Thursday, December 25, 2025

Akankah kebahagiaan itu datang dan berdiri menjadi saksi atas kita? 
Atau justru luka dan sakit yang lebih dulu mengetuk pintu, 
Memastikan apa kita cukup siap untuk menemuinya?

Sunday, December 14, 2025

Kubaca buku itu kembali.
Melanjutkan cerita yang pernah kuusaikan sendiri.
Apa ini?
Bab yang seharusnya kubaca sejak dulu
Mengapa baru ini kutemukan?
Ah, sialnya kertas ini hampir robek
Meski masih bisa untukku baca hingga selesai

Friday, December 5, 2025

Ada cahaya yang tunbuh diam-diam
Saat tempat ini telah kupadamkan
Lantas haruskah aku membantunya menerangi gulita?
Bukan sebagai kilat yang mengejutkan tiba-tiba
Tapi sebagai matahari yang perlahan terbit
Tak mengetuk dan permisi
Tapi cukup menenangkan
Kubiarkan semesta bekerja
Menunjukkan wujud doa yang selalu kulangitkan
Dan membawa kebahagiaan yang tak pernah usai
Cinta tengah menata jalannya untuk menemukanku
Saat kuputuskan tak lagi bersembunyi
Kupastikan rasa ini akan saling bertemu
Aku berjanji menyambutnya
Dengan hati yang tak lagi ragu
Dan dengan jiwa yang telah utuh
Terkadang langkahku ragu
Namun hati bergegas menyiapkan ruang 
Untuk bahagia yang kuyakini mencari jalan pulang
Katanya ingin
Nyatanya tak memilih
Haruskah lamanya waktu yang menjadi jawabannya?

Wednesday, December 3, 2025

Teruntuk nalar
Dimana kamu
Dimana saat aku tengah berada dalam kebahagiaan yang seharusnya bukan aku sebagai pemiliknya
Langit,
Bagaimana caranya berteriak tanpa bersuara
Sedang asa-ku berharap pecah menguap agar sampai mengudara
Tangisku pecah
Saat ku tahu tujuan tak lagi satu
Saat harap tak lagi bersapa
Saat doa yang kulangitkan tak lagi di-amini bersama
Sebegitu sendirinya kah diri ini?
Tuhan,
Kenapa aku?
Kenapa harus aku?
Tak bolehkah aku menjadi si pemilik bahagia itu?
Rasanya tak adil
Saat aku menjadikannya tujuan
Sementara ia hanya menjadikanku persinggahan yang tak berkesudahan
Kau bertanya
Hanya agar seolah terlihat peduli
Nyatanya kau tak butuh jawaban atas itu

Tolong sampaikan padanya, "Semoga dinginnya malam ini sempat untuk menyampaikan rinduku yang kian menebal,  Lalu menetap sebagai kabut ...