus sistikus dari kandung empedu damn keluar dari hati sebagai duktus empedu komunis. Duktus empedu komunis bersama denagn duktus pancreas bernuara diduodenum atau dialihkan untuk penyimpanan dikandung empedu.

8.     Pankreas
Pankreas adalah kelenjar terelongasi berukuran besar dibalik kurvatura besar lambung. Kelenjar pankreas Sekumpulan kelenjar yang strukturnya sanga mirip dengan kelenjar ludah panjangya kira – kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum 14 sampai kelimpa dan beratnya rata – rata 60 – 90 gr. Terbentang pada vertebral lumbalis II dan II dibelakang lambung.

9.     Usus Besar
dalam ke luar adalah selaput lender, laposan otot melingkar, lapisan otot memanjang, dan jaringan ikat . Ukurannya lebi besar daripada usus halus, disini terdapat taenia coli dan apendiks epiploika, mukosanya lebih halus daripada usus halus dan tidak memiliki villi,tidal memiliki lipatan – lipatan sirkuler. Serabut otot longitudinal dalam muskulus eksterna membentuk tiga pita, taenia coli yang menarik kolon menjafdi kantong – kantong besar yang di sebut haustra. Dibagian bawah terdapat katup ileosekal yaitu katup antara usus halus dan usus besar. Katup ini tertutup dan akan terbuka untuk merespongelombang peristaltic, sehingga memungkinkan kimus mengalir 15 ml sekali masuk dan untuk total aliran sebanyak 500 ml/hari.
Usus besar terdiri dari :
a. Kolon asendens (kanan)
b. Kolon transversum
c. Kolon desendens (kiri)
d. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).

10.  Rectum
Rectum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar(setelah kolon sigmoid) dan berakhir dianus. 15 Biasanya rectum ini kosong karena tinja simpam ditempat yang lebih tinggi yaitu pada kolon desenden. Jika kolon desenden penuh dan tinja masuk kedalam rectum, maka akan timbul keinginan buang air besar, orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan ini, tetapi pada bayi dan anak mudah mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yamg penting untuk menunda buang air besar. Anus merupakan lubang diujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh.sebagiann anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. (Setiadi, 2007)
Pathogenesis / penyebab
Gastroenteritis bisa disebabkan oleh 4 hal, yaitu faktor infeksi (bakteri, virus, parasit), faktor malabsorbsi dan faktor makanan dan faktor makanan dan faktor psikologis.
Diare karena infeksi seperti bakteri, berawal dari makanan atau minuman yang masuk kedalam tubuh manusia. Bakteri tertelan masuk sampai lambung, yang kemudian bakteri dibunuh oleh asan lambung. Namun jumlah bakteri terlalu banyak maka, ada yang beberapa lolos sampai keduodenum dan berkembang biak. Pada kebanyakan kasus gastroenteritis, orga tubuh yang diserang adalah usus. Didalam usus tersebut bakteri akan memproduksi enzim yang akan mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan usus, sehingga bakteri dapat masuk kedalam membran epitel, dimembran ini bakteri mengeluarkan toksik yang merangsang sekresi cairan-cairan usus
dibagian cripta villi dan menghambat absorbsi cairan. Sebagian akibat dari keadaan ini volume cairan didalam lumen usus meningkat yang mengakibatkan dinding usus menggembung dan tegang sebagian dinding usus akan mengadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas untuk mengalirkan cairan diusus besar. Apabila jumlah cairan tersebut melebihi kapasitas absorbsi usus maka akan terjadi diare.
Diare yang diakibatkan malabsorbsi makanan akan menyebabkan makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Tertelannya makanan yang beracun juga dapat menyebabkan diare karena akan mengganggu motilitas usus. Iritasi mukosa usus mengakibatkan hiperperistaltik sehingga terjadi berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehinggan timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.
Adanya iritasi mukosa usus dan peningkatan volume cairan dirongga usus menyebabkan klien mengeluh abdomen terasa sakit. Selain karena 2 hal itu, nyeri abdomen atau kram timbul karena metabolisme karbohidrat oleh bakteri diusus yang menghasilkan gas H2 dan C02 yang menimbulkan kembung dan flatus berlebihan. Biasanya pada keadaan ini klien akan merasa mual bahkan muntah serta nafsu makannya menurun. Karena terjadi 18 ketidakseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila keadaan ini terus berlanjut dan klien tidak mau makan maka, akan menimbulkan gangguan nutrisi sehingga klien lemas.
Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akan menyebabkan klien terjatuh dalam keadaan dehidrasi. Yang ditandai dengan berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun bisa jadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Tubuh yang kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan membuat cairan ekstraseluler dan intraseluler menurun. Dimana selain air, tubuh juga kehilangan Na, K dan Ion Karbonat. Bila keadaan ini berlanjut terus, maka volume darah juga berkurang. Tubuh mengalami gangguan sirkulasi, perfusi jaringan terganggu dan akhirnya dapat menyebabkan syok hipovolemik dengan gejala denyut jantung meningkat, nadi cepat tapi kecil, tekanan darah menurun klien sangat lemah kesadaran menurun.
Akibat lain dari kehilangancairan ekstrasel dan intrasel yang berlebihan, tubuh akan mengalami asidosis metabolik dimana klien akan tampak pucat dengan pernapasan yang cepat dan dalam (pernapasan kussamul)
Faktor psikologis juga dapat menyebabkan diare. Karena faktor psikologis (stres, marah, takut) dapat merangsang kelenjar adrenalin dibawah pengendalian siste, pernapasan simpatis untuk merangsang pengeluaran hormon yang kerjanya mengatur metabolisme tubuh. Sehingga bila terjadistres maka, metabolisme akan terjadi peningkatan dalam bentuk peningkatan mortalitas usus. (Ngastiah, 2005 ; Syaifuddin, 1999 ; Barbara C Long, 1999)

Gejala Dan Tanda
1.     Konsistensi feces cair (diare) dan frekuensi defekasi semakin sering
2.     Muntah (umumnya tidak lama)
3.     Demam (mungkin ada, mungkin tidak)
4.     Kram abdomen, tenesmus
5.     Membrane mukosa kering
6.     Fontanel cekung (bayi)
7.     Berat badan menurun
8.     Malaise
(Cecyly, Betz.2002)
Tata laksana (Tujuan-sasaran Terapi-strategi)
1.     Penatalaksanaan medik primer diarahkan pada pengontrolan dan penyembuhan penyakit yang mendasar.
2.     Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan peroral, mungkin diresepkan glukosa oral dan larutan elektrolit
3.     Untuk diare sedang, obat-obat non-spesifik, difenoksilat (lomotif) dan loperamit (imodium) untuk menurunkan motilitas dari sumber noninfeksius.
4.     Diresepkan antimikrobial jika telah teridentifikasi preparat infeksius atau diare memburuk
5.     Terapi interavena untuk hidrasi cepat (diberi cairan), terutama untuk klien yang sangat muda atau lansia. Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau berat ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
a.      Dehidrasi ringan
1 jam pertama 25–50 ml/KgBB/hari
Kemudian 125 ml/ KgBB /hari
b.     Dehidrasi sedang
1 jam pertama 50–100 ml/KgBB/oral
Kemudian 125 ml/kgBB/hari
c.      Dehidrasi berat
1)     Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3–10 kg
a)     1 jam pertama : 40 ml/kgBB/jam = 10 tetes/kg BB/menit (infus set 1 ml =
15 tetes atau 13 tetes/kgBB/menit.
b)     7 jam berikutnya 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (infus set 1 ml =
20 tetes).
c)     16 jam berikutnya 125 ml/kgBB oralit per oral bila anak mau
minum,teruskan dengan intra vena 2 tetes/kgBB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit.
2)     Untuk anak lebih dari 2–5 tahun dengan berat badan 10–15 kg.
a)     1 jam pertama 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/kg BB/menit (infus set 1 ml =
15 tetes) atau 10 tetes/ kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
b)     7 jam kemudian 127 ml/kgBB oralit per oral, bila anak tidak mau minum
dapat diteruskan dengan intra vena 2 tetes/kgBB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit.
3)     Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg
a)     1 jam pertama 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit (infus set 1 ml =
20 tetes)
b)     16 jam berikutnya 105 ml/kgBB oralit per oral
(Boughman, 2000)

Wednesday, November 14, 2018

Pemeriksaan Laboratorium Gangguan Penyakit Diabetes Mellitus

Tanda dan gejala penyakit secara fisik

Poliuri (Frequent urination)
Yaitu penderita sering buang air kecil dalam jumlah banyak. Kejadiaanya biasanya terjadi pada malam  hari. Hal ini terjadi karena kadar gula dalam darah sangat tinggi dan tidak bisa ditoleransi oleh organ ginjal. Orang dewasa normalnya mengekskresikan satu sampai dua liter air seni setiap harinya. Dehidrasi parah akibat sering kencing dapat memengaruhi fungsi ginjal. Akhirnya kadar gula dalam air seni pun jadi pekat dan untuk selanjutnya memaksa ginjal untuk menarik air dalam jumlah banyak dari tubuh agar air seni atau air kencing tidak terlalu pekat.

Polidipsi (Excessive thirst)
Yaitu penderita sering merasa haus yang berlebihan. Hal ini terjadi karena sedang berlangsung penarikan cairang yang banyak oleh ginjal. Gampang haus terjadi karena kadar gula berlebih dalam darah menyerap air terus menerus dari jaringan sehingga membuatnya dehidrasi. Maka penderita cepat merasa haus dan ingin minum terus.

Polifagi (Increased hunger)
Yaitu penderita sering merasa cepat lapar. Hal ini terjadi karena sel-sel tubuh kekurangan energi akibat tidak bisa masuknya gula ke dalam sel. Kurangnya insulin untuk memasukkan gula ke sel membuat otot dan organ melemah dan tubuh kehabisan energi. Otak akan mengira kurang energi itu karena kurang makan sehingga tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan mengirimkan sinyal lapar. Inilah akhirnya yang semakin memperparah keadaan jika rasa laparnya dituruti dengan banyak makan. Akhirnya sel tubuh kekurangan energi dan tubuh pun merasa lemas dan lelah.Di dalam darah semakin terjadi penumpukan kadar gula.

Penurunan berat badan (Weight loss)
Seseorang yang ditengarai mengidap diabetes biasanya mengalami penurunan berat badan yang drastis dan signifikan. Ini dianggap sebagai gejala awal diabetes, akibat glukosa tidak bisa diserap secara optimal oleh tubuh. Karena kemampuan metabolisme glukosa terganggu, tubuh akan menggunakan apapun lain sebagai 'bahan bakar', misalnya otot dan lemak sehingga orang akan tampak kurus.
Rasa lelah dan lemah yang tidak biasa
Kekurangan gula akan menyebabkan kekurangan energi. Kerja tubuh akan melambat dan malah membakar otot atau lemak selama beraktivitas.

Pandangan kabur (Blurred vision)

Kadar glukosa yang semakin meningkat menyebabkan cairan pembuluh darah terbatasi untuk masuk ke mata. Keadaan yang demikian bahkan bisa membuat lensa mata berubah bentuk. Tetapi ciri yang demikian bisa hilang bila gula darah semakin berkurang dan normal. Dehidrasi jenis ini akan memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan berakhir pada kehilangan penglihatan total bila tidak dirawat dalam jangka waktu yang lama.

Pemulihan luka yang lama atau sering infeksi (Slow-healing wounds or Frequent infections)
Penderita diabetes karena kadar gula yang berlebih menyebabkan kekebalan tubuh dan sistem imun menjadi tidak normal. Bila seorang penderita diabetes memiliki luka terbuka, maka akan sangat susah untuk proses penyembuhannya. Luka yang butuh berminggu-minggu untuk pulih berpotensi terkena infeksi dan membutuhkan pengobatan medis.

Warna kulit gelap (akantosis nigrikans)
Penderita diabetes tipe 2 memiliki bercak gelap, kulit lembek dan lipatan di badannya. Kondisi ini bernama acanthosis nigricans. Biasanya bercak dan lipatan ini terdapat di daerah ketiak dan sekitar leher. Kondisi ini juga menandakan gangguan insulin.

Merasa Kesemutan atau Mati Rasa Akibat Syaraf Mulai Rusak
Gejala ini terjadi jika kadar gula dalam darah sudah cukup tinggi. Rasa kesemutan dan kebas (mati rasa) pada bagian tubuh seperti kaki, jari-jemari, dan tangan adalah tanda untuk waspada, karena bisa jadi penyakit diabetes sudah menunjukan gejala stadium lanjut. Hal ini terjadi akibat kerusakan pada serabut saraf.

Terjadi Infeksi Jamur Utamanya di Mulut
Seorang wanita penderita diabetes umumnya juga disertai dengan infeksi jamur. Jamur ini akan muncul di beberapa bagian mulut, biasanya dalam bentuk sariawan di mulut, juga infeksi pada bagian vagina, yang disebabkan oleh jamur candida.

Kulit terasa tebal

Badan terasa panas, sering nyeri seperti tertusuk jarum

Mudah mengantuk dan lelah (Tiredness)

Gairah seksual menurun drastis

Muntah dan nyeri lambung, seringkali diduga flu (Vomiting and stomach pain, often mistaken as the flu)

Nafas berbau buah (Fruity breath odor)

Mengompol waktu tidur (Bedwetting)

Kehilangan perhatian dan konsentrasi (Lack of interest and concentration)

Terdapat keton dalam urine

Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki

Mudah tersinggung

Disfungsi ereksi atau impotensi

Gatal-gatal

Mengalami hipoglikemia reaktif

yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan.

Jika penderita adalah ibu hamil, tak jarang terjadi keguguran atau janin mati dalam kandungan, atau jakapun bayi dilahirkan selamat, biasanya berat badannya akan besar melebihi 4 kg.

Jenis Pemeriksaan

Fungsi pemeriksaan laboratorium

Diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi spesifik akibat penyakit. Dengan demikian, perkembangan penyakit bisa dimonitor dan dapat mencegah komplikasi.
Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak.

Daftar istilah data laboratorium

Tes gula darah sewaktu. Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

Tes gula darah puasa.  Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes HbA1C (glycated haemoglobin test). Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.
Albumin glikat

Interpretasi data laboratorium

Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis dan pemantauan pengobatan diabetes melitus adalah kadar glukosa darah, HbA1c (hemoglobin glikat) dan yang terbaru albumin glikat. Untuk pemeriksaan penyaring (screening) terhadap diabetes melitus dapat dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa, 2 jam postprandial (setelahmakan) atau sewaktu, atau kadar HbA1c. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan yang sama dimana apabila sudah ada gejala dan tanda klinis maka cukup 1x kelainan tetapi apabila tiada tanda klinis maka perlu sediktnya 2 x kelainan. Apabila hasilnya masih meragukan maka dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam setelah pembebanan dengan minum larutan 75 gram glukosa.

Nilai normal atau rujukan beserta satuan
Berikut ini merupakan kriteria kadar gula normal dari hasil yang ditunjukkan oleh tes GDP:
Normal (tidak menderita diabetes) : di bawah 108 mg/dl
Prediabetes : 108-125 mg/dl
Diabetes : di atas 125 mg/dl

Pemeriksaan terhadap kadar gula dalam darah vena pada saat pasien puasa 12 jam sebelum pemeriksaan ( GDP/ gula darah puasa/ nuchter) atau 2 jam setelah makan ( post prandial).
Nilai normal:
Dewasa          : 70-110 mg/dl
Wholeblood   : 60-100 mg/dl
Bayi baru lahir : 30-80 mg/dl
Anak               : 60-100 mg/dl

Nilai normal kadar gula darah 2 jam setelah makan :
Dewasa           : < 140 mg/dl/2 jam
Wholeblood    : < 120 mg/dl/2 jam

Berikut ini merupakan kriteria kadar gula normal dari hasil yang ditunjukkan oleh tes GD2PP:
Normal (tidak menderita diabetes) : di bawah 140 mg/dl
Prediabetes : 140-199 mg/dl
Diabetes : 200 mg/dl atau lebih

Berikut ini merupakan kriteria kadar gula normal dari hasil yang ditunjukkan oleh tes GDS:
Normal (tidak menderita diabetes) : di bawah 200 mg/dl
Diabetes : di atas 200 mg/dl

Berikut ini merupakan kisaran normal kadar gula darah Anda di tiap waktunya.
Setelah tidak makan selama 8 jam (puasa): kurang dari 100 mg/dl
Sebelum makan: 70-130 mg/dl
Setelah makan (1-2 jam): kurang dari 180 mg/dl
Sebelum tidur : 100-140 mg/dl

Kriteria hasil tes HbA1c akan ditunjukkan seperti berikut ini:
Normal (tidak menderita diabetes) : di bawah 42 mmol/mol (6%)
Prediabetes : 42-47 mmol/mol (6-6,4%)
Diabetes : 48 mmol/mol (6,5%) atau lebih

Keadaan yang menyatakan adanya gangguan (jika nilainya melebihi batas normal apa maknanya? demikian sebaliknya, jika nilainya dibawah batas normal maka apa maknanya?

Hasil pemeriksaan berulang di atas nilai normal kemungkinan menderita Diabetes Melitus.
Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes.
Tingkat glukosa darah yang rendah disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran. Pada orang yang sudah sepuh, biasanya gula darah sewaktunya dijaga di bawah 200 mg/dl saja dan tidak lebih rendah, karena dikhawatirkan dapat terjadinya 'hipo'.

Faktor yang dapat mengganggu interpretasi data laboratorium

Kortikosteroid, Diuretika tiazida, meningkatkan hiperglikemia

Sulfonilurea dengan kloramphenikol, insulin, klofibrat, beta blokers ( meningkatkan resiko hipoglikemi ( atur waktu pemberian atau dosis pemberian bila diberikan pada waktu yang sama

Pemberian bersama OHO + insulin ( hipoglikemi

Daftar Pustaka :
https://www.alodokter.com/diabetes.html
https://lifestyle.kompas.com/read/2014/08/30/110437523/Waspadai.8.Gejala.Diabetes.Melitus
https://www.cermati.com/artikel/gejala-diabetes-ciri-ciri-diabetes-penyebab-diabetes-serta-penanganan-penyakit-diabetes-yang-perlu-kamu-tahu

Ketorolac

"Kenapa Ketorolac yang terkenal kuat justru tidak boleh digunakan terlalu lama?" Saat membahas obat nyeri, banyak orang beranggapa...